Selasa, 17/01/2023, 00:48:38
Makanan Tradisionil Ongol-Ongol Yang Mulai Terlupakan
Oleh: M. Azmi Alfarizqi
--None--

SETIAP Negara didunia pasti memiliki makanan tradisionalnya masing-masing yang beraneka ragam,salah satunya adalah negara Indonesia. Makanan tradisional adalah makanan dan hidangan yang sudah di konsumsi turun-temurun,yang memiliki cita rasa yang khas pada kelompok masyarakat tertentu.

Menurut Prof. Murdijati Gardjito, Guru Besar Teknologi Pangan dari UGM, makanan tradisional adalah “ makanan yang diolah dari bahan pangan hasil produksi setempat, dengan proses yang telah dikuasai masyarakat dan hasilnya adalah produk yang citarasa,bentuk dan cara makannya dikenal, digemari, dirindukan, bahkan menjadi penciri kelompok masyarakat tertentu.

Keputusan lokakarya revitalisasi Pusat Kajian Makanan Tradisional di Yogyakarta,2003 Menyatakan bahwa makanan tradisional adalah makanan yang dibuat dari bahan yang dihasilkan di daerah setempat kemudian diolah dengan cara dan teknologi yang dikuasai oleh masyarakat setempat.

Menurut Sastroamidjojo, S., 1995 dan dalam Adiasih, 2015 menyatakan bahwa makanan tradisional dapat didefinisikan sebagai makanan umum yang biasa dikonsumsi sejak beberapa generasi,terdiri dari hidangan yang sesuai dengan selera manusia,tidak bertentangan dengan keyakinan agama masyarakat lokal,dan dibuat dari bahan-bahan makanan dan rempah-rempah yang tersedia lokal.

Dari ketiga pendepat diatas dapat diperoleh bahwa makanan tradisional adalah makanan yang sudah ada dan sudah dikonsumsi sejak dahulu atau turun temurun,sesuai dengan selera masyarakat tertentu atau setempat.

Makanan tradisional Indonesia sangat beragam dan terkenal karena mengandung berbagai bahan rempah-rempah lokal. Menurut Sims,2009 keberagaman makanan tradisional di pengaruhi oleh beragamnya bahan baku lokal yang tersedia di tiap-tiap daerah. Makanan tradisional memiliki peluang besar untuk di tawarkan ke turis, seiring meningkatnya jumlah wisatawan yang peduli terhadap budaya dan warisan lokal, makanan tradisional bisa menjadi salah satu cara terbaik untuk mengetahui tentang budaya dan warisan lokal.

Dengan keberagaman makanan Tradisional ini kita juga dapat mengembangkannya untuk sektor pariwisata dengan memperkenalkan makanan tradisional kita kepada para turis baik turis dalam negeri maupun turis asing. Salah satu makanan tradisional khas Indonesia yaitu “Ongol-ongol”.

Apasih Ongol-ongol?: Mungkin kita masih belum mengenal apasih ongol-ongol itu. Menurut KBBI ongol-ongol adalah panganan (kue) yang biasanya tepung sagu,gula,kelapa dan sebagainya. Ongol-Ongol biasa di jual di pasar-pasar tradisional khususnya di daerah Betawi dan Jawa barat.

Menurut Kebudayaan Betawi menyatakan bahwa Ongol-ongol adalah kudapan dari tanah betawi yang sudah ada sejak dahulu kala, ongol-ongol berasal dari bahasa arkais yang memiliki arti kenyal. Ongol-ongol biasanya di sajikan saat ada pesta pernikahan ataupun acara tertentu.

Ongol-ongol ini terinspirasi dari kue-kue orang tionghoa, ongol-ongol pertama kali datang ke indonesia karena dibawa tentara mongolia,karena kebiasaan orang dahulu lebih terbiasa menyebut sesuatu yang mudah dan mirip dengan bunyinya makanya kata” mongol” di ubah menjadi kata “ongol-ongol”.

Lalu mengapa ongol-ongol termasuk dalam makanan tradisional,menurut Xiaomin, 2017 kriteria atau karakteristik makanan tradisional adalah adanya bahan endogen yang digunakan dalam masakan yaitu adanya bahan baku lokal yang unik dan khas setempat.

Ongol-ongol sendiri terbuat dari hasil alam Indonesia yang dapat ditemukan dengan mudah baik di pasar-pasar tradisional maupun swalayan, ongol-ongol biasanya terbuat dari tepung sagu tetapi ada juga ongol-ongol yang terbuat dari singkong dan tepung hunkwe, ongol-ongol biasaya berbentuk persegi ataupun segi panjang dengan taburan parutan kelapa yang menambah rasa dan kemenarikannya, ongol-ongol termasuk dalam kue basah karena rasanya yang lembut dan kenyal.

Pada zaman dahulu, banyak sekali orang yang menyukai ongol-ongol dikarenakan rasanya yang manis,teksturnya yang lembut,serta harganya yang murah. Oleh sebab itu banyak juga orang-orang mulai berjualan ongol-ongol pada waktu itu, selain karena peminatnya yang banyak, cara membuat ongol-ongol juga sangat mudah dan bahan-bahannya mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional.

Tetapi zaman sekarang ongol-ongol semakin sulit untuk dijumpai ongol-ongol hanya ada di pasar-pasar tradisional dikarenakan kini peminat ongol-ongol yang semakin sedikit, karena mereka lebih memilih kue-kue modern yang memiliki bentuk yang indah serta rasa yang beraneka ragam.

Padahal menurut data Kemenkes RI (TKPI) dalam 100 gram“ongol-ongol sagu” mengandung 21,2 gram karbohidrat serta 75,3 gram air, sehingga memakan 100 gram ongol-ongol sagu saja sudah daapat menjadi sumber energi dan meningkatkan stamina karena kandungan karbohidrat yang tinggi dan dapat juga untuk melumasi sendi dan menormalkan tekanan darah karena kandungan air yang tinggi,tetapi dalam 100 gram ongol-ongol sagu juga terkandung 2,70 gram llemak.

Seharusnya Ongol-Ongol ini dapat kita lestarikan karena ini adalah salah satu ciri khas dari negara kita, salah satu pembeda kita dengan negara-negara lain, baik kita lestarikan kepada masyarakat luar ataupun masyarakat sekitar dan para generasi selanjutnya agar Ongol-Ongol ini tidak hilang atau di lupakan dan terus dikenal oleh para pemuda-pemudi di Indonesia.

Kita juga dapat mengkombinasikan warna-warna yang menarik supaya anak-anak ini tertarik dan agar anak-anak ini mau makan camilan tradisional,kita juga dapat mengajak mereka untuk turun langsung bersama kita ke dapur supaya mereka mengetahui proses pembuatan ongol-ongol ini dan membuat Ongol-Ongol ini tetap dikenal oleh masyarakat dan tidak dilupakan hingga anak, cucu mereka nanti.

Kita tentu berharap bahwa makanan-makanan tradisional seperti ongol-ongol ini tidak hilang, karena ini adalah salah satu contoh ciri khas kita yang harus kita lestarikan dan kenalkan kepada anak cucu kita nanti, serta kepada masyarakat dunia bahwa Indonesia memiliki makanan tradisional yang tidak kalah dengan makanan tradisional mereka.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita