ERA modern telah mencapai fase dimana segala informasi dan pengetahuan bisa diperoleh hanya dalam hitungan detik. Bayangkan saja, hanya dengan modal handphone/ponsel dan internet semua orang dapat mendapatkan informasi yang mereka inginkan dalam sekejap mata. Dari orang dewasa sampai anak kecil, pria dan wanita, semua orang dapat melakukannya. Gawai memang dapat memudahkan urusan khalayak ramai, namun gawai juga memiliki pengaruh yang cukup merugikan bila tidak segera ditangani. Contohnya kecanduan game dan ketergantungan terhadap gawai.
Menurut psikolog anak Ayoe Sutomo, kecanduan gawai dapat memperlambat kemampuan berbicara anak, mempengaruhi stimulasi motorik dan kurangnya kemampuan interaksi sosial. Hal ini rentan terjadi kepada anak sebelum sekolah dan anak sekolah dasar. Namun tidak menutup kemungkinan anak remaja juga bisa mengalami hal serupa, karena usia remaja merupakan masa transisi dari anak-anak ke usia dewasa. Sebuah masa dimana jiwa dan pemikiran manusia masih labil, masa dimana seseorang mencari jati dirinya.
Kemampuan berkomunikasi menjadi unsur penting dalam tumbuh kembang anak. Kemampuan berbicara sudah seharusnya diajarkan semenjak anak berusia 3-4 tahun atau saat usia anak masuk taman kanak-kanak (TK). Kemampuan berbicara pada anak menjadi sangat penting pada saat anak berusia 7 tahun atau saat akan masuk ke bangku sekolah dasar (SD). Bila kemampuan komunikasi pada anak didik terganggu karena terlalu sibuk dengan gawainya dan berakibat mereka jarang berkomunikasi kepada orang lain, maka kemampuan anak dalam menangkap pelajaran juga akan terganggu.
Pengaruh gawai pun dapat mempengaruhi kondisi fisik anak dan remaja. Karena terlalu sibuk dengan gawai, banyak anak dan remaja jarang bergerak dan bahkan diam di posisi yang sama dalam waktu yang cukup lama. Hal ini mempengaruhi tumbuh kembang fisik anak dan remaja terutama pada bagian berat badan dan tinggi badan. Sebuah studi mengungkapkan remaja dan anak yang kecanduan dengan gawai memiliki resiko kegemukan lebih besar dari mereka yang tidak kecanduan dengan gawai. Kecanduan gawai juga mempengaruhi proses pertumbuhan anak dan remaja.
Hal ini dikarenakan mereka jarang bergerak, sehingga proses pertumbuhan tinggi badan juga dapat terhambat. Walaupun kasus ini jarang terjadi, namun para orang tua sebaiknya tetap waspada.
Solusi kecanduan gawai ada banyak caranya, cara yang paling umum ialah dengan periksa ke dokter jiwa atau pergi ke psikolog. Mereka yang kecanduan gawai akan diberi terapi kejiwaan dan diberi obat yang dibutuhkan.
Namun, ada cara yang lebih mudah yaitu dengan cara tidak mengenalkan gawai terutama ponsel pintar kepada anak yang belum bersekolah. Seperti kata pepatah “lebih baik mencegah daripada mengobati”.
Peran gawai memang mempermudah pemenuhan kebutuhan orang banyak, termasuk untuk para anak dan remaja.
Namun, tanpa adanya didikan dari orang tua sebagai guru pertama anak-anak mereka, gawai justru dapat menghancurkan masa depan anak-anak itu sendiri. Oleh karena itu sudah menjadi peran semua pendidik untuk mendidik anak-anak dalam mengontrol penggunaan gawai di kehidupan sehari-hari.
(M Irfan Rizqi Nurhada adalah mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)