Minggu, 11/01/2026, 23:26:23
Setahun Kanca Tegal: Merawat Nalar Di Tepi Jalan, Membuka Lapak Baca
OLEH: ABDULLAH AZZAM AL MUJAHID
.

TANGGAL 11 Januari 2026, tepat satu tahun yang lalu, sekumpulan pemuda Tegal mendobrak keheningan malam di pusat kota, dengan membangun sebuah lapak baca. Sebuah dobrakan yang tidak hanya aktivitas memajang buku di atas tikar, tetapi juga menyemai kesadaran kritik masyarakat sekitar.

Kanca Tegal (Kawan Baca Tegal) adalah nama dari lapak baca ini. Bagi mereka, literasi bukan sekadar hobi, melainkan alat perjuangan. ”Kanca Tegal bukan sebuah komunitas, tapi ruang untuk tumbuh bersama. Tidak ada ketua di sini. Kita semua setara,” tegas Irfan Maulana, salah satu penggerak, yang emoh disebut ketua, Sabtu 10/01/2026 malam.

-Ruang Tanpa Tembok

Awalnya, saya sempat mengira, Kanca Tegal adalah sebuah komunitas hobi baca buku biasa. Namun rupanya, ini tampak seperti sebuah ruang cair di mana masyarakat bersama-sama menyemai kesadaran. Di sini, saya menemukan sesuatu yang tidak ada di bangku pendidikan.

Di atas terpal, buruh, mahasiswa, pedagang, dan pengamen jalanan yang merdeka, bersama-sama saling bertukar cerita tentang pengalamannya tanpa ada sekat. Tanpa ada pertanyaan, “siapa kamu?”,  atau “dari mana asalmu”. Inilah keunikannya. Di tengah menjamurnya gerakan literasi formal yang kaku, Kanca Tegal seolah menawarkan oase intelektual yang egaliter di ruang publik.

-Memecah Keheningan Kota

Sejauh yang saya ketahui, sebelum ada Kanca Tegal, baik di wilayah kota maupun kabupaten, keheningan intelektual selalu menyelimuti sepanjang jalan. Tidak ada perkumpulan yang memajukan pikiran, yang ada hanya deru bising knalpot motor berseliweran di sepanjang jalan dan tongkrongan remaja yang sekadar membicarakan asmara di bibir ruko yang tutup.

Memang, pada awal tahun 2020-an, sempat muncul beberapa gerakan lapak baca serupa. Salah satunya di Alun-alun Hanggawana Slawi. Namun sayangnya, gerakan lapak baca itu mulai meredup dan hilang tahun 2024. Kehadiran Kanca Tegal seolah menyambung napas yang sempat putus tersebut, membawa secercah harapan anyar bagi denyut nadi kehidupan literasi jalanan.

-Merajut Harapan

Kanca Tegal bukanlah sebuah ruang literasi yang kaku dan penuh intimidasi pertanyaan eksistensial. Di ruang ini, tidak ada yang membatasi waktu membaca dan tema apa yang hendak diobrolkan. Atau dengan kata lain, semua orang berdaulat atas pikirannya; semua orang wajib menjadi diri sendiri tanpa mesti takut dihakimi.

Harapan saya kedepannya, ruang-ruang pencerdasan seperti Kanca Tegal bisa tumbuh menjamur di setiap sudut-sudut terpencil kota Tegal. Kita tak perlu menunggu restu atau inisiatif dari negara untuk memulainya. Kita harus berani merebut inisiatif untuk mencerdaskan dirinya sendiri tanpa harus terus-menerus bergantung pada mereka yang duduk di gedung-gedung pemerintahan.

Dengan tumbuhnya ruang-ruang pemberdayaan pikiran seperti Kanca Tegal di setiap sudut kota, kesadaran kritis masyarakat akan terbentuk secara organik. Kita tidak akan lagi mudah dibodohi atau sekadar menjadi barang dagangan politik demi kursi jabatan. Oleh karena itu, marilah kita mulai membangun ruang-ruang merdeka di sepanjang jalanan Tegal!

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita