Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Pemalang, Tri Setyawati Pujiastuti.
PanturaNews (Pemalang) - Pelatihan regu pengendalian hama (RPH) dan penyakit tanaman perkebunan Jateng, berlangsung selama tiga hari di Hotel Pesanggrahan Moga Indah, Desa Moga Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang.
Pelatihan merupakan salah satu pengejawantahan upaya mendukung kebijaksanaan Gubernur Jawa Tengan, Bibit Waluyo dalam gerakan “Bali Ndeso Mbangun Ndeso“ khususnya memberdayakan potensi yang ada di desa dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.
Kepala Dinas Perkebunan Propinsi Jateng, Ir Tegoeh Winarno Haroeno MM melalui staf Perlindungan Tanaman Perkebunan bidang Produksi pada Dinas Perkebunan Jateng, Y Gatot Budiyanto SH, Rabu 26 Mei 2010 siang mengatakan, melalui pelatihan ini petani menjadi tahu, mau dan mampu menerapkan empat prinsip dasar Pembrantasan Hama Tanaman (PHT) dikebunnya dengan budidaya tanaman sehat, pelestarian dan pemanfaatan musuh alami, pengamatan agroekosistem secara rutin, sehingga petani menjadi ahli PHT dan manajer di kebunnya sendiri.
Hal senada dituturkan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Pemalang, Tri Setyawati Pujiastuti, SIP, MSi. Menurutnya, kegiatan pelatihan pihaknya sebagai pelaksana. Sedangkan tujuan diadakannya pelatihan regu pengendalian hama dan penyakit tanaman perkebunan, adalah untuk meningkatkan peran serta petani, keompok tani dalam pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) melalui sistem PHT, tumbuhnya swadaya dan sumberdaya petani dalam pengendalian OPT dengan menitikberatkan penggunaan agensi pengendali hayati.
Lebih dijelaskan, dengan terwujudnya budidaya tanaman sehat, menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup, akan diperoleh peningkatan pendapatan petani serta devisa Negara. Namun demikian dirasa masih memiliki kendala kondisi faktual yang tidak mungkin dirubah, tetapi kita hadapi sebagai tantangan untuk dikelola secara optimal dan terfokus, yani terhadap kepemilikan lahan yang sempit (kurang 0,2 hektar/ KK petani) sehingga tidak effisien, pendidikan petani rendah.
“Pemahaman petani tentang pengendalian hama penyakit dirasa masih parsial, terutama hanya bertumpu pada pengendalian hama bersifat reaktif. Sedangkan yang dituntut oleh PHT adalah pengendalian yang sistemik. Pemahaman PHT dikalangan masyarakat perkebunan sangat diperlukan,” ujar Tri Setyawati.