Rabu, 17/05/2023, 11:03:01
Resensi Buku Lautan dan Dendamnya: Cinta Tidak Selalu Indah dan Bahagia
Oleh: Dita Tri Esti Maharani
--None--

0-Judul: Lautan dan Dendamnya. 0-Pengarang: Adib Isra Mirza. 0-Penerbit: Gramedia Pustaka Utama. 0-Tahun terbit: 2022. 0-Dimensi buku: 13,5 x 20 cm. 0-Harga buku: Rp 115.000.

Sinopsis:

DI sudut utara zamrud khatulistiwa, saat matahari tengah menenggelamkan diri, ketika azan magrib hendak dikumandangkan, saat itulah Tuhan dengan kekuasaan-Nya menghempaskan laut ke atas permukaan bumi. Air laut datang membawa duka bagi penduduk Palu, merenggut ribuan nyawa, membawa banyak raga menembus angkasa.

Dania namanya. Sebelum tsunami, dia hanyalah pelajar SMA biasa. Pascatsunami gadis itu harus jungkir balik bertahan hidup dibayangi trauma berkepanjangan. Althar teman satu SMA-nya menjadi penolong dan pendukungnya, tapi ternyata itu belum cukup bagi Dania.

Pertanyaan atas kuasa Tuhan dan pencarian keping hati yang hilang membuat gadis itu terombang-ambing dalam ombak cobaan. Seolah keberuntungan tak ingin lagi menyentuh setetes pun perjalanan hidupnya.

“Apalah arti keadilan Tuhan yang sering dikatakan oleh mereka yang hidup tenang, sedangkan mengikhlaskan kematian sudah menjadi rutinitas kami untuk melanjutkan hidup?” Dania

Tema yang diangkat oleh penulis adalah tentang cinta, bencana, dan dendam. Penulis ingin menyampaikan pesan bahwa cinta tidak selalu indah dan bahagia, tetapi juga bisa membawa penderitaan dan kesedihan.

Latar belakang buku ini adalah Palu, sebuah kota di Indonesia yang mengalami bencana alam berupa gempa bumi dan tsunami pada tahun 2018. Penulis menggunakan latar ini untuk memberikan gambaran tentang kondisi geografis, sosial, dan budaya di daerah tersebut. Penulis juga menggunakan latar ini untuk menunjukkan dampak dari bencana alam terhadap kehidupan masyarakat.

Tokoh utama buku ini adalah Dania dan Althar, dua remaja yang memiliki karakter yang berbeda. Dania adalah seorang gadis yang cantik, baik hati, cerdas, dan taat beragama. Sedangkan Althar adalah seorang pemuda yang tampan, pemberani, dan taat beragama.

Alur cerita buku ini adalah maju, yaitu mengikuti urutan waktu dari awal hingga akhir. Penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga untuk menceritakan kisah Dania dan Althar dari berbagai perspektif. Penulis juga menggunakan teknik flashback untuk menunjukkan masa lalu para tokoh dan membangun latar belakang cerita.

Konflik yang ada di buku ini adalah seorang gadis yang pascatsunami harus jungkir balik bertahan hidup dibayangi trauma berkepanjangan, dia adalah Dania. Althar teman satu SMA-nya menjadi penolong dan pendukungnya, tapi ternyata itu belum cukup bagi Dania. Pertanyaan atas kuasa Tuhan dan pencarian keping hati yang hilang membuat gadis itu terombang-ambing dalam ombak cobaan. Seolah keberuntungan tak ingin lagi menyentuh setetes pun perjalanan hidupnya.

Gaya bahasa yang mudah dipahami dan emosional. Penulis menggunakan bahasa Indonesia yang sederhana namun efektif untuk menggambarkan suasana hati dan perasaan para tokoh. Penulis juga menggunakan kata-kata yang bermakna ganda dan metafora untuk memberikan kesan dramatis dan artistik.

Buku ini mampu mengajak pembaca untuk merasakan kisah hidup para tokohnya dengan cara yang menyayat hati. Buku ini juga memiliki nilai seni dan sastra yang tinggi, dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan emosional, alur cerita yang cepat dan tidak membosankan, penokohan yang kuat dan realistis, dan latar belakang yang detail dan akurat.

Kelebihan dan kekurangan buku novel Lautan dan Dendamnya karya Adib Isra Mirza:

Kelebihan:

Cerita yang orisinal dan mengandung pesan moral. Penulis berhasil menciptakan kisah cinta dan tragedi yang menarik dan menyentuh hati pembaca. Penulis juga berhasil menyampaikan pesan tentang nilai-nilai kehidupan, seperti cinta, kesetiaan, pengorbanan, keadilan, dan keimanan.

Kekurangan:

Ending yang terlalu tragis. Penulis membuat ending yang sangat menyedihkan bagi pembaca. Penulis tidak memberikan harapan atau solusi bagi para tokoh yang telah mengalami banyak penderitaan. Penulis juga tidak memberikan penjelasan atau alasan yang kuat mengapa ending harus seperti itu.

Buku ini cocok untuk pembaca yang menyukai kisah cinta yang penuh dengan konflik dan tragedi. Buku ini juga cocok untuk pembaca yang ingin mengetahui lebih banyak tentang kondisi sosial dan budaya di Sulawesi, serta dampak dari bencana alam yang terjadi di sana.

Buku ini tidak cocok untuk pembaca yang tidak suka dengan cerita yang menyedihkan. Buku ini juga tidak cocok untuk pembaca yang mengharapkan ending yang bahagia atau adil. Buku ini membutuhkan kematangan emosi dan pemahaman agama yang baik untuk dapat menikmati pesan moral yang disampaikan oleh penulis.

(Dita Tri Esti Maharani adalah mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita