Senin, 18/09/2017, 06:00:21
Ganjar Jadi Pemateri Seminar Nasional MEA
JOHA-Laporan Johari

Dekan FE UPS Mahben Jalil, Ketua DPRD Kota Tegal Edy Suripno, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan rektor UPS Prof Dr Wahyono SH MS (Foto: Johari)

PanturaNews (Tegal) - Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, Jawa Tengah, melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi (FE) UPS menggelar seminar Nasional yang bertema “Kebijakan dan Strategi Pembangunan Ekonomi Daerah dalam Dinamika Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)", Sabtu 16 September 2017. Seminar diikuti lebih dari seribu peserta dari kalangan umum dan kalangan akademisi UPS sendiri.

Sebagai pemateri Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP, Guru besar Universitas Padjadjaran Prof Dr Hj Winwin Yadiati SE MSi Ak CA dan pengusaha muda dari Bakrie Group Dr Suwandi SH MBA.

Rektor UPS Tegal Prof. Dr. H. Wahyono mengatakan, pembentukan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dilatarbelakangi oleh persiapan menghadapi globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas melalui ASEAN Free Trade Area serta mengahadapi persaingan global terutama dari Cina dan India.

“Tujuan MEA untuk membentuk pasar tunggal khususnya tenaga kerja (Skill), membentuk Asia Tenggara berdaya saing dan pemerataan pembangunan ekonomi di Asia Tenggara,” kata Wahyono..

Dekan FE UPS Tegal Mahben Jalil, S.E., M.M menyampaikan terimakasih kepada panitia atas terselenggaranya seminar tersebut. Pada seminar yang mengusung tema ‘Kebijakan dan strategi pembangunan ekonomi daerah dalam dinamika masyarakat ekonomi ASEAN (MEA)’ menurutnya, kebijakan strategi dalam pengembangan ekonomi suatu daerah sebagai wujud UMKM.

Sementera Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, tiga Negara Asean yang siap menghadapi MEA yakni Indonesia, Singapura dan Malaysia. “Indonesia siap karena memiliki SDA dan SDM, Malaysia juga dan Singapore karena memiliki skill,” katanya.

Untuk menghadapi MEA harus bisa paling tidak satu bahasa asing yakni Bahasa Inggris. “Saya minta kepada guru maupun dosen untuk diperbanyak jam pelajaran bahasa inggris, bagaimana kita bisa bertransaksi buyer asing atau bule, kalau tidak mengerti bahasa mereka (Inggris),” kata Ganjar.

Selain bahasa, lanjut Ganjar, paling utama dalam kita berbisnis dengan orang bule adalah mutu dan dipacking. “Karena produk Indonesia yang akan diekspor, akan dicek cara membuatnya, bersih atau tidak, steril atau tidak. Kalau tidak bersih si bule akan membatalkan atau loses,” pungkasnya.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita