Korban longsor di Dukuh Gronggongan Desa Wanareja, Sirampog, disemayamkan di rumahnya sebelum dimakamkan (Foto: Zaenal Muttaqin)
PanturaNews (Brebes) - PT Perhutani KPH Pekalongan Barat, serahkan bantuan tali asih sebagai uang duka kepada keluarga korban longsor di Dukuh Gronggongan, Desa Wanareja, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Selasa 22 November 2016.
Bantuan diserahkan oleh ADM PT Perhutani Pekalongan Barat, Anton Fajar Agung saat meninjau ke lokasi bencana longsor. Bantuan tali asih diberikan, karena korban yang bernama Duripah (42) tewas akibat longsor di lahan Perhutani, di Petak 21 D RPH Kalikidang, BKPH Paguyangan.
"Taliasih sekedar berupa uang duka untuk meringankan beban keluarga korban," katanya.
Menurutnya, lokasi longsor merupakan kawasan hutan Perhutani Petak 21 D RPH Kalikidang BKPH Paguyangan. Pada lokasi longsor terdapat tegakan pinus tanaman tahun 2012 dan tanaman tahun 1956 di bagian atas.
"Lokasi longsor merupakan tebing terjal dengan kemiringan 70 derajat," ujar Anton.
Dikatakan, longsor terjadi karena hujan lebat dan kondisi tanah yang mulai jenuh akibat penggarapan oleh warga dengan tanaman sayur yang sudah berlangsung cukup lama. Sementara kawasan hutan di Brebes Bagian selatan ini sangat rawan terjadi bencana longsor.
"Di wilayah sudah cukup lama terjadi penggarapan lahan oleh warga dengan komoditi sayuran dan itu sangat rawan longsor," ungkap Anton.
Peristiwa longsor yang menelan korban jiwa tersebut, menjadi peringatan bagi semua terutama warga sekitar hutan. Perilaku yang tidak ramah terhadap hutan akan berakibat fatal.
"Kalau kita tidak ramah terhadap alam maka alam yang akan menghukum kita," ucap Anton.
Perhutani telah berupaya untuk mengalihkan komiditi di bawah tegakan dari tanaman sayuran ke tanaman kopi. Karena tanaman kopi lebih ramah dan dapat hidup di bawah tegakan.
Upaya tersebut ternyata tidak mudah, karena tanaman kopi membutuhkan waktu untuk dapat dinikmati hasilnya. Sementara warga selama ini sudah merasa mendapatkan keuntungan lebih cepat dengan tanaman sayur.
"Tanaman kopi tidak sekarang tanam besok panen, perlu waktu tidak seperti sayuran," kata anton.
Meski begitu Perhutani terus melakukan sosialisasi kepada warga sekitar hutan dengan menggandeng Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Perhutani juga memberikan bantuan kepada LMDH berupa bibit kopi untuk disemai dan selanjutnya ditanam. Tanaman kopi sebenarnya lebih menguntungkan, hanya perlu waktu sampai nanti bisa dipanen.
"Diaharapkan Pemda Brebes juga dapat membantu untuk mensukseskan pengalihan komoditi dari sayur ke kopi ini," tandas Anton.