PENDIDIKAN matematika juga tidak dapat terlepas dari matematika itu sendiri. Oleh karena itu, untuk mengintegrasi matematika dan islam dalam pembelajaran matematika maka lebih baik jika dikaji terlebih dahulu sifat-sifat matematika sebagai ilmu pengetahuan. Menurut Suparni (2011) sifat atau karakteristik dari matematika yaitu obyek matematika abstrak, simbol yang kosong dari arti, kesepakatan dan pemikiran deduktif aksiomatik.
Matematika sebagai ilmu yang memiliki kajian abstrak (gaib) sangat potensial untuk dijadikan sebagai obyek pendekatan dalam menjelaskan kebenaran-kebenaran dalam agama. Teori bilangan, Teori himpunan dan konsep menggambar grafik fungsi merupakan beberapa teori matematika yang sangat memungkinkan untuk dikaitkan dengan peningkatan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Menurut Qardawi (1999) selain berfungsi sebagai bukti keimanan, ilmu juga merupakan jalan menuju keyakinan. Yakin, menurut pendapat Ar-Raghib adalah ketenangan pemahaman disertai dengan keteguhan hukum. Keyakinan akan menjadi lebih mantap bila berdasarkan ilmu (ilmu yakin) dan juga ma’rifat yakin. Matematika bisa dimanfaatkan untuk menunjukkan kebenaran pernyataan tentang keberadaan sesuatu. Untuk dapat dikatakan ada, sesuatu itu tidak harus bisa dilihat, dipegang atau didengar suaranya (berbentuk konkrit dan bisa ditangkap dengan panca indera). Sesuatu yang tidak konkrit pun bisa diyakini keberadaanya secara akal sehat.
Pengertian integrasi secara umum tidaklah asing dalam dunia pendidikan. Wacana tentang integrasi pada dasarnya sudah terjabarkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, dimana kebijakan pemerintah mutakhir dalam upaya pengintegrasian pendidikan umum dan agama sehingga menghasilkan generasi yang bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, kreatif, cakap, mandiri dan bertanggung jawab (Narti 22 et al., 2021). Hal itu dibenarkan oleh pendapat Fauzi (2020) yang mengatakan bahwa integrasi menjadi sebuah alternatif yang harus di pilih untuk menjadikan pendidikan lebih bersifat menyeluruh (integral-holistik). Gagasan integrasi (nilai-nilai Islam dan umum) ini bukanlah sebuah wacana untuk meraih simpatik akademik, melainkan sebuah kebutuhan mendesak yang harus dijalankan sebagai pedoman pendidikan yang ada.
Berdasarkan pemaparan diatas dapat diambil kesimpulan bahwasanya pengintegrasian nilai-nilai Islam ialah sebuah alternatif yang harus dilakukan oleh guru untuk menjadikan pendidikan lebih bersifat menyeluruh. Adapun integrasi nilai-nilai Islam disini dimaksudkan untuk memberikan nilai-nilai Islam dalam setiap pembelajaran baik itu dengan mengintegrasikannya pada materi atau contoh soal, dan bisa juga pada metode pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Dalam pengintegrasian nilai-nilai Islam perlu diperhatikan prinsip-prinsip yang sesuai dengan akidah dan syariah. Menurut Ismail Al-faruqi (Firdaus, 2018) tokoh Islamisasi ilmu mengemukakan prinsip-prinsip dalam metodologi Islam pada bidang sains (matematika) adalah sebagai berikut:
-Prinsip keesaan Allah
Allah adalah sang Khaliq yang meciptakan segala macam disiplin ilmu yang ada di muka bumi ini. Allah adalah sang pencipta dan dengan segala perintah-Nya segala sesuatu peristiwa itu terjadi. Allah adalah sebab pertama dan terakhir dari setiap segala segala sesuatu.
-Prinsip kesatuan alam semesta
Sebagai akibat logis dari keesaan Allah, manusia wajib mempercayai kesatuan ciptaan Allah. Allah tidak hanya menciptakan alam semesta ini, namun Allah juga mengatur dan mengontrol alam.
-Prinsip kesatuan, kebenaran, dan kesatuan pengetahuan
Manusia diciptakan Allah dengan diberikan akal sebagai kemampuan bernalar, namun semua itu terbatas dan mungkin akan dapat melakukan kesalahan atau penyimpangan. Nalar bisa melakukan kritik terhadap dirinya maupun terhadap nalar orang lain dan kritik itu merupakan mekanisme untuk melakukan kesalahan.
-Prinsip kesatuan hidup
Manusia merupakan makhluk Allah yang mengemban amanat bahwa kehidupannya ditujukan untuk mengabdi kepada Allah. Pengabdian ini dapat ditunjukkan dengan cara melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
-Prinsip kesatuan umat manusia
Agama Islam mengajarkan bahwa setiap orang adalah ciptaan Allah SWT, dan hakekatnya manusia semua sama dihadapan Allah SWT.
Strategi Pembelajaran Integrasi Nilai-Nilai Islam dalam Pembelajaran Matematika:
Menurut Hariyani (2013) memaparkan dengan rinci strategi pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam pembelajaran matematika yaitu sebagai berikut:
-Selalu menyebut nama Allah
-Penggunaan Istilah
Ilustrasi Visual
-Aplikasi Atau Contoh-Contoh
-Menyisipkan Ayat atau -Hadits yang Relevan
-Penelusuran Sejarah
-Jaringan Topik
-Simbol Ayat-Ayat Kauniah
Integrasi Nilai-Nilai Islam dalam Pembelajaran Matematika:
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa proses integrasi nilai-nilai islam ke dalam pembelajaran Matematika adalah menempelkan atau memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam setiap komponen materi. Integrasi matematika dan agama bukan proses islamisasi matematika. Integrasi ini bukan untuk menghasilkan matematika Islam, tetapi untuk membuat umat beragama lebih beragama melalui matematika. Lebih khususnya bukan islamisasi matematika, melainkan islamisasi manusia dan lingkungan sekitarnya dengan matematika. (Rahmadhani & Wahyuni, 2020).
Pengintegrasian nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran matematika di Madrasah Ibtidaiyah dan tingkat pendidikan lainnya semula terasa sukar dilaksanakan. Khususnya untuk mata pelajaran matematika yang banyak berhubungan dengan bilangan, rumus-rumus dan bangun geometris, akan terasa mudah untuk diterapkan jika kita sebagai Tenaga Pendidik selalu mencoba mencari celah penanaman nilai-nilai ajaran agama Islam dalam pembelajaran di kelas.
Cara ini akan efektif jika kita mengkaji dan menyiasati materi yang kemungkinan bisa dinuansai atau disisipi nilai-nilai ajaran Islam dalam pembelajaran dengan tidak menyimpang dari Standar Kompetensi atau Kompetensi Dasar yang dijabarkan dalam uraian materi. Oleh karena itu, apabila para guru yang mengampu mata pelajaran Matematika lebih mengkaji penanaman nilai ajaran Islam dalam pembelajaran di sekolah , maka akan mampu menemukan strategi pembelajaran yang lebih sempurna dibandingkan dengan apa yang dipaparkan dalam tulisan ini.
(Ragil Marga Safera adalah majasiswa Prodi Pendidikan Matematika Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tinggal di Desa Candinegara, Kec. Pekuncen, Kab. Banyumas Jawa Tengah. E-mail: agilsafera12@gmail.com)