Gita Anggraeni tergeletak di bangsal perawatan RS Siti Asiyah, setelah mengalami kecelakaan kerja saat jadi TKW di Brunei Darussalam. (FT: Zaenal Muttaqin)
PanturaNews (Bumiayu) - Maksud hati ingin meningkatkan ekonomi keluarga dengan menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di negeri seberang yang kaya raya, Brunei Darussalam, ternyata takdir menentukan lain. Bukannya meraup dolar Brunei, tapi derita panjang yang dirasakan.
Itulah yang terjadi pada Gita Anggraeni (27), warga Dukuh Munggang RT 05 RW 04 Desa Kalierang, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Wanita berkulit kuning bersih ini mengalami kecelakaan kerja saat bekerja di Brunei Darussalam. Dia jatuh dari ketinggian sekitar empat meter, ketika tengah membersihkan kaca joglo rumah majikannya.
"Waktu itu saya sedang membersihkan kaca, saya terpeleset dan jatuh ke lantai," katanya kepada PanturaNews, Minggu 01 Agustus 2010 siang.
Gita menuturkan, dirinya berangkat ke Brunei setelah diajak oleh kenalan dari tetangga desanya yang sudah beberapa tahun kerja di Brunei. Dengan berbekal paspor dan visa kerja yang diurusnya sendiri, Gita berangkat ke negeri kesultanan itu pada Januari 2010 lalu. Baru sekitar satu bulan, atau tepatnya pada Februari 2010, peristiwa kecelakaan kerja itu terjadi. "Saya baru kerja sebulan di Brunei," ujarnya.
Ketika itu Gita sempat dibawa ke Rumah Sakit (RS) di Brunei oleh majikan tempat kerjanya, tapi kemudian dipulangkan ke Indonesia atas permintaannya sendiri. Oleh majikannya, Gita dipulangkan dengan Travel ke Kalimantan, kemudian dilanjutkan dengan pesawat terbang ke Jakarta dan dijemput keluarganya pulang ke Bumiayu.
Sepulang dari Brunei, Gita sempat dibawa berobat ke pengobatan alternatif patah tulang. Sekitar sebulan lebih menjalani menjalani pengobatan, meski begitu bukannya kesembuhan yang dialaminya tapi justeru kondisinya makin memburuk. "Waktu diperiksa di RS Brunei, katanya tulang belakang saya patah dan tulang leher juga retak serta ada syaraf yang terjepit," kata Gita.
Kini Gita tergeletak di bangsal perempuan RSU Siti Asiyah Bumiayu. Tubuhnya makin kurus dan tak bisa berjalan seperti mengalami kelumpuhan. "Semestinya Gita harus operasi, tapi kami tak memiliki biaya lagi," kata Romli (29), suami Gita yang setia mendampinginya menjalani pengobatan.
Romli mangaku kebingungan bagaimana harus mengobati isterinya yang telah memberinya dua orang anak yang masih kecil-kecil. Dia hanya berharap barangkali ada keajaiban dari Tuhan. "Pekerjaan saya buruh serabutan, tak punya cukup uang untuk operasi," keluhnya.