Kamis, 01/04/2010, 16:11:00
Siswa Sekolah Pelayaran Babak Belur Dikeroyok
JAY-Riyanto Jayeng

Kepala SUPM Tegal, Djodie Soepriatman, APi, MM, MBA.

PanturaNews (Tegal) - Seorang siswa kelas 3 bagian Nautika di Sekolah Umum Pelayaran Menengah (SUPM) Negeri Jalan Irian, Kota Tegal, Jawa Tengah, Oka Wignyo Sejati (18) warga Desa Gembyang, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, babak belur dengan luka sobek di bagian wajah akibat dikeroyok 6 teman satu asramanya. Kini korban masih menjalani perawatan di ruang Anggrek B3 Rumah Sakit Mitra Siaga, Kramat, Kabupaten Tegal.

Sementara orang tua korban, Makmur (45) saat dikonfirmasi mengatakan tidak berkenan memberikan komentar apapun. Namun dia membenarkan anaknya yang kini dirawat di RS Mitra Siaga, adalah korban pengeroyokan teman-temannya pada Jumat 26 Maret 2010 malam lalu di asrama siswa SUPM Tegal.

“Saya tidak akan berkomentar apapun mas, yang jelas anak saya memang jadi korban pengeroyokan dan kini masih dirawat. Kaitan itu kami selaku orang tua sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah, bahkan biaya perawatan anak kami juga akan ditanggung oleh siswa yang mengeroyoknya,” kata Makmur.

Kepala SUPM Tegal, Djodie Soepriatman, APi, MM, MBA saat dikonfirmasi, Kamis 01 April 2010 siang menyatakan, peristiwa kekerasan diantara siswa-siswanya yang menyebabkan salah satunya masuk rumah sakit, disebabkan oleh kesalahpahaman antar mereka.

Lebih jauh Djodie menjelaskan, peristiwa itu berawal dari salah seorang siswanya bernama Asep Wijanah kelas 3 bagian Mekanik, mengaku kehilangan telpon genggam  (HP). Lalu atas usulan temannya yang bernama Rozak, Asep menyelidiki pelaku pencuri HP itu ke salah seorang paranormal bernama Agus yang berdomisili di belakang Rita Mall. Berdasarkan keterangan Agus, sejumlah siswanya mencurigai Oka sebagi pelaku pencurian, karena semua ciri-cirinya persis dengan yang disampaikan Agus sang paranormal.

“Jumat sore itu mereka menginterogasi korban. Karena korban merasa tidak mencuri HP maka dilakukan tindak kekerasan yang ujungnya sekitar pukul 12 malam, korban dibawa ke tempat sepi di komplek asrama siswa lalu dihajar hingga babak belur. Bahkan mengalami luka sobek di beberapa bagian wajahnya,” ungkap Djodie.

Sementara, Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan, Utoyo menambahkan, saat peristiwa pengeroyokan itu terjadi, tak satupun guru piket mengetahui. Dikatakan, terhadap 6 siswa pengeroyok akan dikenai sanksi tegas berupa pengeluaran dari asrama atau skorsing maupun pemecatan sebagai siswa SUPM.

Dijelaskan, sebelumnya pihaknya selaku Guru Kesiswaan sudah mengingatkan agar bagi siswa yang mempunyai HP maupun uang dititipkan kepada guru piket. Hal itu untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

“Kami membolehkan siswa membawa HP di asrama dan tetap kami kontrol, namun kami juga sudah pernah mengultimatum agar siswa yang membawa HP maupun sejumlah uang agar dititipkan ke guru piket. Rupanya ultimatum kami ini nggak digubris hingga terjadi peristiwa pencurian dan pengeroyokan itu,” tutur Utoyo.

Hal senada disampaikan Mukhtar, selaku guru Kedisiplinan. Menurutnya, 6 siswa yang saat ini terbukti mengeroyok, berdasarkan pengakuan sendiri dan pengakuan saksi antara lain, Rakhmat Jaya, Rizal Raelani, Eko Winarno, M Prasetyo, M Hadi Lukman dan Ridwan.

“Saat ini pengakuan mereka sudah kami BAP-kan dan kami sudah memanggil orang tua masing-masing serta orang tua korban untuk dicapai penyelesaian secara kekeluargaan,” tandasnya.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita