Menurut Poerwadarminta, karakter didefinisikan sebagai tabi’at, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak maupun budi pekerti. Karakter seseorang tidak bisa dibentuk dengan mudah, dan karena itu banyak orang berpendapat bahwa katanya karakter itu tak bisa diubah. Tentu para pakar psikologi membantah mitos tersebut, karena pada dasarnya karakter seseorang itu bisa berubah asal didorong oleh keyakinan dan keinginan yang kuat untuk mengubahnya. Sebagaimana Allah SWT berfirman bahwa “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak mau mengubahnya”.
Pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Filsuf Aristoteles bahkan pernah menegaskan bahwa “Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan suatu kebiasaan”. Jika kita seorang pemalas, bisa jadi merupakan suatu karakter.
Pada sisi lain karakter itu sendiri merupakan kebiasaan yang melekat dan terus-menerus dilakukan, sehingga jika kebiasaan itu bisa kita ubah menjadi sebaliknya, maka tentu karakter kita pun akan berubah. Bagaimana mentransformasikan kebiasaan buruk (bad habit) menjadi kebiasaan baik (good habit).
Kesimpulannya adalah bahwa perubahan (change) itu merupakan ruhnya dari pendidikan. Jika pendidikan yang kita jalankan saat ini belum mampu mengubah bad habit bangsa ini ke arah good habit, maka secara sederhana bahwa sistem pendidikan kita berarti sudah gagal.
Karakter tidak otomatis berkembang perlu ada rekayasa sosial yang dirancang dan dilaksanakan secara sadar dengan arah yang jelas. Rekayasa sosial ini semakin penting, karena karakter bersifat multidimensi yang memerlukan partisipasi dari berbagai pihak. Sekolah/lembaga pendidikan secara mandiri tidak akan mampu mengembangkan karakter di kalangan peserta didik. Rekayasa sosial untuk pembangunan karakter perlu direncanakan dan dilaksanakan sebaik dan secermat mungkin.
Dengan demikian secara simplistis juga, saya ingin tegaskan bahwa jika saat ini bangsa kita masih dihadapkan pada persoalan korupsi yang semakin merajalela, persoalan kekerasan, persoalan hilangnya budaya malu, persoalan kerusakan lingkungan hidup, persoalan kemiskinan yang kronis, dan masalah-masalah sosial lainnya bisa dipastikan karena memang ummat muslim yang notabene mayoritas penghuni bangsa ini belum benar dan baik dalam melakukan sholatnya sebagai ibadah fundamental. Proses pembentukan karakter, baik disadari maupun tidak, akan mempengaruhi cara individu tersebut memandang diri dan lingkungannya dan akan tercermin dalam perilakunya sehari-hari.
Akhir kata, saya ingin menegaskan bahwa untuk membangun Indonesia menjadi bangsa yang solid, maka pemerintah dan kita sebagai warga negara harus sungguh-sungguh mengembalikan karakter sejati dari bangsa ini, yaitu bangsa pejuang, bangsa yang ikhlas, dan bangsa pemenang.
(Baqi Maulana Rizqi adalah Ketua Umum Komisariat HMI Ibnu SIna Bumiayu, Mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Jurusan Ekonomi Prodi Manajemen)