Ilustrasi
PanturaNews (Tegal) - Mesin pencacah sampah milik Pemkot Tegal, Jawa Tengah, di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Muarareja, kondisinya sangat memprihatinkan. Selain tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal, mesin tersebut cenderung mangkrak. Demikian dikatakan anggota Komisi III DPRD Kota Tegal, Abdulah Sungkar, ST saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi TPA Muarareja, Selasa 30 Maret 2010.
Menurut Sungkar, perencanaan awal pengadaan mesin pencacah sampah senilai Rp 285 juta, pada tahun anggaran 2008 dinilai kurang matang. Padahal untuk pengadaan mesin dan kelengkapannya, termasuk bangunan menghabiskan anggaran Rp 600 juta lebih. Tahun 2009, anggaran untuk instalasi listrik PLN mencapai Rp 206 juta dan bangunannya Rp 150 juta.
"Kami tidak ingin proyek semacam ini terulang kembali pada tahun 2010 dan seterusnya, sehingga kami akan lebih selektif dalam membahas anggaran. Karena secara pemanfaatannya, keberadaan mesin ini tak berpengaruh banyak terhadap masalah sampah," kata Sungkar.
Rencananya, komisi III pada Senin 05 April 2010, akan memanggil Kantor Lingkungan Hidup (KLH) dan Dinas Pemukiman dan Tata Ruang (Diskimtaru) untuk meminta penjelasan masalah tersebut sedetail-detailnya. Pihaknya tidak ingin tanya proses pengadaan, tapi kesiapan pengoperasian mesin ini. "Kami tidak mau tahu soal teknis, yang kami inginkan kapan proyek Rp 600 juta itu kapan bisa dioperasikan, agar tidak mangkrak," tutur Sungkar.
Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Tegal, Sugeng Suwaryo melalui stafnya, Ir Daryati, mengungkapkan, sesuai perencanaan awal tujuan pengadaan mesin pencacah sampah untuk menekan penumpukan sampah agar bisa dimanfaatkan. Kapasitas mesin cacah itu setiap jamnya bisa mencapai 5 kubik. Dan dalam satu hari, bisa beroperasi sekitar 6 sampai 7 jam.
"Sebenarnya secara teknis pengoperasian telah kami serahkan pada Diskimtaru, tugas kami hanya sebatas pengadaan. Namun kami tetap bertanggungjawab, kami juga siap jika ditanya soal perencanaan dan tujuan pengadaan mesin tersebut oleh Komisi III DPRD Kota Tegal," ungkap Daryati.