Kabupaten Brebes merupakan daerah terluas dengan luas wilayah 1.663 km2, dan juga terpadat urutan nomer dua di Propinsi Tawa Tengah setelah Kabupaten Cilacap. Jumlah penduduk 1,741,181, Tingkat Indeks Pembagunan Manusia (IPM) yang masih rendah untuk kawasan Kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Kemudian angka buta aksara yang sangat tinggi 110 ribu orang, atau ranking 6 tingkat Nasional dari bawah.
Hal tersebut merupakan pekerjaan rumah Pemerintah Kabupaten Brebes yang sangat berat. Angka lama sekolah (kelulusan) warga Kabupaten Brebes rata-rata 5,7 tahun (tidak lulus sekolah Dasar). Walaupun data tersebut masih menjadi polemik di kalangan birokrat di Kabupaten Brebes.
Potensi Lembaga Pendidikan
Jumalah Sekolah di Kabupaten Brebes untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah 1.098 sekolah terdiri SD 889 dan MI 209. Dengan jumlah ruang kelas 7.307 ruang kelas dengan jumlah siswa 197.783 anak. Sedangkan jumla perpustakaan Sekolah (SD dan MI) adalah 542 Ruang Perpustakaan 404 berada di SD dan 138 ada di MI.
Jumlah Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) 281 sekolah dan 2.538 Ruang Kelas dengan jumlah siswa 91.903 anak sedangkan untuk jenjang Sekolah Menengah ( SM ) terdapat 49.983 orang anak tersebar pada 178 sekolah dengan jumlah ruang kelas 10.980 ruang kelas.
Jika kita jumlah secara keseluruhan potensi sumber daya di tingkat sarana di sekolah sangat potensial Jumlah ruang kelas dari tingkat SD – SM (1.556 Sekolah) dengan jumlah Ruang kelas 11.999 Ruang Kelas dan Jumlah siswa 345.089 orang anak (Sumber buku profil pendidikan Kabupaten Brebes tahun2014/2015 ) .
Sehingga jika kita total Jumlah ruang kelas yang tersedia dari SD – SM = 11.999 ruang kelas dengan rata-rata per kelas adalah 30 maka jumlah siswa dari SD – SM= 359.970 Siswa. Jika gerakan membaca di mulai dari kelas maka jumlah anak x sumbangan buku per anak 5 maka terkumpul = 1.799.850judul buku.
Seiring dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Komunikasi dimasyarakat, hal tersebut berpengaruh langsung terhadap psikologi dan prilaku di masyarakat. Era digital serba mudah dan cepat membuat orang sekarang cenderung tidak sabar dalam menyelesaikan kepentingan pribadinya masing-masing dan cenderung berprilaku individual. Hal tersebut merupakan bagian kecil dari dampak perkembangan teknologi.
Sekolah sebagai pusat pembentukan karakter anak diharapakan mampu mengikuti perkembangan dan dinamika yang berkembang pesat di masyarakat dimana alat dan sistem komunikasi sekarang merupakan Basic Need/Kebutuhan Dasar di masyarakat. Kultur budaya membaca yang masih sangat rendah di masyarakat di perparah dengan masuknya teknologi komunikasi yang pesat membuat tantangan bagi warga sekolah (Kepala Sekolah, guru, komite dan siswa).
Warga sekolah dituntut menyelesaikan beban berat yang dihadapi dalam menjaga eksistensi pusat pembelajaran , inspirasi inovasi dan kreatifitas serta kritis . Buku harus dijakdikan sebagai media utama masyarakat untuk belajar dan bersosialisasi dalam era digital sekarang. Book Corner harus menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi oleh masyarkat. Tempat yang mampu memberi inspirasi munculnya inisiatif, kreatifitas dan tanggungjawab.
Masalah Budaya Membaca
Masalah pendidikan nasional adalah sekaligus juga merupakan penyebab sejumlah masalah yang dihadapi dalam menumbuh-kembangkan minat, kegemaran, dan kebiasaan membaca sehingga membudaya di kalangan masyarakat. Membaca itu dianggap membudaya apabila kegiatan membaca telah menjadi kebiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan dan bagian dari kebutuhan hidup sehari- hari.
Belum meratanya kesempatan memperoleh layanan pendidikan mengakibatkan belum meratanya juga kesempatan mengembangkan kemampuan membaca, yang artinya juga belum menjadikan membaca suatu kegiatan apalagi kebiasaan. Kemampuan dan keterampilan membaca mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap hasil belajar.
Dengan demikian, rendahnya mutu pendidikan menunjukan indikasi rendahnya kemampuan dan keterampilan membaca peserta didik di masyarakat. Belum berkembangnya budaya membaca di kalangan masyarakat Indonesia secara umum dan Kabupaten Brebes secara khusus antara lain dapat disebabkan oleh masalah-masalah berikut:
1.Keterbatasan Layanan Perpustakaan dan Taman Baca Masyarakat.
Jumlah dan sebaran perpustakaan serta Taman Baca Masyarakat (Book Corner) belum menjangkau semua desa/kelurahan sehingga masih banyak masyarakat yang tidak mempunyai akses terhadap layanan bahan bacaan/Liceracy. Disamping itu, koleksi bahan bacaan di perpustakaan dan Book Cornerbelum dapat memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat penggunanya.
Saat ini terdapat 2 unit Perpustakaan yang dikelola Pemerintah Daerah, dan 52 Taman Bacaan Masyarakat yang terdapat diwilayah Kabupaten Brebes dan ini sangat jauh dari kata Ideal dibading dengan luas wilayah dan kepadatan jumlah penduduk.
2.Kondisi Ekonomi.
Keadaan ekonomi masyarakat secara umum masih belum memungkinkan untuk menyediakan dana khusus pembelian bahan-bahan bacaan. Masih banyak anggota masyarakat yang berada dalam garis kemiskinan sehingga yang menjadi prioritas adalah kebutuhan untuk mempertahankan hidup.
Buku belum menjadi kebutuhan untuk segera dipenuhi, karena buku masih tergolong “ barang mahal “ dibanding dengan benda/barang lain yang memilki manfaat secara langsung untuk pemilik/pengguna.
3.Sistem Pembelajaran
Proses belajar dan pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikkan belum mampu memberikan kemampuan dan ketrampilan membaca yang unggul serta membentuk peserta didik yang gandrung membaca. Akibatnya, kegiatan membaca yang seyogyanya merupakan salah satu ciri kepribadian seorang pelajar dan pengajar, ternyata masih belum tampak setelah peserta didik menyelesaikan kegiatan studinya dan meninggalkan lembaga pendidikan.
4.Kondisi Sosial Budaya.
Pada umumnya, masyarakat masih lebih terbiasa berkomunikasi secara lisan. Atau dengan kata lain, masyarakat lebih banyak menggunakan bahasa lisan/tutur/berbicara dalam pergaulan hidup sehari-hari. Penggunaan bahasa tulis atau budaya menulis dan membaca masih belum menjadi salah satu kebutuhan hidup sehari-hari.
5.Kemampuan Membaca dan Sikap masyarakat.
Masih cukup banyak masyarakat yang masih buta aksara. Tercatat dalam data di Kabupaten Brebes bahwa warga Kabupaten Brebes 110 ribu masih berstatus buta aksara. Masyarakat belum menganggap kegiatan membaca sebagai salah satu kegiatan belajar yang dapat mengembangkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan untuk meningkatkan kualitas diri dan hidupnya secara tuntas.
6.Rendahnya Promosi Gemar Membaca.
Upaya pemerintah dan masyarakat masih kurang gencar dalam mempromosikan pengembangan budaya baca ke seluruh lapisan masyarakat secara berkesinambungan melalui berbagai media komunikasi. Berbagai masalah/hambatan yang dikemukakan itu merupakan tantangan yang perlu ditanggapi dan diatasi dalam meningkatkan minat baca masyarakat sehingga menjadi suatu kebiasaan yang kemudian menjadi gandrung membaca.
Kompleksnya masalah memerlukan pendekatan multidisiplin yang sistemik sehingga dapat diatasi secara tuntas. Upaya atau pemecahan masalah secara parsial dan kurang terencana nampaknya tidak akan dapat mengatasi masalah secara tuntas.
7.Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang berkembang cepat dengan potensinya yang mampu menyajikan berbagai informasi dalam tampilan pandang dengar yang menarik sehingga sangat berpeluang untuk menjauhkan minat banyak masyarakat dari kegiatan membaca sabagai cara untuk memperoleh informasi. Minat dan kegemaran membaca masih belum tumbuh dan berkembang secara mapan disaat teknologi komunikasi pandang dengar mulai berkembang pesat merasuk ke tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Solusi yang ditawarkan untuk membudayakan membaca pada masyarakat Kabupaten Brebes:
1.Menambah Akses Layanan Literacy dan Taman Baca Masyarakat (Book Corner/Sudut Baca)
Pemerintah Kabupaten Brebes Perlu membuat Program “ Brebes Membaca” dengan implemtasi program “ Book Corner / Pojok Baca” hal tersebut untuk masyarakat disemua fasilitas publik ( Kantor pemerintah, Dinas, Badan, Sekolah, masjid/musholla serta fasilitas publik lainya, di wilayah kabupaten Brebes) hal tersebut dalam rangka Penambahan Jumlah dan sebaran bahan literacy/Bahan Baca terhadap masyarakat. Sehingga bahan baca bisa di akses oleh masyarakat dengan mudah dan murah bahkan gratis.
2.Book Corner / Pojok Buku sangat ekonomis
Pojok Buku adalah solusi untuk masyarakat dalam keadaan ekonomi yang masih rendah untuk tetap bisa menikmati buku bacaan secara gratis. Pojok Buku disediakan di semua Instansi Baik Pemerintah ataupun swasta dari Kantor Bupati hingga Kantor Kelurahan/Balai Desa. Hal tersebut dilakukan dalam upaya mempermudah masyarakat untuk dapat mengakses sumber baca tanpa harus membeli.
3.Pojok Buku Book Corner disekolah menguatkan proses pembelajaran
Proses belajar dam pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan belum mampu memberikan kemampuan dan keterampilan membaca yang unggul serta membentuk peserta didik yang gandrung membaca. Untuk itu Pojok perlu ada di fasilitas publik, Terminal, Pasar, Rumah Sakit, Puskesmas dan tempat lain. Pojok Buku wajib ada di Ruang Kepala Sekolah, Ruang Guru dan juga di didepan kelas masing- masing di Seluruh Sekolah Se-Kabupaten Brebes, Tentunya Dinas Pendidikan sebagai Central Office/Kependidikan harus menjadi “ Pilot Project/Percontohan “ pengembangan budaya baca di Kabupaten Brebes.
Karena Lingkungan pendidikan sebagai referensi instansi lain dalam rangka pengembangan budaya baca. Potensi jumlah sekolah dan ruang kelas harus di optimalkan jika total Jumlah ruang kelas yang tersedia dari SD – SM = 11.999 ruang kelas dengan rata-rata per kelas adalah 30 maka jumlah siswa dari SD – SM= 359.970 Siswa. Jika gerakan membaca di mulai dari kelas maka jumlah anak x sumbangan buku per anak 5 maka terkumpul = 1.799.850 judul buku, adal jumlah yang sangat fantastis dan strategis.
Membaca merupakan perintah Allah SWT yang diajarkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malikat Jibril dengan ayat yang turun pertama yaitu “ IQRO “yang artinya “Bacalah.!” artinya jika kita ingin lebih memiliki derajat dan martabat yang baik maka dengan “ Membaca ”.
Budaya baca di Kabupaten Brebes wajib digalakan dan di kampanyekan secara terus - menerus sehingga Kabupaten Brebes yang tercinta tidak terkenal dengan BUTA HURUF-nya, Budaya baca harus di sosialisasikan keseluruh masyarakat disegala tingkatan, dan sekolah adalah tempat yang cocok untuk merubah cultrue lisan menjadi culutre membaca sebagai cultrure intelektual sehingga membaca pada akhirnya menjadi kebutuhan masyarakat dan “ Nilai/Derajat” masyarakat Kabupaten Brebes menjadi lebih baik dan lebih bermartabat diantara Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Sukses Program Literasi Sekolah diharapakan mampu merubah status Brebes dari Kota BUTA HURUF.
“ Ayoo Membaca, untuk Brebes lebih baik dan Bermartabat,”
(Kustoro WHY, S.IP adalah Ketua LSM AGUSTUS dan Ketua DPD Forum Taman Baca Masyarakat Kabupaten Brebes)