MATEMATIKA, mendengar kata itu semua orang akan berkata hitung-hitungan dan rumus. Beberapa orang lebih memilih seperti bahasa, ilmu pengetahuan sosial, manajemen, dan lain-lain daripada matematika. Mereka cenderung menghindari matematika dengan berbagai alasan, mulai dari harus menghafal segala rumus, membuktikan rumusnya, dan lain sebagainya.
Padahal, matematika adalah ilmu dasar dari kehidupan, ilmu yang sama dengan ilmu pengetahuan alam yang merupakan ilmu dasar juga. Sebagian orang juga menganggap bahwa matematika membutuhkan pemahaman yang cukup tinggi, sehingga banyak diantara mereka tidak ingin berhubungan dengan matematika.
Hasil survei PISA tahun 2009 yang mengukur kemampuan anak usia 15 tahun dalam literasi membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan, Indonesia hanya menduduki peringkat 61 dari 65 peserta dengan rata-rata skor 371, sementara rata-rata skor internasional adalah 496. Skor ini tidak lebih baik dari hasil survei PISA pada tahun 2003 yang menempatkan Indonesia pada peringkat 2 terendah dari 40 negara sampel. Sementara itu, prestasi pada TIMSS 2007 lebih memprihatinkan lagi, karena rata-rata skor siswa kelas 8 kita menurun menjadi 405, dibanding tahun 2003 yaitu 411. Indonesia pada TIMSS tahun 2007 menempati peringkat 36 dari 49 negara (Kemdiknas, 2011: 1).
Dari hal tersebut kita perlu memikirkan bagaimana agar para siswa dapat mengembangkan keterampilan berpikirnya dalam belajar matematika, bukan hanya berorientasi pada kemampuan menghafal dan kelulusan sekolah saja melainkan supaya dapat berorientasi menjadi siswa yang berprestasi dan berdaya saing. Salah satu keterampilan berpikir yang patut untuk dikembangkan di era globalisasi ini adalah keterampilan berpikir tingkat tinggi atau yang lebih dikenal dengan higher order thinking skill.
Keterampilan berpikir tingkat tinggi merupakan keterampilan berpikir pada level analyze, evaluate, dan create dalam taksonomi bloom yang telah direvisi.
Berdasarkan PP No.19 Tahun 2005 Pasal 19 disebutkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Kemudian dalam Permen No 22 Tahun 2006 disebutkan mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Selanjutnya juga disebutkan bahwa pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika.
Orinetasi pembelajaran mematika saat ini diupayakan pada pengajaran ketrampilan berpikir tingkat tinggi, yakni berpikir kritis dan kreatif. Kedua aspek berpikir itu merupakan satu kesatuan. Namun, berpikir kirtis jarang ditekankan pada pembelajaran matematika karena model pembelajaran yang diterapkan cenderung berorientasi pada pengembangan pemikiran analitis dengan masalah-masalah yang rutin. Para peneliti telah mengidentifikasikan kendala-kendala dalam pengembangan berpikir kritis di kelas, yakni didominasi oleh praktik pengajaran yang konvergen (terkonsentrasi), sikap dan keyakinan guru terhadap kreativitas dan kekritisan siswa, motivasi lingkungan, dan keyakinan diri peserta didik (Beghetto & Kaufman, 2007).
Menurut Ennis (Rosnawati, 2009), berpikir kritis adalah cara berpikir reflektif yang masuk akal atau berdasarkan nalar yang difokuskan untuk menentukan apa yang harus diyakini dan dilakukan. Angelo (Rosnawati, 2009) menegaskan bahwa berpikir kritis harus memenuhi karakteristik kegiatan berpikir yang meliputi analisis, sintesis, pengenalan masalah dan pemecahannya, kesimpulan, dan penilaian. Berpikir kritis merupakan salah satu jenis berpikir yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik (kesimpulan). Berpikir kreatif adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenali pembuatnya (Harlock, 1978).
Berpikir kreatif adalah jenis berpikir divergen, yang bersifat menyebar dari suatu titik.
Penekanan pembelajaran matematika bukan lagi pada hasil akhir melainkan lebih kepada bagaimana proses dan tahapan berpikir siswa dalam mengkonstruk pengetahuannya. Dalam hal ini guru dapat menyediakan soal-soal atau permasalahan yang bersifat problem solving serta melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran (student centered). Krulik & Rudnick (1999) menyatakan bahwa guru juga dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan inovatif yang dapat merangsang kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa seperti “Adakah cara lain?, Bagaimana jika…?, Manakah yang salah?, Mengapa bisa demikian?, dan Apa yang akan dilakukan?”.
(Hmelo & Ferrari, 1997) mengemukakan bahwa sebelum mengasah dan mengharapkan siswa memiliki pemahaman yang mendalam tentang konsep matematika, tenaga pendidik (guru) harus memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang konsep matematika. Guru perlu menguasai konsep matematika agar dapat mengajar siswa konsep matematika yang lebih dalam dengan efektif. Guru dengan pemahaman konsep dan pedagogis yang mendalam akan matematika dapat mengenali kesalahpahaman siswa. Guru juga dapat menangani asumsi siswa yang salah dengan lebih baik dan memahami perkembangan kemampuan berpikir mereka.
Secara eksplisit, Mulyasa dalam bukunya yang berjudul Menjadi Guru Profesional mengatakan bahwa beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi pada siswa, yaitu: Jangan terlalu banyak membatasi ruang gerak peserta didik dalam pembelajaran dan mengembangkan pengetahuan baru; bantulah peserta didik memikirkan sesuatu yang belum lengkap, mengeksplorasi pertanyaan, dan mengemukakan gagasan yang original; bantulah peserta didik mengembangkan prinsip-prinsip tertentu ke dalam situasi baru; kurangi kekangan dan ciptakan kegiatan-kegiatan yang dapat merangsang otak; berikan kesempatan kepada peserta didik untuk berfikir reflektif terhadap setiap masalahyang dihadapi; hargai perbedaan individu peserta didik dengan melonggarkan aturan dan norma kelas; kembangkan tugas yang dapat merangsang tumbuhnya kreativitas; kembangkan rasa percaya diri peserta didik dengan membantu mereka mengembangkan kesadaran dirinya secara positif tanpa menggurui dan mendikte mereka; kembangkan kegiatan-kegiatan yang menarik seperti kuis, teka-teki, dan nyanyian yang dapat memacu potensi secara optimal; libatkan peserta didik secara optimal dalam proses pembelajaran, sehingga proses mentalnya bisa kebih dewasa dalam menemukan konsep dan prinsip-prinsip ilmiah.
Selanjutnya, Crowl et al (King et al, 2011: 43) menambahkan bahwa faktor utama dalam mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi adalah student-centered classroom. Hal ini mendukung siswa untuk mengekspresikan ide-ide secara terbuka, mengembangkan keterampilan berpikir, dan memotivasi siswa untuk belajar. Tanpa model pembelajaran seperti ini, siswa tidak akan terfasilitasi dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tingginya. Dari pernyataan tersebut kita peroleh poin penting bahwa kesadaran seorang guru dalam memotivasi siswanya dapat memberikan pengaruh yang signifikan pada siswa.
(Muhammad Yuhdi Fadhila adalah mahasiswa Program Atudi Pendidikan Matematika Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)