Audiensi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal di Ruang Rapat Kantor Walikota (Foto: BagHumas)
PanturaNews (Tegal) - Walikota Tegal, Jawa Tengah, Hj. Siti Masitha Soeparno meminta penggalian potensi-potensi di wilayah Kota Tegal demi peningkatan perekonomian agar didukung lembaga perbankan. Perbankan diharapkan pro aktif berperan dalam pembentukkan dan pembinaan sentra industri Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) melalui program Social Corporate Responsibility (CSR).
“Mengapa tidak ada Kampung Batik by Bank BRI, by Bank BNI, atau by Bank Mandiri misalnya. Yang didalamnya ada pengembangan dan pelatihan SDM sehingga pelaku UMKM bisa mandiri dan arif kelola keuangan. Jadi CSR lembaga perbankan dapat dirasakan oleh masyarakat,” ungkap Walikota saat menerima audiensi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal Bandoe Widiarto, di Ruang Rapat Kantor Walikota Tegal Selasa 10 Februari 2015 siang.
Hadir juga Pimpinan dari lembaga perbankan di Kota Tegal lainnya yakni Pemimpin Kantor Bank BPD Jateng Cabang Tegal Darusmanto, Pemimpin BNI Kantor Cabang Tegal Himawan, Pemimpin BRI Kantor Cabang Tegal Agus Herwanto yang diwakili Manager Bisnis Mikro David Bambang Setiaji dan Pemimpin BRI Syariah Tegal Toras Pulungan. Walikota didampingi Plt. Sekda Kota Tegal Dyah Kemala Sintha, SH, Asisten 2 Setda Kota Tegal Diah Triastuti SH, Kepala Bappeda Kota Tegal Imam Badrudin, Kepala DPPKAD Drs. Joko Sukur Baharudin, Kepala Bagian Ekonomi dan Pembangunan Ir Haryana dan Kepala Bagian Hukum dan Organisasi I Sutjipto, SH.
Dengan adanya dukungan perbankan untuk menggali potensi Kota Tegal, Walikota mengharapkan Kota Tegal memiliki sentra UMKM misalnya kuliner, batik dan wisata religi sehingga Kota Tegal menjadi destinasi untuk investasi.
Walikota juga mengajak lembaga perbankan dapat terjun dan berkontribusi dalam pengembangan perekonomian yang menjadi agenda Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal. Seperti pengembangan pelabuhan menjadi sentra industri perikanan pertama di Indonesia, sehingga dapat menggali potensi maritim Kota Bahari. Sport City yang akan dibangun Kota Tegal, dengan menyokong pebangunan Kolam Renang, kampung atlet, pembinaan dan memajukan bidang olahraga Kota Tegal melalui CSR. Kemudian revitalisasi pasar tradisional dengan bangunan semi modern yang akan diimplementasikan oleh Pemkot Tegal.
“Kami pertahankan pasar tradisional, silakan dunia perbankan apa kontribusi akan dilakukan. Saya berharap perbankan sunguh-sungguh jemput bola,” harap Walikota Tegal bersemangat. Walikota mengajak lembaga perbankan untuk meningkatkan perekonomian Kota Tegal karena perbankan memiliki peta potensi Kota Tegal dan memiliki formula untuk turut serta memacu berputarnya roda perekonomian Kota Tegal. Selain itu, Walikota mempersilakan agar perbankan yang memiliki agenda untuk pelatihan, simposium dan seminar yang mengundang masyarakat, Pemkot siap membantu penyediaan tempatnya.
“Intinya lembaga perbankan turut serta berperan aktif untuk meningkatkan ekonomi Kota Tegal. Sejalan dengan visi Walikota Tegal adalah kesejahteraan,” ungkap Walikota.
Dalam kesempatan itu, beberapa perwakilan perbankan menyampaikan program-program yang telah dilakukan dalam upaya ikut serta mengembangkan UMKM dan menyalurkan CSR di Kota Tegal. Seperti Bank BPD Jateng yang membantu pembangunan Kelurahan Peslor, Bank BNI yang terjun membantu permodalan bagi pelaku usaha perikanan di Kota Tegal dan BRI yang berencana menyalurkan CSR untuk menata salah satu kampung nelayan di Kota Tegal.
Sedangkan Bandoe Widiarto menyampaikan perkembangan ekonomi Kota Tegal berikut inflasi yang tercatat pada tahun 2014 dan proyeksi perekonomian di tahun 2015. Dijelaskan Bandoe, inflasi Kota Tegal tahun 2014 memang naik disebabkan beragai faktor seperti kenaikan harga barang akibat kebijakan pemerintah antara lain BBM, LPG dan tarif listrik. Apalagi pada bulan Oktober 2014, tercatat dari bulan ke bulan (month to month) inflasi naik di angka 0,95 persen, yang merupakan inflasi tertinggi sepanjang tahun.
Namun, meskipun demikian inflasi Kota Tegal tahun 2014 nomor dua terendah se Jawa Tengah setelah Purwokerto. “Kota Tegal memang naik 5,8 persen menjadi 7,40 tetapi kita masih berbangga Kota Tegal urutan kedua terendah setelah Purwokerto,” ungkap Bandoe.
Bandoe berharap inflasi di tahun 2015 bisa dikelola oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) sehingga angkanya tidak seekstrim pada tahun 2014. “Syukur turun dibawah 4 persen dan semoga tidak ada kejutan sehingga bisa dikelola dengan baik,” harap Bandoe.
Dalam kesempatan itu, Bandoe juga melaporkan kepada Walikota mengenai perkembangan perbankan di Kota Tegal. “LDR perbankan di Kota Tegal cukup tinggi sebesar 137 persen yang idealnya hanya 92 persen saja. Ini jadi PR kita agar masyarakat memobilisasi dana ke perbankan dalam bentuk simpanan. Kemudian bank melaksanakan tugas intermediasi yakni menyalurkan dana tersebut dalam bentuk kredit ke masyarakat,” tutur Bandoe.