Rabu, 20/05/2026, 21:17:52
Implementasi Kurikulum Merdeka Dalam Proses Belajar Mengajar
OLEH: ANIS DWI MARSHELLA
.

KURIKULUM merupakan bagian penting dalam dunia pendidikan karena menjadi pedoman dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Seiring perkembangan zaman, kurikulum di Indonesia terus mengalami perubahan agar mampu menyesuaikan kebutuhan peserta didik dan perkembangan masyarakat.

Perubahan kurikulum dilakukan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, inovatif, dan sesuai dengan tantangan abad ke-21. Salah satu bentuk pembaruan tersebut adalah hadirnya Kurikulum Merdeka yang mulai diterapkan secara bertahap sejak tahun 2022 (Yunita dkk., 2023).

Kurikulum Merdeka hadir sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan setelah terjadinya penurunan pembelajaran pada masa pandemi. Kurikulum ini menekankan pembelajaran yang fleksibel dan berpusat pada peserta didik.

Dalam pelaksanaannya, siswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi, minat, dan bakat sesuai kemampuan masing-masing. Selain itu, guru juga diberikan kebebasan untuk menentukan metode dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa di kelas (Susilowati, 2022).

Penerapan Kurikulum Merdeka membawa perubahan pada proses belajar mengajar di sekolah. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar, melainkan berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa aktif mencari dan memahami materi pembelajaran.

Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka lebih menekankan pada pemahaman konsep, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta pengembangan karakter peserta didik. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan tidak hanya berfokus pada hafalan materi (Tangkearung dkk., 2023).

Pada tahun 2025, pemerintah kembali memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka melalui kebijakan pendidikan terbaru. Kebijakan tersebut menekankan pentingnya pembelajaran mendalam (deep learning), penguatan literasi dan numerasi, serta pemanfaatan teknologi digital dalam kegiatan pembelajaran.

Guru juga didorong untuk menggunakan berbagai media pembelajaran digital agar siswa lebih aktif dan mudah memahami materi. Selain itu, pemerintah terus mengembangkan Platform Merdeka Mengajar sebagai sarana pendukung guru dalam memperoleh referensi pembelajaran dan pelatihan secara mandiri (Mustapa dkk., 2025).

Salah satu ciri utama Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran berdiferensiasi. Pendekatan ini dilakukan dengan menyesuaikan pembelajaran berdasarkan kebutuhan, kemampuan, dan karakteristik siswa. Melalui pembelajaran berdiferensiasi, siswa dapat belajar sesuai tingkat pemahaman masing-masing sehingga proses belajar menjadi lebih efektif (Mustapa dkk., 2025).

Selain itu, Kurikulum Merdeka juga menerapkan pembelajaran berbasis proyek melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Kegiatan proyek tersebut bertujuan melatih kerja sama, kreativitas, komunikasi, dan kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Walaupun memiliki banyak kelebihan, implementasi Kurikulum Merdeka masih menghadapi beberapa kendala. Salah satu hambatan utama adalah kesiapan guru dalam memahami dan menerapkan konsep Kurikulum Merdeka secara menyeluruh.

Tidak semua guru mampu menyusun modul ajar dan melakukan asesmen pembelajaran dengan baik karena sistem pembelajaran pada kurikulum ini berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Selain itu, pelatihan yang sebagian besar dilakukan secara daring membuat sebagian guru masih mengalami kesulitan dalam memahami praktik penerapannya di kelas.

Kendala lainnya adalah keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan, terutama di daerah terpencil. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran belum dapat berjalan optimal karena kurangnya akses internet dan fasilitas pendukung. Kondisi tersebut menyebabkan implementasi Kurikulum Merdeka belum berjalan secara merata di seluruh sekolah di Indonesia (Mayangsari dkk., 2024).

Oleh karena itu, diperlukan dukungan pemerintah berupa penyediaan fasilitas pendidikan, pelatihan guru secara berkelanjutan, dan pendampingan sekolah agar pelaksanaan Kurikulum Merdeka dapat berjalan lebih maksimal (Yunita dkk., 2023).

Secara keseluruhan, implementasi Kurikulum Merdeka memberikan dampak positif terhadap proses belajar mengajar di Indonesia. Pembelajaran menjadi lebih fleksibel, aktif, dan berpusat pada siswa.

Melalui pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran berbasis proyek, serta pemanfaatan teknologi, siswa diharapkan mampu mengembangkan kompetensi dan karakter yang sesuai dengan kebutuhan masa depan. Dengan dukungan semua pihak, Kurikulum Merdeka diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia menjadi lebih baik.

(Daftar Pustaka: Yunita., Zainuri, A., Ibrahim., Zulfi, A., & Mulyadi. (2023). -Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar. Jambura Journal  of Educational Management. -Susilowati,  E.  (2022).  Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam. Al-Miskawaih: Journal   of   Science   Education, 1(1), 115–132. -Tangkearung, S, S., Tulak, T., & Patintingan, M, L. (2023). Analsis Implementasi Kurkulum  Mereka di Sekolah Dasar.

Mustapa, A., Ramadhani, K., Dewi, L, P., Oktarina, N., & Widodo, J. (2025). Implementasi Pendekatan Pembelajaran Kurikulum Merdeka : Understanding by Design, Berdiferensiasi, dan Deep Learning. Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar. -Mayangsari, P., Khoirunnisa., Mukti, R, A., Yunizha, T, D., Enjelina, D., Irfan., & Risdalina. (2024). Analisis Permasalahan Guru dalam Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar. Jurnal Inovasi, Evaluasi, dan Pengembangan Pembelajaran (JIEPP). Vol. 4. No. 2)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita