...proses anyaman tikar pandan membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi...
MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 44 Universitas Peradaban (UP) Bumiayu, Kabupaten Brebes, yang bertugas di Desa Pesahangan, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap, observasi langsung mengenai proses pembuatan kerajinan tikar dari daun pandan, untuk memahami lebih dalam mengenai kearifan lokal serta membantu mengembangkan potensi ekonomi masyarakat.
Kegiatan observasi ini dilakukan di salah satu rumah pengrajin tikar pandan yang telah berpengalaman bertahun-tahun dalam mengolah bahan alami menjadi produk bernilai jual tinggi. Para mahasiswa KKN disambut dengan hangat oleh para pengrajin yang dengan senang hati membagikan ilmu dan keterampilan mereka.
Proses pembuatan tikar pandan diawali dengan pemilihan daun pandan yang sudah cukup tua agar menghasilkan tikar yang kuat dan tahan lama. Setelah itu, daun pandan dikupas dari durinya, dilanjutkan dengan perebusan dan perendaman, selanjutnya daun pandan dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa hari hingga kering. Setelah kering, daun-daun tersebut kemudian dihaluskan dan dianyam sesuai dengan pola yang diinginkan.
Menurut salah satu pengrajin, proses anyaman tikar pandan membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi agar hasilnya rapi dan berkualitas. Beberapa hasil karya tikar pandan yang bagus dan rapi akan mempengaruhi kepuasan konsumen, jadi pengrajin harus benar-benar.
Selain itu pengrajin juga sempat mengeluhkan harga pasaran tikar pandan yang semakin kesini semakin menurun. Harapan kami mengenai harga penjualan bisa naik seperti dulu ditahun 2021, dalam perawatan kebun saja kebutuhannya sudah naik, jadi sepantasnya harga penjualan juga naik,“ ujar (pengarajin tikar).
Ketua Kelompok 44, Yahdi Urfan menyatakan bahwa kegiatan observasi ini memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam mengenal lebih dekat budaya, serta industri rumahan yang berkembang di desa tersebut.
"Kami sangat mengapresiasi keterbukaan para pengrajin dalam berbagi ilmu. Kami berharap dapat membantu mempromosikan produk ini agar lebih dikenal luas lagi," ujar Yahdi Urfan.
Selain melakukan observasi, mahasiswa KKN Kelompok 44 juga berencana untuk membantu pemasaran produk tikar pandan, melalui media sosial dan platform digital guna meningkatkan jangkauan pasar. Langkah ini diharapkan dapat membantu pengrajin dalam meningkatkan pendapatan serta melestarikan warisan budaya lokal.
Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, terhadap pentingnya menjaga dan mengembangkan warisan budaya semakin meningkat. Kerajinan tikar pandan bukan hanya sekadar produk fungsional, tetapi juga cerminan dari kearifan lokal yang patut untuk dilestarikan.