Selasa, 28/03/2017, 10:24:42
Degradasi Nalar Kritis Mahasiswa
Oleh: Ade Irmanus Sholeh
--None--

Mahasiswa adalah titik kulminasi seseorang dalam menempuh pendidikan. Menyandang status “mahasiswa” adalah sebuah beban moral yang sangat berat dalam aspek sosial dan segi kemanfaatannya untuk masyarakat. Dalam perannya mahasiswa selalu menjadi voulenteer gerakan sosial masyaraka,t untuk menjembatani antara rakyat dan penguasa.

Tantangan yang dihadapi mahasiswa pasca reformasi, adalah budaya hedonisme dan segelumit aturan kurikulum yang membelenggu serta padatnya jadwal perkuliahan yang membuat intensitas diskusi dan kajian keilmuan lainnya sangat minim, akibatnya mahasiswa sekarang “miskin inteluktualitas”.

Hegemoni penguasa terlihat jelas dalam setting dunia pendidikan. Peran mahasiswa bukan saja sebagai “insan akademis”, mahasiswa mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, responsif terhadap isu kekinian yang sedang hangat dalam masyarakat, bahkan mahasiswa dapat menciptakan perubahan dalam aspek sosial, politik dan ekonomi.

Sadar atau tidak, kepekaan sosial mahasiswa sekarang mulai terkikis berbanding terbalik 180° dengan mahasiswa era orde baru, gerakan mereka terpusat dan bersatu melawan segala penindasan serta kesewenang-wenangan atas hegemoni penguasa. Penyebab terkikisnya nalar kritis mahasiswa yang lahir pasca reformasi adalah pertama,mahasiswa disibukkan dengan jadwal kuliah yang menjadikan ruang gerak mahasiswa semakin terbatas dan hanya berkonsentrasi terhadap apa yang dipelajari di fakultasnya.

Kedua, mahasiswa sekarang lebih bangga dengan ideologi  gerakan organisasinya, ini yang melahirkan “jurang pemisah”antar mahasiswa. Ketiga, gerakan mahasiswa sekarang bersifat kedaerahan, ini yang memicu mahasiswa sulit untuk mencapai sebuah jiwa persatuan dalam melawan cekaman penguasa terhadap ketidak pastian serta pemerkosaan hukum terhadap rakyat.

Status “mahasiswa” sebelum reformasi lahir sangat didambakan dan dielukan oleh masyarakat dan selalu menawarkan solusi yang konkret terhadap problematika yang terjadi, namun sudah 19 tahun pasca reformasi mahasiswa menemui titik kebuntuan dalam berpikir, pragtamisme yang menyetubuhi ideologi  mahasiswa membuat gerak pikirannya lumpuh bahkan banyak berwacana namun miskin aksi nyata.

Melalui mahasiswa, reformasi lahir dengan spirit persatuan dan keinginan bersama untuk perubahan sistemik, namun fakta sekarang mahasiswa tidak seheroik sebelum reformasi lahir. Hedonisme, terlalu bangga dengan ideologi organisasi serta gerakan mahasiswa yang bersifat kedaerahan yang tidak lagi terpusat terhadap isu-isu kekinian. Semoga mahasiswa sekarang tidak miskin intelektualitas yang hanya pandai berretorika, kaya wacana namun miskin aksi nyata.

(Ade Irmanus Sholeh adalah mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu (UPB) Kabupaten Brebes, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Bahasa Inggris)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita