Selasa, 13/01/2026, 10:43:40
Kontribusi Permainan Tradisional terhadap Pembentukan Karakter Peserta Didik
OLEH: AYESYA PUTRI HANINDA
.

PERMAINAN tradisional merupakan salah satu bentuk aktivitas bermain yang diwariskan secara turun-temurun dan memiliki nilai budaya, sosial, serta edukatif. Aktivitas ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan bagi anak-anak.

Melalui permainan, anak memperoleh pengalaman belajar tanpa tekanan, karena prosesnya berlangsung secara alami dan penuh kegembiraan. Hal ini sejalan dengan pendapat Thompson (dalam Sridadi, 2009, hlm. 47) yang menyatakan bahwa bermain memberikan kesempatan kepada anak untuk mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Secara umum, permainan dapat dipahami sebagai aktivitas fisik maupun mental yang dilakukan berdasarkan aturan tertentu dengan tujuan utama memperoleh kesenangan. Permainan biasanya dilakukan untuk mengisi waktu luang sekaligus memberikan rasa bahagia bagi pelakunya.

Dalam konteks permainan tradisional, kegiatan ini juga berperan penting dalam membentuk karakter anak, seperti kerja sama, sportivitas, kejujuran, dan tanggung jawab, yang muncul melalui interaksi sosial selama permainan berlangsung.

Tradisional merujuk pada pola tindakan maupun cara berpikir yang berkembang pada masa lampau dan umumnya berkaitan dengan adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun. Nilai-nilai tradisional ini tumbuh dan bertahan karena terus dipraktikkan dari generasi ke generasi.

Dalam konteks permainan, permainan tradisional dapat dimaknai sebagai bentuk aktivitas bermain yang diwariskan secara turun-temurun dan telah dikenal sejak zaman dahulu. Permainan ini memiliki beragam fungsi serta aturan yang menjadi bagian dari proses interaksi sosial dan pembelajaran, sekaligus mencerminkan nilai budaya masyarakat tempat permainan tersebut berkembang.

Dharmamulja (1992, hlm. 23) menjelaskan bahwa permainan tradisional merupakan produk budaya yang memiliki nilai penting bagi perkembangan anak. Melalui permainan tersebut, anak-anak dapat menyalurkan imajinasi, melakukan aktivitas rekreasi, berkreasi, serta berolahraga.

Lebih dari itu, permainan tradisional juga menjadi media pembelajaran sosial yang melatih anak untuk hidup bermasyarakat, mengasah keterampilan, menanamkan sikap sopan santun, serta meningkatkan ketangkasan.

Sementara itu, pendidikan karakter dapat dipahami sebagai serangkaian usaha yang dilakukan secara sadar untuk menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai positif dalam diri peserta didik. Ahmad D. Marimba memandang pendidikan sebagai proses bimbingan yang terencana dan berkesinambungan oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak, dengan tujuan membentuk pribadi yang berkarakter kuat dan bermoral.

Sejalan dengan hal tersebut, Sahroni dan Dapip (2017) mengutip Pusat Bahasa Depdiknas yang mendefinisikan karakter sebagai keseluruhan sifat dan kepribadian yang melekat pada individu, mencakup aspek bawaan, hati, jiwa, budi pekerti, perilaku, tabiat, temperamen, serta watak yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Istilah berkarakter merujuk pada individu yang memiliki kepribadian, perilaku, sifat, tabiat, dan watak yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, pendidikan dalam pengertian sederhana dapat dipahami sebagai upaya manusia untuk membentuk dan mengembangkan kepribadian agar selaras dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat dan kebudayaan.

Permainan tradisional tidak sekadar menghadirkan kesenangan bagi anak-anak. Aktivitas ini juga menyimpan beragam manfaat penting, seperti mengasah kemampuan motorik, meningkatkan daya pikir, serta memperkuat keterampilan sosial. Lebih dari itu, permainan tradisional berperan signifikan dalam proses pembentukan karakter anak melalui pengalaman langsung yang mereka alami saat bermain.

Melalui permainan tersebut, anak belajar bekerja sama dengan teman sebaya, berkomunikasi, serta mencari jalan keluar dari berbagai tantangan yang muncul selama permainan berlangsung. Proses inilah yang secara tidak langsung menanamkan nilai-nilai karakter positif sejak usia dini.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita