MAHASISWA Program Studi PGSD Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, melakukan observasi dan wawancara berlangsung di Desa Papringan, Kecamatan Banyumas, pada 24 Desember 2025, dengan fokus pada penggalian informasi mengenai tradisi Batik Tulis Pringmas yang masih dipertahankan oleh masyarakat setempat.
Desa Papringan menjadi saksi hidup pelestarian budaya melalui Batik Tulis Pringmas. Kegiatan membatik di desa ini tidak sekadar menghasilkan kain, tetapi juga menyimpan tradisi, kearifan lokal, dan nilai budaya yang penting bagi generasi muda. Observasi dan wawancara dengan Ibu Iin Susiningsih, Ketua KUB Pringmas, mengungkap sisi menarik di balik proses pembuatan batik tulis yang jarang diketahui masyarakat luas.
“Batik tulis bukan hanya produk jadi, tetapi bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat kami. Setiap motif memiliki makna dan filosofi yang diwariskan secara turun-temurun,” ujar Ibu Iin.
Batik Tulis Pringmas dikenal dengan tiga motif khas: Pring Sedapur, Serayuan, dan Lumbon. Motif Pring Sedapur terinspirasi dari pohon bambu yang tumbuh di sekitar desa, melambangkan kebermanfaatan bagi masyarakat. Motif Serayuan mengambil nama dari Sungai Serayu, sumber kehidupan bagi warga, sementara Lumbon merepresentasikan tanaman talas, salah satu bahan makanan khas Banyumas.
Proses pembuatan Batik Tulis Pringmas dilakukan secara manual menggunakan canting dan malam (lilin batik). Tahapannya meliputi persiapan kain, pembuatan pola, mencanting, pewarnaan, pelorodan, pencucian, penjemuran, hingga finishing. Setiap tahap membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan ketekunan, sekaligus menjadi sarana pembelajaran keterampilan tradisional bagi generasi muda.
Kegiatan membatik di Desa Papringan juga diterapkan melalui pendekatan Project Based Learning. Peserta, terutama generasi muda, terlibat langsung dalam setiap tahapan pembuatan batik, mulai dari observasi hingga praktik membatik. Melalui metode ini, mereka tidak hanya memahami proses, tetapi juga menghargai nilai budaya dan filosofi yang terkandung dalam setiap motif.
“Dengan mengenal Batik Tulis Pringmas, generasi muda dapat memahami budaya lokal, sekaligus menumbuhkan rasa bangga dan kepedulian terhadap warisan budaya kita,” jelas Ibu Iin.
Selain itu, pembelajaran batik tulis sejalan dengan hasil penelitian Purwastuti (2022) yang menunjukkan bahwa batik dapat menjadi media pembelajaran efektif untuk melestarikan nilai kearifan lokal, meningkatkan kreativitas, dan menumbuhkan apresiasi terhadap sejarah serta identitas budaya. Hal ini memperkuat argumen bahwa kegiatan membatik tidak hanya seni, tetapi juga sarana pendidikan yang bermakna.
Sejak berdiri pada 2014, Batik Pringmas terus berkembang. Produk batik ini telah dipamerkan di berbagai kota, termasuk Jakarta, dan pernah tampil pada expo di Mumbai tahun 2017. Untuk memperluas jangkauan pemasaran, Batik Pringmas memanfaatkan platform digital seperti Shopee, Instagram, dan WhatsApp, serta bergabung dengan Dekranasda Jawa Tengah untuk memperkuat koordinasi dan promosi.
Manfaat Batik Tulis Pringmas tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sosial dan pendidikan. Selain meningkatkan pendapatan keluarga pengrajin, kegiatan ini memperkuat kerja sama anggota KUB, melatih keterampilan manual, serta memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda.
Dengan berbagai upaya pelestarian dan pengembangan, Batik Tulis Pringmas Banyumas tetap menjadi identitas lokal yang bernilai dan relevan. Kegiatan membatik tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga memberikan pengalaman belajar langsung, meningkatkan kreativitas generasi muda, dan membuka peluang ekonomi kreatif.
Hal ini membuktikan bahwa warisan budaya dapat hidup, berkembang, dan terus memberikan manfaat bagi masyarakatnya.
(Sumber: Hosnan. (2014). Pendekatan saintifik dan kontekstual dalam pembelajaran abad ke-21. Bogor: Ghalia Indonesia. -Purwastuti, L. A. (2022). Batik as a craft teaching‑learning medium to preserve values of local wisdom in elementary schools in Bantul, Indonesia. Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum, 22(2), 91–98. -Murtadlo Ali & Aqib Zainal. (2022). Ensiklopedia Metode Pembelajaran Inovatif dengan 61 metode. Yogyakarta: Pustaka Referensi)