Senin, 15/01/2024, 13:33:45
Pendidikan Yang Membebaskan
Oleh: Yuga Muhammad Al Fanni & Ahmad Rifai
--None--

TINDAK kekejaman selalu dimulai oleh mereka yang menindas, yang memeras, yang diperas, dan yang tidak diakui itu, bukan orang yang tidak dicintai yang melahirkan perasaan tidak senang, tetapi mereka yang tidak dapat mencintai sesamanya dan hanya mencintai dirinya sendiri.

Bukan orang yang tidak berdaya, korban teror, yang memulai terror, tetapi si kejam, yang dengan kekuasaannya menciptakan situasi konkret yang melahirkan “orang-orang yang terhempas dari kehidupan”. Kekuasaan dimanfaatkan bukan oleh mereka yang lemah di bawah tekanan berat dari pihak yang kuat, tetapi oleh si kuat yang mengebiri si lemah.

Pendidikan Kaum Tertindas dijiwai oleh kedermawanan sejati, kemurahan hati Humanis (bukan humanitarian) menampilkan diri sebagai sebuah Pendidikan bagi seluruh Umat Manusia. Pendidikan yang dimulai dengan kepentingan egoistis kaum penindas dan menjadikan kaum tertindas sebagai obyek humanitarianisme mereka, justru mempertahankan dan menjelmakan penindasan itu sendiri.

Pendidikan Kaum Tertindas, sebagai Pendidikan para Humanis dan pembebas, terdiri dari dua tahap ; tahap pertama kaum tertindas membuka tabir dunia penindasan dan melalui praksis melibatkan diri untuk mengadakan perubahan, tahap kedua dimana realitas penindasan itu sudah berubah, Pendidikan untuk seluruh manusia dalam proses mencapai kebebasan yang langgeng.

Dalam kedua tahap ini dibutuhkan gerakan yang mendasar agar kultur dominasi dapat dilawan secara kultural pula. Pada tahap pertama, maka perlawanan itu terjadi dalam hal kaum tertindas menyadari akan adanya dunia penindasan; dan pada tahap kedua, dengan memberantas habis mitos-mitos yang diciptakan dan dikembangkan di masa lalu, yang bagaikan hantu-hantu yang menghantui bangunan baru yang muncul dari perubahan revolusioner.

Pada tahap pertama ini, harus membahas masalah kesadaran kaum tertindas dan kaum penindas, yakni masalah manusa yang menindas dan manusia yang menderita penindasan itu.

Kaum penindas sudah tentu selalu menuduh kaum tertindas (yang barang tentu tidak pernah mereka sebut “Kaum Tertindas”, tetapi mereka orang-orang senegara atau bukan “Kaum Jelata” atau liar atau pribumi atau kaum pemberontak) sebagai yang tidak puas, yang “kejam, biadab, jahat, atau buas” jika mereka menantang kekejaman para penindasnya.

Disadari atau tidak bahwa pemberontakan kaum tertindas (suatu gerakan yang selalu, atau hamper selalu sama kejamnya dengan kekejaman awal kaum penindas) justru dapat menumbuhkan rasa cinta kasih. Sementara tindak kekejaman kaum penindas mencegah kaum tertindas mencapai keberadaan sebagai manusia seutuhnya, reaksi kaum tertindas terhadap kekejaman itu justru dilandaskan pada keinginan untuk menuntut hak menjadi Manusiawi.

Hanya kaum tertindaslah yang dengan membebaskan diri sendiri, dapat membebaskan kaum penindasnya, mereka disebut terakhir ini sebagai suatu kelas yang menindas, tidak dapat membebaskan orang lain atau dirinya sendiri karena itu sangat esensial bagi kaum tertindas untuk melakukan perjuangan mengatasi kontradiksi dimana mereka terjerat didalamnya.

Kontradiksi ini akan teratasi oleh tampilnya manusia-manusia baru yang bukan kaum penindas atau tertindas dalam proses mencapai kebebasan, jika tujuan kaum tertindas adalah menjadi manusia seutuhnya mereka tidak akan mencapainya dengan hanya membalik posisi kontradiksi itu, dengan sekedar menukar letak kutub-kutubnya.

Sesungguhnya kepentingan kaum penindas adalah “mengubah kesadaran kaum tertindas, bukan situasiyang menindas mereka” (Simone de Beauvoir dalam La Pensee de Droite Aujourd’hu). Karena dengan lebih mudahnya kaum tertindas dapat diarahkan untuk menyesuaikan diri dengan situasi itu, maka akan lebih mudahlah mereka dapat dikuasai.

Kaum tertindas dianggap sebagai penyakit di tengah Masyarakat sehat, yang karena itu harus mengubah orang-orang “bodoh dan malas” ini agar sesuai dengan pola-polanya dengan cara mengubah mentalitas mereka.

Orang-orang pinggiran itu perlu diintegrasikan atau digabungkan ke dalam masyarakat sehat yang telah mereka tinggalkan, tetapi yang benar adalah sebaliknya, bahwa kaum tertindas bukanlah kaum pinggiran, bukan orang-orang yang hidup di luar lingkungan masyarakat. Mereka selalu menjadi bagian dari Masyarakat.

Usaha perubahan semacam itu tentu akan merongrong tujuan penindas; dan karena itu mereka menggunakan konsep Pendidikan gaya bank untuk mencegah ancaman akibat adanya penyadaran diri dikalangan murid-murid.

Pendekatan gaya bank dalam pendidikan dewasa misalnya, tidak akan pernah menyarankan kepada peserta didik agar mereka melihat realitas secara kritis, Pendidikan gaya bank tidak mempersoalkan pertanyaan-pertanyaan penting, seperti apakah Si Udin telah memberikan rumput hijau kepada kambingnya, tetapi sebaliknya menekankan pada pentingnya Si Udin telah memberikan rumput hijau kepada kelincinya.

“Humanisme” dari pendekatan gaya bank menutupi suatu usaha untuk menjadikan manusia sebagai benda terkendali (automaton), suatu penolakan terhadap fitrah ontologis mereka untuk menjadi manusia seutuhnya.

Termasuk dalam konsep pendidikan gaya bank adalah anggapan akan adanya dikotomi antara manusia dengan dunia. Manusia semata-mata ada di dalam dunia, bukan bersama dunia atau orang lain; manusia adalah penonton, bukan pencipta. Dalam pandangan ini manusia bukanlah makhluk yang berkesadaran (corpo consciente); dia lebih merupakan pemilik sebuah kesadaran; suatu jiwa yang kosong yang secara pasif terbuka untuk menerima apa saja yang disodorkan oleh realitas dunia luar.

Pandangan ini tidak membedakan antara dapat disadari dengan memasuki kesadaran. Perbedaannya, betapa pun, mendasar sekali: benda-benda yang mengitari saya semata-mata hanya dapat disadari, bukan terdapat didalam kesadaran itu. Saya menyadari benda-benda tersebut, tetapi benda benda tersebut tidak berada didalam diri saya.

Pendidikan sebagai bentuk pengekangan mendorong lahirnya sikap membeo di kalangan para murid, dengan penekanan ideologis (yang sering kali tidak disadari oleh para pendidik) yang mengindoktrinasi mereka agar menyesuaikan diri dengan situasi penindasan.

Tujuannya adalah untuk menarik perhatian para humanis sejati pada fakta bahwa mereka tidak dapat menggunakan metode-metode pendidikan gaya bank untuk mencapai kebebasan, karena metode itu hanya akan mengingkari usaha tersebut.

Begitu juga suatu Masyarakat revolusioner, jangan mewarisi metode-metode tersebut dari Masyarakat penindas sebelumnya. Masyarakat revolusioner yang menerapkan Pendidikan gaya bank berarti salah arah atau mencurigai sesama manusia. Kedua hal tersebut senantiasa dan akan selalu terancam oleh reaksi masyarakat.

Hal yang penting dari sudut pandang pendidikan yang membebaskan, adalah agar manusia merasa sebagai tuan bagi pemikirannya sendiri dengan berdiskusi mengenai pemikiran dan pandangan tentang dunia yang secara jelas atau tersamar terungkap di dalam tanggapan-tanggapan mereka sendiri dan kawan-kawannya.

Oleh karena pandangan terhadap pendidikan ini bertolak belakang dari keyakinan bahwa dia tidak dapat menyajikan programnya sendiri, tetapi harus menyusun program ini  secara dialogis dengan masyarakat, maka dia berperanan untuk memperkenalkan Pendidikan bagi kaum tertindas yang dalam perkembangannya (kaum tertindas) harus mengambil bagian dan hak yang sama dengan manusia pada umumnya.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita