INDONESIA menurut Lestari et al, 2003 merupakan salah satu negara yang banyak menghasilkan obat-obatan tradisional. Salah satunya adalah tanaman daun katuk. Tanaman katuk ini sering digunakan untuk pengobatan tradisional seperti untuk memperlancar asi, mengatasi sembelit, menurunkan berat badan dan diabetes, potensi daun katuk ini juga didukung oleh penelitian tentang aktivitas farmakologi sebagai antibakteri, antihipertensi, antiperlipidemia, antiinfeksi, antiinflamasi, antianemia dan meningkatkan produksi ASI.
Tanaman katuk (Sauropus androgynus (L)Merr) Menurut zuhra et al, 2018 adalah salah satu tanaman yang memiliki senyawa metabolisme sekunder dengan berbagai potensi dan mengandung beberapa senyawa kimia, antara lain papaverin, protein, lemak, vitamin, mineral, saponin, flavonoid, dan tanin. Daun katuk dapat bekerja sebagai antioksidan yang disebabkan adanya senyawa golongan fenol yaitu flavonoid. Andarwulan et al ,(2010), menemukan bahwa daun katuk (mg/100g daun segar) mengandung flavonoid total sebanyak 143 mg. Dari hasil skrining pendahuluan, ektrak daun katuk mengandung senyawa flavonoid dengan nilai IC50 sebesar 80,81 dan termasuk dalam antioksidan yang sangat kuat.
Menurut Susanti dkk (2014) salah satu bagian tanaman yang dapat digunakan sebagai pengobatan adalah daun. Menurut ansel (1989) tanaman katuk dapat diektraksi dengan menggunakan metode meserasi, meserasi adalah proses perendaman bahan yang sudah halus dengan menggunakan pelarut untuk melunakkan sel.
Daun katuk menurut anief 2008 sering digunakan dalam bentuk ekstrak sebagai antibakteri, tetapi dirasakan kurang efektif dan efisien, maka perlu dikembangkan suatu sediaan farmasi untuk meningkatnya penggunaannya, salah satu sediaan farmasi yang mudah kita gunakan adalah dalam bentuk sediaan salep, dipilih sediaan salep karena sediaan salep ketika digunakan dengan konsistensi yang sangat cocok untuk terapi penyakit seperti bakteri dan luka. Salep didefinisikan sebagai sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar, bahan obat harus larut dan terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. Keuntungan dari penggunaan salep yaitu praktis, mudah dioleskan, dan dapat melindungi kulit seperti mencegah kontak permukaan kulit dengan larutan dan rangsang kulit.
Pada proses pembuatan salep ektrak daun katuk sebagai antibakteri yang pertama dilakukan pembuatan simplisia daun katuk yaitu daun katuk dibersihkan menggunakan air mengalir yang kemudian dipisahkan dari batangnya kemudian timbang daun katuk dan keringkan, kemudian katuk yang sudah kering dihancurkan. Selanjutnya pembuatan ekstrak daun katuk yaitu dilakukan dengan cara menserasi yaitu dengan cara simplisia daun katuk direndam dengan larutan etanol kemudian formulasi sediaan salep ektrak daun katuk menggunakan formulasi standar basis salep yaitu vaselin album dan adeps lanae sebagai bahannya, kemudian pembuatan salep ekstrak daun katuk menurut paju et al, 2013 pembuatan dengan basis salep menggunakan vaselin album dan adeps lanae yang dileburkan yang kemudian digerus hingga homogen, kemudian pencampuran basis salep dengan ekstrak daun katuk dengan cara menimbang berat sesuai dengan formulasi pada basis salep kemudian digerus dalam mortir sampai homogen setelah homogen kemudian dimasukkan dalam pot salep.
Menurut Middleton et al,2000 Kandungan senyawa kimia dalam daun katuk berkasiat untuk melindungi struktur sel, meningkatkan efektifitas vitamin C, antiinflamasi, mencegah keropos tulang, dan sebagai antibiotik alami. Fungsi lainnya yaitu berperan langsung sebagai antibiotik dengan mengganggu fungsi mikroorganisme seperti bakteri atau virus yang dapat meningkatkan imunitas tubuh.
Indonesia sebagai negara berkembang mempunyai keterbatasan dalam penanggulangan masalah kesehatan, dimana penyakit infeksi masih tinggi, tetapi prevalensi penyakit degeneratif makin meningkat. Antioksidan ini sangat diperlukan oleh tubuh untuk mengatasi dan mencegah stres oksidatif, berbagai bahan alam asli indonesia banyak mengandung antioksidan dengan berbagai bahan aktifnya. Penggunaan bahan alam asli indonesia sebagai antioksidan diperlukan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dengan biaya yang relatif terjangkau.
Daun katuk ini memiliki senyawa alkaloida, flavonoid, tanin, glikosida, dan stroida, selain itu daun katuk mempunyai aktifitas sebagai antimikroba terhadap bakteri staphylococcus aureus yang merupakan salah satu penyebab terjadinya luka borok/kronis, senyawa flavonoid berfungsi sebagai antibakteri dan antiinflamasi, sedangkan tanin berfungsi sebagai astrigen yang dapat menciutkan pori-pori kulit membentuk jaringan baru dan juga sebagai antibakteri.
Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri penyebab infeksi piogenik pada kulit, imfeksi ini disebabkan oleh Staphylococcus aureus antara lain bisul, jerawat dan infeksi luka. Pada bisul atau abses, seperti jerawat dan borok, lipase staphylococcus aureus melepaskan asam-asam lemak dari lipid dan menyebabkan iritasi jaringan.
Staphylococcus merupakan flora normal pada kulit manusia, oleh sebab itu untuk penanganannya yang rasional, penggunaan antibakteri secara topikal lebih efektif. Contoh sediaan yang digunakan secara topikal adalah salep, gel, dan krim penelitian sebelumnya Fatimah dkk., (2014) tentang efektifitas daun katuk dalam menghambat pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus secara in vitro telah terbukti bahwa ekstrak daun katuk dapat menghambat pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus.
(Himatul Ajizah adalah mahasiswa Prodi Farmasi Reg/2 universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)