Abdullah Wong
PanturaNews (Brebes) - Abdullah Wong sebagai nama penyair. Kadang menggunakan nama Wong Dzolim. Nama sebenarnya adalah Abdullah Imam, tapi akrab disapa Wong. Ia lahir di Jatirokeh, Kabupaten Brebes pada 12 November 1977. Ayahnya Almarhum Bachwar Wirya Saradimulya dan ibunya Almarhumah Chamilah binti Kyai Mahfudz bin H. Mi’raj.
Pendidikan dini dimulai dari TK Pertiwi Jatirokeh asuhan Ibu Siti. Kemudian melanjutkan sekolah dasar di SDN II Jatirokeh di pagi hari dan sore hari sekolah di Madrasah Diniyyah Awaliyah, Pesantren Al-Falah Jatirokeh yang saat itu diasuh almarhum Kyai Tarsudi dan Kyai Sofwan Tarsudi. Sejak kecil mengaji khazanah klasik kepada ulama-ulama di kampungnya seperti Kyai Umar, Kyai Hasyim, dan terutama kepada almarhum Kyai Nurcholis Mahmud.
Pendidikan menengah ditempuh di MTs Asyafi’iyyah, Jatibarang. Setamat MTs, Wong melanjutkan pendidikan ke MAN Babakan Lebaksiu Tegal. Di Babakan inilah Wong mengaji kepada Kyai Malik bin Isa, Kyai Sya’roni juga Kyai Khowi. Pada tahun 1995 lulus dari MAN Babakan dan melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Kempek Cirebon, Jawa Barat.
Di pesantren yang diasuh oleh Almarhum KH. Ja’far Shodiq ‘Aqiel, kakak kandung dari Prof. Dr. KH. Sa’id Aqiel Siradj ini, Wong makin mendalami khazanah klasik Islam. Pada tahun 1999, Wong meninggalkan pesantren Kempek untuk merantau dan berkunjung ke sejumlah pesantren di tanah air. Sejak itu Abdullah Wong mulai mengembara baik secara intelektual maupun spiritual. Ia mengunjungi tokoh ulama, pesantren-pesantren, hingga para seniman.
Tak hanya ulama dari kalangan muslim, Wong juga mengunjungi tokoh-tokoh lintas agama. Pengembaraannya itu menghantarkan dirinya sampai ke Jakarta.
Di Jakarta ia sempat tercatat kuliah di beberapa universitas. Pertama pada 2001 tercatat kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dengan jurusan Ilmu Komunikasi. Tak puas di UMJ, pada tahun 2003 Wong melanjutkan ke Sekolah Tinggi Filsafat (STF) – Driyarkara, Jakarta. Di kampus Katolik ini Wong mendalami filsafat Barat. Tak lama kemudian pada tahun 2006 Wong kuliah di Islamic College for Advanced Studies (ICAS) a Branch of London di Jakarta. Di ICAS ini Wong mendalami filsafat dan metafisika Islam.
Selain bergulat di ranah intelektual, di ibukota inilah Wong mulai menapaki jejak kebudayaan. Menulis sajak, mendirikan grup teater, menulis naskah dan menggelar pentas drama, hingga menulis lirik lagu.
Wong juga dikenal sebagai penulis dan editor lepas di beberapa penerbit. Menulis skenario film dokumenter untuk beberapa stasiun TV lokal dan Negara tetangga. Kontributor kajian religi di sejumlah radio seperti KIS FM, Mustang FM, dan Lite FM. Pemateri tetap dalam Pembibitan Calon Dai Muda Tingkat Nasional di Departemen Agama sejak 2012 hingga kini.
Di antara karya buku yang pernah ditulis adalah Beyond Motivation (Penerbit Noura Books, 2012); Cinta Gugat (Kumpulan Sajak-2014); Novel MADA (Penerbit Makkatana, 2013); buku Jimat NU (penerbit Ar-Ruz, 2014). Untuk Novel MADA pernah dipentaskan dalam bentuk drama teater kolosal arahan sutradara Bambang Prihadi di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 27 & 28 September 2013. Novel MADA juga menginspirasi pameran instalasi MADA arahan Aidil Usman pada 18-24 Oktober 2013 di TIM, Jakarta. Novel Mada juga diikutkan dan dibincangkan dalam Festival Buku dan Apresiasi Sastra pada 23 APRIL sampai 23 MEI 2014 di Yogyakarta.
Jejak lain yang pernah ditapaki Abdullah Wong adalah menjadi sutradara Persinggahan, Karya alm. Zainal Arifin Toha di Teater Lingkar, Jakarta (2003); Menulis dan menyutradarai pentas Kematian Kehidupan (2004); Menulis naskah drama Kerudung Kertas (2004); Monolog Malingzt, dipentaskan oleh aktor Mirzan Insani di UIN Jakarta (2009).
Menulis naskah Cermin Bercermin dipentaskan di Bentara Budaya Jakarta pada 28 – 29 Oktober 2011; Riset Kampung Baduy untuk pentas Kubangan (2007); Peracik naskah Kubangan (2008); Riset dan Menyusun buku Orang Pulo di Pulau Karang dalam Hajatan Pulang Babang di Kepulauan Seribu (2011-2012); Narator Opera Verdi II Trovatore pada Festival Schouwburg X bersama Catharina W. Leimena di Gedung Kesenian Jakarta (2012); Penulis dan ide cerita drama MADA yang dipentaskan Lab Teater Ciputat dan Teater Syahid di Hall Student Centar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (2013).
Menjadi sutradara pentas Suluk Sungai – Sedekah Sungai di Hutan Kota Kali Pesanggrahan dalam program Kota Tenggelam bersama Dewan Kesenian Jakarta di Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana (2014); Sutradara dan proses Suluk Sungai (Performance Solo dan Kolektif) di Lab Teater (2015).
Karya terbaru Abdullah Wong adalah sebuah novel berjudul Mata Penakluk yang berisi Manaqib KH. Abdurrahman Wahid. Menurut penulis, novel ini akan dilanjutkan dengan sequel berikutnya dengan judul Hati Sang Penakluk. Lelaki yang lahir di Jatirokeh ini pernah membacakan cerpen Pengemis dan Shalawat Badar karya Ahmad Thohari dalam acara Orasi Budaya di gedung PBNU, Jakarta pada tahun 2014.
Abdullah Wong hingga kini masih aktif di berbagai kegiatan kebudayaan. Menjadi pembicara disuksi dan seminar, menulis dan membaca puisi, hingga menyampaikan orasi budaya di berbagai kota. Wong juga bergiat di Laboratorium Teater yang ia dirikan. Di Laboratorium Teater yang bermarkas di hutan kota Sangga Buana, Kali Pesanggrahan, Karang Tengah, Jakarta Selatan ini, Wong menjadi penulis naskah, pelatih dan sutradara.
Novel lain yang tengah dipersiapkan adalah Hati Sang Penakluk dan Wakta Nihaya. Saat ini Wong berdiam di pinggiran Jakarta bersama istrinya Naning Nurhalimah dan kedua buah hatinya, Puisi Wihdah dan Damar Arahat Abdullah.