Rombongan Komisi Irigasi Tabanan studi banding soal mengelola irigasi (Foto: Takwo Heriyanto)
PanturaNews (Brebes) - Melihat kondisi geografis dengan Kabupaten Brebes yang hampir sama berupa pantai, daratan dan pegunungan, Kabupaten Tabanan belajar Irigasi ke Brebes. Apalagi, Kabupaten Brebes telah mendapatkan juara 2 presentase Lomba Petugas Operasional dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Tingkat Nasional 2014.
“Kami sangat tersanjung mendapatkan kunjungan dari Komisi Irigasi Tabanan Bali,” kata Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE sebagaimana disampaikan Staf Ahli Bidang Ekonomi Pembangunan, Dr Angkatno MPd saat menerima rombongan studi banding, di ruang rapat Sekda Brebes, Kamis 23 Oktober 2014.
Dengan kondisi geografis yang lengkap dan luasnya wilayah menjadikan tata kelola pertanian mendapat perioritas utama. Hasil-hasil pertaniannya pun beragam, hanya saja Brebes masih mengandalkan komiditas bawang merah dan telor asin. “Produk unggulan tersebut telah merambah ke seluruh pelosok tanah air,” tutur Bupati.
Rombongan Komisi Irigasi Tabanan Bali dipimpin Wakil Ketua Komisi Irigasi Drs Nyoman Sumadita dengan didampingi 9 orang dari berbagai dinas terkait. Nyoman Sumadita berharap bisa mendapatkan ilmu baik secara administrasi, kondisi fisik lapangan maupun share pengalaman mengelola irigasi di Brebes.
“Kami sangat tertarik dengan keberhasilan Brebes dalam mengelola irigasi,” tuturnya.
Menurutnya, Tabanan telah menjadi lumbung padi di Bali, namun untuk tahun ke depan bertekad menjadi lumbung pangan. Pasalnya, Tabanan memiliki dataran rendah, sedang dan tinggi seperti di Brebes. “Potensi ini bisa digarap dengan bagus, kalau irigasinya juga hebat,” kata Nyoman.
Kepala Dinas Pengairan dan Energi Sumber Daya Mineral Ir Slamet Riyadi menuturkan, kondisi Brebes dengan luas wilayah terlus kedua Jawa Tengah juga sangat potensial. Untuk memenuhi air pertanian telah banyak dibangun jaringan irigasi. Antara lain waduk 2 buah, bendung (embung) 105 buah, saluran primer 14.687 meter, saluran skunder 644.614 meter, saluran tersier 41.000 meter, bangunan bagi 59 bh, bangunan sadap 574 bh, bangunan sypon 31 bh dan bangunan pelengkap 634 buah.
Adapun jumlah daerah irigasi ada 461 DI. Meski begitu banyak jaringan irigasi, tetapi Slamet mengaku mengalami kendala yang sangat serius dengan banyak bangunan liar yang tertanam di saluran irigasi. Sehingga sangat menghambat saluran irigasi. “Mulai tahun ini, kami secara tegas membongkar bangunan-bangunan liar, tanpa kompromi,” pungkasnya.
Acara kunjungan ditandai dengan tukar menukar cinderamata dari kedua belah pihak. Cinderamata diterima Dr Angkatno dari Brebes dan Drs Nyoman Sumadita dalam suasana riang gembira.