Ilustrasi
PanturaNews (Brebes) - Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang digawangi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, akan menyelenggarakan berbagai kegiatan.
Ketua Panitia Hari Santri Nasional Kabupaten Brebes, H Musafa menjelaskan, kegiatan pada HSN antara lain Ikrar Santri Indonesia yang diikuti lebih dari 7 ribu santri di Pesantren Al Hikmah 2 Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Sabtu 22 OKtober 2016 pukul 09.00 WIB
Selanjutnya pukul 10.00, donor darah di PC NU. Kemudian pukul 13.00 Kirab hari santri dengan star di halaman masjid Al Ittihaj Jatibarang sampai Pondok pesantren Darussalam Jatibarang Kidul yang diikuti 3000 santri. Sesampainya di Darussalam, dilanjut istighosah, sholat ashar berjamaah.
“Istighosah dipimpin Syeh Sholeh Basalamah, Kiai Mansyur, Syeh Said hingga menjelang sholat Maghirb. Disamping itu, pembacaan Sholawat Nariyah 1 Miliar, akan dilangsungkan di gedung PC NU Brebes,” ujar Musafa, Jumat 21 Oktober 2016.
Rangkaian berikutnya, kata Musafa, pada Ahad 23 Oktober, pukul 09.00 WIB digelar halaqoh kebangsaan dengan tema wahabi dan terorismen di Ponpes Darussalam Jatibarang. Sebagai pembicara, yakni Dr KH Arwami Saeroji Rektor Mahad Aly Al Hikamus Salafiyah Cirebon yang juga aktifitas Muda NU dan BNPT Jakarta.
Ketua PC NU Brebes H Athoillah Syatori memandang, peringatan HSN membuktikan kalau kaum santri tidak melulu mengurusi persoalan agama saja. Tetapi, justru menyangkut kepentingan bela Negara, Nasionalisme yang berlandaskan agama.
Hari santri, lanjut Athoillah, telah membuktikan bahwa kaum Nahdliyin (warga NU) tidak memiliki keraguan dalam jihad. Karena justru kelahiran HSN telah mengingatkan kepada kita kalau para kiai dan santrinya menitahkan Resolusi Jihad sebagai embrio perebutan kembali NKRI pada 10 November 1945 dari penjajah yang ingin menguasai kembali Ibu Pertiwi.
Semangat Hari Santri, lanjutnya, saat ini harus diejawantahkan dengan terus berjuang, belajar dengan semangat guna mengisi kemerdekaan. Tantangan era kini, juga masih banyak untuk itu jangan tinggal diam karena penjajahan yang terjadi sekarang bentuknya berbeda yang kadang tidak terlihat seperti melalui tontonan, teknologi komunikasi, narkoba, dan terorisme.
Atho turut bangga dengan peningkatan jumlah santri yang signifikan diera kini. Karena disamping ada dorongan dari orang tua, juga perhatian pemerintah yang semakin meningkat terhadap pondok pesantren.
“Jumlah santri kini jumlahnya semakin menggembirakan, terutama di pondok pesantren yang memadukan dengan pendidikan formal. Tapi untuk pondok pesantren yang tidak ada pendidikan fiormalnyanya masih stagnan,” pungkasnya.