PENELITIAN ini dilaksanakan oleh Iba Nursabaniah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Penelitian dilaksanakan di Desa Sawangan Mungguhan, Kecamatan ajibarang, Kabupaten Banyumas pada Sabtu, 27 Desember 2025, dengan fokus pada observasi dan penggalian informasi mengenai pengolahan gula merah yang masih di pertahankan sampe sekarang
Gula merah merupakan salah satu hasil olahan tradisional yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk di Desa Sawangan Mungguan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas.
Di desa ini, pengolahan gula merah masih dilakukan secara tradisional dan diwariskan secara turun-temurun. Salah satu pelaku yang masih mempertahankan proses tersebut adalah Mbah Ribut, yang hingga kini setia mengolah gula merah dengan cara sederhana namun sarat nilai budaya.
Ide penulisan artikel ini berawal dari kegiatan observasi dan wawancara langsung di lapangan. Proses pembuatan gula merah ternyata tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menyimpan nilai kearifan lokal, pengetahuan tradisional, serta menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat. Pengolahan gula merah di Ajibarang menunjukkan bagaimana manusia memanfaatkan alam secara bijak dengan tetap menjaga tradisi.
Gula merah dibuat dari nira yang berasal dari pohon kelapa atau aren. Prosesnya dimulai dari penyadapan nira yang dilakukan secara hati-hati agar kualitasnya tetap baik. Nira kemudian disaring untuk menghilangkan kotoran, lalu dimasak menggunakan wajan besar di atas tungku tradisional.
Selama proses pemasakan, nira terus diaduk hingga mengental dan berubah warna menjadi cokelat keemasan. Setelah mencapai kekentalan tertentu, cairan gula dituangkan ke dalam cetakan yang biasanya terbuat dari bambu atau batok kelapa, kemudian dibiarkan dingin hingga mengeras dan siap dipasarkan.
Sejarah gula merah di Ajibarang tidak terlepas dari keberadaan pohon kelapa yang tumbuh subur di wilayah tersebut. Awalnya, gula merah dibuat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, terutama sebagai bahan masakan dan jajanan tradisional. Seiring berjalannya waktu, keterampilan ini berkembang menjadi mata pencaharian yang membantu perekonomian keluarga. Hingga kini, gula merah Ajibarang tetap diminati karena cita rasanya yang khas dan proses pembuatannya yang alami.
Selain memiliki nilai ekonomi, gula merah juga memiliki manfaat budaya dan pendidikan. Dari sisi ekonomi, penjualan gula merah dapat menambah pendapatan keluarga dan membuka peluang usaha rumahan.
Dari sisi budaya, kegiatan ini melestarikan tradisi lokal dan menumbuhkan rasa bangga terhadap hasil produksi desa. Sementara itu, dari sisi pendidikan, proses pembuatan gula merah melatih ketekunan, kesabaran, serta keterampilan kerja tradisional yang bernilai tinggi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Mbah Ribut, pengolahan gula merah telah dilakukan selama puluhan tahun dengan peralatan sederhana. Tantangan utama yang dihadapi adalah kondisi cuaca, terutama saat musim hujan, karena dapat memengaruhi kualitas gula yang dihasilkan.
Dalam satu hari, produksi gula merah bisa mencapai sekitar 8 kilogram jika cuaca mendukung. Untuk menjaga kualitas, pembuat gula memperhatikan rasa, bentuk, dan kebersihan produk
Menurut Jhon Dewey pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengalami sendiri apa yang dipelajari. Belajar tidak hanya melalui ceramah, tetapi melalui kegiatan nyata yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Guru berperan sebagai pembimbing yang mengarahkan, memberi kesempatan bertanya, mencoba, dan menemukan makna dari setiap kegiatan.
Dalam kegiatan pengolahan, pemikiran John Dewey terlihat jelas. Peserta didik tidak hanya membaca tentang anyaman, tetapi terlibat dalam proses mengamati, mewawancarai, mencatat, dan menyusun laporan. Dari pengalaman langsung tersebut, mereka belajar berpikir, bersikap, dan bekerja secara sistematis.
Dengan pendekatan ini, pembelajaran tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada prosesnya. Peserta didik memahami bahwa pengolahan gula merah bukan sekadar untuk untuk bahan pangan melainkan tradisi dan pengetahuan masyarakat yang perlu dijaga dan dilestarikan. (Jome, 2023).
Kegiatan observasi pengolahan gula merah juga relevan diterapkan sebagai pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning). Melalui metode ini, peserta didik dapat belajar langsung dari lingkungan sekitar dengan mengamati, bertanya, mencatat, dan menyusun laporan.
Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena peserta didik mengalami sendiri proses yang dipelajari, sejalan dengan teori progresivisme John Dewey yang menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam belajar.
Dengan demikian, pengolahan gula merah di Desa Sawangan Mungguan bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga warisan budaya yang memiliki nilai pendidikan, sosial, dan lingkungan. Tradisi ini perlu dijaga dan dilestarikan agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman, sekaligus menjadi sarana pembelajaran yang kontekstual bagi generasi muda.
(Sumber: Jome, I. (2023). Analisis pelaksanaan teori progresivisme John Dewey dalam pembelajaran pendidikan agama Kristen. Jurnal Pendidikan dan Keguruan, 1(6), 529–540)