Kepala Dinkes Kota Tegal, dr Sri Prima Indraswari
PanturaNews (Tegal) - Ini mengejutkan. Ternyata jumlah Lesbian, Gay, Bisexsual dan Transgender (LGBT) atau Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) atau Man Sex Man di Kota Tegal, Jawa Tengah, mencapai 235 orang.
Jumlah itu dari total 240 yang di survey dengan target 250 orang yang berasal dan beraktifitas di Kota Tegal. Sementara jumlah penduduk Kota Tegal 253 ribu penduduk mengacu data dari BPS 2019.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tegal, dr Sri Prima Indraswari didampingi Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Imam Syahadat menyampaikan Dinas Kesehatan Kota Tegal mempunyai Tim Survey Terpadu Pribiologis dan Prilaku (STPP), mulai bekerja pada 17 Pebruari sampai 12 April 2019.
"Dinkes berada di pengendalian penyakit, masuk disitu supaya memutus rantai penularannya agar penyakit menular tidak tersebar," kata dr Prima di Kantornya, Selasa 27 Agustus 2019.
Tim Dinas Kesehatan Kota Tegal telah melaksanakan STBP (Survei Terpadu Biologis dan Perilaku), yaitu suatu program dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes) dan WHO yang mendata, mengkonseling perilaku dan memeriksa darah (HIV dan Sipilis) dari LSL (ada ketua komunitas yang menyatakan bahwa klien benar-benar LSL).
Selama dua bulan, Tim menjangkau dan mendapatkan 236 dari target 250 LSL yang berasal dan beraktifitas di Kota Tegal. Dari 250 LSL, 17 anak usia 9-14 Tahun terpaksa dianulir atau tidak bisa dimasukkan ke dalam data base, karena usianya kurang dari 15 Tahun.
Dinkes Kota Tegal sudah protes dan mengusulkan ke Dinkes Provinsi Jawa Tengah dan Kemenkes, agar mereka bisa masuk data base untuk mempermudah pengawasan Dinkes tapi tetap saja tidak bisa masuk.
Sekretaris Faksi PAN DPRD Kota Tegal, Hj Nur Fitriani SE Akt MM saat ditemui di Gedung DPRD Kota Tegal, Rabu 28 Agustus 2019 mengaku terkejut, sedih dan prihatin melihat kondisi Kota Tegal dimana LSL mencapai ratusan. Walaupun LSL, mereka tetep punya istri dan anak di rumah.
"Ini tanggungjawab Pemerintah Kota Tegal dalam menanggulangi penyakit masyarakat (pekat) tersebut," tutur Ani.
Jadi yang juga urgen, menurut Ani, upaya mengembalikan mainset mereka. Tidak hanya sekedar menemukan, mengawal kesehatannya saja. Karena apabila mereka masih dengan aktifitas seksual beresiko, maka peluang HIV/IMS tetep saja besar.
"Sayangnya Program HIV belum bisa menjangkau upaya konseling perubahan perilaku atau mainset tersebut," pungkas Ani.