Minggu, 26/07/2015, 06:28:31
Halal Bihalal Bersama Para Aktivis Anti Korupsi
-Laporan Takwo Heriyanto

Para anggota Gebrak saat halal bihalal di markas Gebrak, jalan Taman Siswa Brebes (Foto: Takwo Heryanto)

Panturanews (Brebes) - Memperingati momen lebaran hari raya idul fitri, dimanfaatkan oleh Gerakan Berantas Korupsi (Gebrak) dengan menggelar halal bihalal di markas Gebrak, jalan Taman Siswa Brebes, Minggu 25 Juli 2015 siang.

Kegiatan yang digelar rutin setiap tahun ini, dihadiri puluhan aktivis anti korupsi yang tersebar di wilayah Kabupaten Brebes. Diantaranya, dari Forum Masyarakat Anti Korupsi Kemiriamba Kecamatan Jatibarang (Formak), Forum Masyarakat Desa Sidamulya Kecamatan Wanasari (Formasi) dan sejumlah forum aktivis anti korupsi serta organisasi kemasyarakatan, kepemudaan, dan mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Brebes (KPMDB) serta lainnya.

Tak terkecuali dari kalangan petani, nelayan, kepala sekolah, guru, mantan guru, mantan kepala desa, paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL) juga turut hadir dalam acara yang dihadiri sekitar 50 orang tersebut.

Dalam kesempatan itu, selain memperkenalkan satu persatu, mereka juga menyampaikan gendu-gendu rasa terhadap persoalan kasus-kasus dugaan korupsi yang telah dilakukan maupun persoalan kepedulian desa maupun daerah juga bangsa yang diperjuangkan selama ini.

Koordinator Gebrak, Darwanto misalnya. Pegiat anti korupsi yang pernah memperjuangkan kasus-kasus korupsi dari mulai bupati hingga kepala desa ini menyampaikan, tiga pokok persoalan daerah maupun bangsa yang ikut menjadi tanggung jawab bersama.

"Ketiga pokok persoalan yang ikut menjadi tanggung jawab kita bersama itu, adalah memberikan perlindungan warga, memajukan daerah dan mensejahterakan warga," ujar Darwanto.

Selama ini, kata Darwanto, daerah maupun negara masih belum berhasil menyelesaikan maupun memperjuangkan ketiga pokok persoalan tersebut.

"Contohnya adalah adanya kasus Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Brebes ada yang dihukum mati di luar negeri, namun daerah maupun negara gagal melindunginya. Termasuk kasus di Tolikora, Provinsi Papua juga negara gagal memberikan perlindungan," tutur Darwanto.

Kemudian, lanjut Darwanto, daearah maupun negara masih gagal dalam mencerdaskan rakyatnya. Hal itu mengingat masih banyaknya angka anak putus sekolah atau butu huruf yang masih tinggi, misalnya di Kabupaten Brebes sendiri.

Sementara dalam memberikan kesejahteraan rakyatnya, daerah maupun negara juga belum mampu memberikan yang terbaik bagi mereka.

"Oleh karena itu, sebagai bentuk kepedulian kita terhadap daerah mapun negara, mari kita ikut tanggung jawab bersama untuk bisa memperjuangkan ketiga pokok persoalan ini," ungkap Darwanto.

Sementara aktivis lainnya dari Mr. Besar Institute Kota Tegal, Andika, yang ikut hadir dalam acara halal bihalal ini memberikan apresiasi kepada Gebrak. Pasalnya bisa mengumpulkan sejumlah aktivis anti korupsi maupun elemen masyarakat di Kabupaten Brebes. Bahkan secara harmonis bisa bersama-sama ikut peduli terhadap persoalan-persoalan daerah demi kemajuan dan kesejaheraan masyarakat Kabupate. Brebes.

"Berbeda dengan di Kota Tegal yang menurut saya sulit untuk menyatukan aktivis maupun elemen masyarakat Kota Tegal dalam memperjuangkan kemajuan dan Kesejahteraan masyarakat Kota Tegal.

Namun, kami pernah berjuang menjatuhkan orang hukum seperti pengacara dan dalam menangani suatu kasus hukum. Ini kebanggan tersendiri bagi kami, karena sebagai orang yang bodoh dalam politik maupun bisa menjatuhkannya. Tapi, kami akan terus mencoba bangkit bersama aktivis lainnya demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Kota Tegal," tandasnya.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita