Selasa, 13/01/2015, 01:18:46
Orang Tunanetra Belum Tentu Buta
Oleh: Gina Gamayanti
--None--

Semua masyarakat tidak asing lagi dengan orang yang mengalami gangguan penglihatan atau yang dikenal dengan tunanetra, karena mereka merupakan salah satu anak luar biasa yang banyak ditemukan oleh masyarakat.

Namun, masyarakat sering menyebutnya orang buta terhadap tunanetra. Sebenarnya buta seperti itu, kurang tepat sebab tidak semua tunanetra mengalami kebutaan. Buat itu untuk seseorang yang sudah rusak penglihatannya sedemikian rupa, sehingga sulit sekali untuk difungsikan sebagai alat untuk melihat, sedangkan tunanetra digunakan untuk menunjukan adanya tingkatan kerusakan/gangguan penglihatan mulai yang berat sampai yang sangat berat, bahkan sampai buta total.

Dengan demikian orang tunanetra belum tentu buta, sedangkan orang buta sudah pasti tunanetra. Kebutaan merupakan tingkat ketunanetraan yang paling berat.

Bagi penderitanya sendiri atau orang yang mengalami kelainan penglihatan sekalipun itu termasuk kelompok buta, pada umumnya lebih senang dengan sebutan tunanetra dari pada buta. Karena tunanetra dirasakan mereka lebih halus dibandingkan buta. Buta hendaknya tidak digunakan untuk sebutan atau panggilan terhadap orang yang memiliki kelainan penglihatan, tetapi hanya digunakan dalam pengelompokan untuk keperluan layanan pendidikan yang sesuai dengan tingkat kemampuan penglihatannya.

Mungkin dikelas Anda terdapat siswa yang menggunakan kacamata, tetapi dapat membaca huruf biasa dengan baik tanpa kesulitan. Anak itu tidak dapat dikatakan sebagai tunanetra. Bahwa anak yang mengalami ketidakmampuan melihat adalah anak yang mempunyai gangguan atau kerusakan dalam penglihatannya, sehingga menghabat prestasi belajar secara optimal, kecuali jika dilakukan dalam metode-metode penyajian pengalaman belajar.

Adapun terjadinya ketunanetraan:

Tunanetra sebelum dan sejak lahir: ketunanetraan pada saat dalam kandungan atau sebelum usia satu tahun, anak-anak ini masih belum mempunyai penglihatan. Oleh karena itu, peran guru, peran orangtua dan orang yang disekitarnya sangat penting untuk melatih penggunaan indra-indrayang masih dimilikinya.

Tunanetra balita: orang yang mengalami ketunanetraan pada saat ia berusaha sekitar dibawah 3 tahun. Bagi anak ini penglihatan yang telah dimiliki lama kelamaan akan hilang sehingga lingkungan yang dimilikinya tidak terlalu bermanfaat bagi kehidupan.

Tunanetra pada usia sekolah: Anak yang mengalami ketunanetraan ini berusia sekitar 6-12 tahun. Pada usia ini konsep penglihatan telah terbentuk danmempunya kesan-kesan visual bermanfaat bagi perkembangan pendidikannya. Kesan visual tersebut dapat berupa keadaan rumah,sekolah. Tapi mereka harus tetap mendapat perhatian khusus dari orang tua dan gurunya dalam pendidikannya.

(Gina Gamayanti adalah mahasiswi Universitas Muhamadiyah Cirebon (UMC) kelas SD14-A3 FKIP PGSD)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita