PanturaNews (Brebes) - Kegiatan lomba panjat pinang yang biasanya menjadi salah satu puncak kemeriahan perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) berubah menjadi duka bagi warga Desa Terlaya, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes.
Mulyono (43), seorang warga RT 02/01 Dukuh Cikuning Desa Terlaya, meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan saat mengikuti lomba tersebut.
Peristiwa tragis ini terjadi pada Jumat 16 Agustus 2024, sekitar pukul 16.30 WIB di pedukuhan setempat.
Mulyono bersama tujuh peserta lainnya ikut dalam lomba panjat pinang yang dilaksanakan secara spontan oleh warga. Panjat pinang dengan ketinggian sekitar 6 meter itu tidak memiliki panitia resmi, melainkan diorganisir secara spontan oleh masyarakat.
Menurut keterangan yang dihimpun, saat menaiki pinang, Mulyono berada di posisi kedua dari bawah, dengan seorang peserta lainnya memanjat di pundaknya.
Namun, diduga karena beban yang terlalu berat, posisi tumpuan tidak stabil, sehingga seluruh peserta terjatuh. Mulyono mengalami cedera parah setelah jatuh dari ketinggian sekitar 1,5 meter dan tertimpa peserta lain.
Setelah kejadian, Mulyono segera dibawa ke tukang urut/pijat oleh warga, namun karena kondisinya cukup serius, tukang pijat menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit.
Mulyono akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Alam Medica Bumiayu sekitar pukul 19.00 WIB. Sayangnya, pada Sabtu 17 Agustus 2024, sekitar pukul 13.00 WIB, Mulyono dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit.
Kapolsek Bantarkawung, AKP Lukas Subekti, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima laporan dari Kepala Desa Terlaya, Ujang Muhaemin, pada pukul 14.30 WIB. Setelah menerima laporan, pihak kepolisian langsung mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk melakukan penyelidikan.
"Kami mendapatkan laporan dari warga dan langsung menuju TKP. Musibah ini terjadi karena tumpuan peserta yang berada di bawah tidak kuat menahan beban, sehingga seluruh peserta terjatuh, dan korban tertimpa peserta lainnya," ujar AKP Lukas Subekti.
Pihak keluarga Mulyono telah menerima kejadian ini sebagai musibah dan memutuskan untuk tidak dilakukan otopsi, dengan membuat pernyataan resmi di atas materai. Jenazah Mulyono langsung dibawa pulang ke rumah duka pada Sabtu siang dan dimakamkan sesuai dengan adat setempat.