Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengamati jentik nyamuk saat berkunjung ke Brebes (Foto: Takwo Heriyanto)
PanturaNews (Brebes) - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menguras kolam yang banyak dipenuhi jentik nyamuk, saat blusukan di Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Kamis 12 Pebruari 2015. Ganjar melakukan hal itu karena jentik nyamuk merupakan pemicu berkembangbiaknya nyamuk aidest aigepty yang menyebabkan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
"Ini kolam banyak jentik nyamuknya. Saya kuras langsung biar tidak menimbulkan penyakit DBD," ujar Ganjar saat berkunjung ke Balai Desa Tegalglagah, didampingi Bupati Brebes, Hj. Idza Priyanti SE.
Usai menguras kolam, orang nomor satu di Jateng itu juga menyalami warga setempat sembari berdialog mengkampanyekan 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur). "Tolong ya ibu, bapak untuk rajin menguras kolam dan membersihkan saluran-saluran air yang banyak jentik nyamuknya, karena ini bisa menyebabkan DBD," pintanya.
Pesan itu juga disampaikan kepada murid-murid SD Negeri 1 Tegalgalagah, yang lokasinya berada di depan balai Desa Tegalgalagah. Sambil menyalami mereka, Ganjar berharap agar pesan untuk rajin menguras kolam disampaikan sama orang tuanya.
"Nanti bilang sama bapak juga ibu, kata Pak Gubernur, kolamnya agar rajin dikuras dan dibersihkan agar tidak menimbulkan sarang nyamuk DBD," kata Ganjar kepada murid-murid SD Negeri 1 Tegalglagah. Dalam kesempatan itu, Ganjar juga sempat menguras kolam yang berada di sekolah tersebut.
Bahkan, kembali berdialog dengan warga setempat mengkampanyekan 3 M. Disela-sela berdialognya Ganjar juga berburu jentik nyamuk di selokan-selokan yang berada di depan rumah warga. "Lah itu banyak sekali kan jentik nyamuknya. Ini tolong dibersihkan supaya bebas dari penyakit DBD," katanya sembari berjalan menuju kediaman warga yang balitanya meninggal terserang DBD.
Sesampai di tempat tujuan, Ganjar tak bosan-bosannya terus memberikan sosialiasi kepada orang tua korban maupun warga setempat mengenai pentingnya 3 M. Ditempat tersebut juga Ganjar melihat kolam/kamar mandi orang tua yang balitanya meninggal akibat DBD itu.
Sebelumnya, Ganjar melakukan kunjungan ke RSUD Brebes dan SMA Negeri 2 Brebes. Saat kunjungan di RSUD, Ganjar disamping melihat ruangan-ruangan rawat inap maupun poliklinik dan ruang IGD serta ICU juga melihat saluran air yang ada di RSUD.
"Ini nggak bener ini! Ini nggak bener ini! Masak kita kampanyekan 3M sepert ini," tegas Ganjar sambil menunjuk genangan air yang dikerubuti oleh puluhan nyamuk di selokan sepanjang RSUD Brebes didampingi Direktur RSUD Brebes, dr. Oo Suprana dan Kepala Dinas Kesehatan Brebes, dr Sri Gunadi.
Menurutnya, segala lapisan masyarakat yang ada di Brebes harus sigap secara bersama-sama untuk memberantas penyakit DBD. Apalagi, Kabupaten Brebes berada di urutan pertama terkait korban dan warga yang terserang penyakit DBD. Dimana sepanjang Januari hingga 12 Pebruari sebanyak 11 anak yang meninggal akibat demam berdarah.
"Segala lapisan masyarakat, pemerintah baik itu Dinas Kesehatan, Bupati, Wali kota, pihak rumah sakit dan lainnya harus gerakan rakyatnya untuk 3M. Itu intinya tidak cuman fogging. Foggang fogging tidak beres beres," terangnya.
Ganjar berharap paska kunjungannya ke RSUD Brebes, persoalan kematian yang tinggi karena serangan wabah penyakit DBD harus segera tertangani.
"Kita harus bikin hari ini Brebes tidak ada jentik. Kalau kita peduli saja, masing-masing rumah kita sudah beres. Kita mau mengontrol dah selesai persoalan itu. Rumah sakit harus siapkan itu," paparnya.
Selain soal buruknya kualitas bangunan RSUD Brebes, Ganjar juga mengeluhkan tentang standar operasional (SOP) penanganan RSUD Brebes yang masih banyak dikeluhkan pasien.
Termasuk, sempitnya ruang penanganan pasien di bagian Unit Gawat Darurat (UGD) dan ICU yang tidak memenuhi syarat. Akibatnya banyak pasien yang harus menunggu di bagian luar ruang penanganan.
Saat kunjungan di SMA Negeri 2 Brebes Ganjar memberikan materi pelajaran mengenai demam berdarah. Kepada siswa, ia menjelaskan tentang bahaya dan persebaran demam berdarah. Disamping itu, meminta agar siswa juga terlibat dalam pencegahan demam berdarah.
"Mari kita peduli dengan desa kita. Jangan ada lagi kasus demam berdarah. Harus kita cegah," Tegasnya. Selain itu, Ganjar juga berbicara tentang angka kematian ibu (AKI), KB, dan penggunaan pestisida pada tanaman pangan.