Salah satu peserta kompetisi musik kreatif beraksi dengan alat-alat dapur yang memukau pengunjung di Gedung Kesenian Tegal. (FT: Lanang Setiawan)
PanturaNews (Tegal) - Perhelatan musik cukup menarik, digelar di Gedung Kesenian Tegal selama tiga hari berturut-turut, Jumat - Minggu 26–28 Maret 2010. Perhelatan tersebut diprakasai SG, salah satu produk semen kerjasama dengan Dewan Kesenian Tegal (DKT).
Kerja bareng antara SG dan DKT itu mengusung tema “Kompetisi Musik Paling Aksi & Kreatif”, dinilai cukup menyedot pengunjung dan peserta karena baru pertama kali digelar di Tegal. Tak hayal jika pada kompetisi tersebut panitia penyelenggara dibanjiri para peserta dari berbagai wilayah di Provinsi Jawa Tengah.
Koodinator penyelenggra, Tomy Wibisono kepada wartawan menuturkan, pada hari pelaksanaan pendaftar, peserta mencapai 84 grup. Itu merupakan sebuah prestasi yang perlu dibanggakan karena menurutnya, daerah Tegal yang lebih kesohor dengan para sastrawananya, ternyata banyak tumbuh grup musik kreatif.
Tomy menandaskan, digelarnya perhelatan ini diharapkan agar antara para pengguna dan calon pengguna SG dapat menyatu dan lebih dekat, meski hal itu hanya lewat sebuah pergerakan kesenian. Namun pada prinsipnya, pihak SG ingin memberikan sebuah andil pada anak bangsa dalam karya musik yang berpretisius dan kreatif.
Itulah sebabnya dalam kompetisi tersebut, pihak panitia melarang menggunakan alat-alat musik elektrik tapi harus non elektrik. Kepekaan terhadap alat-alat musik akustik itulah yang kemudian dijadikan sebagai syarat mutlak bagi mereka yang mengikuti kompetisi tersebut.
Panitia menetapkan alat-alat musik yang diperkenankan penyelenggaraan diantaranya bakiak, meja, tongkat, bambu, triplek, kentongan ronda, bedug, dan lain sebagainya yang berasal dari kayu. Sedang alat musik yang berasal dari bahan pecah belah diantaranya; gelas, piring, botol dan lain-lain. Untuk logam, plastik, dan karet diantaranya alat dapur, pipa besi, gantungan kunci, botol air mineral, pipa PVC, ember, gallon dan gelang, ban bekas, balon dan lain sebagainya.
Hal itu menurut Tomy, sebagai bentuk untuk mengasah kreatifitas para peserta, bagaimana mereka dengan alat-alat musik seperti itu dapat melahirkan musik yang bermutu dan spektakuler. “Semua itu bagaimana mereka bias meracik dan mengemasnya hingga menejadi sebuah irama musik yang haromoni,” katanya.
Ia menandaskan, untuk lagu pada babak penyisihan panitia membebaskan para peserta membawakan satu lagu bebas, baik ciptaannya sendiri maupun karya orang lain, berlangsung mulai Jumat dan Sabtu sampai malam. Adapun pada babak final para peserta wajib membawakan lagu pilihan dari panitia dan satu lagu wajib berjudul “Jingle Semen Gresik” dan membacakan satu puisi karya peserta. “Pada kompetisi ini, kami tidak memungut biasa, gratis. Tapi mereka mendapatkan kaos, CD, dan Ikat kepala,” ujar Tommy.
Untuk babak penyisihan diambil 15 peserta pada hari pertama, juga babak penyisihan hari kedua. Dari jumlah 30 itu, pada Minggu diadu dan diambil juara 1,2,3 dan satu Juara Favorit masing-masing mendapatakan piagam dan tabanas sebesar Rp 6,5 juta (juara I), Rp 5 juta (juara II), dan Rp 4 juta (juara III). Sementara untuk Juara Favorit mendapatkan Rp 3 juta.