Selasa, 21/10/2014, 06:56:52
Hindari Memberi Air Putih Pada Bayi Dibawah 6 Bulan
-Laporan Takwo Heriyanto

Ilustrasi

PanturaNews (Brebes) - Bagi masyarakat yang awam dengan banyak minum air putih, maka tubuh akan sehat dan bugar. Tentunya itu hanya berlaku untuk orang dewasa tidak untuk bayi yang usianya masih dibawah enam (6) bulan, karena bisa berbahaya.

Seperti yang disampaiakan Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Desa Cikuya, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (Jateng), Sartono, dalam kegiatan sosialiasi mengenai 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) kepada penerima PKH, di kediaman Ibu Castinah, RT: 04, RW: 03, desa setempat, Selasa 21 Oktober 2014.

Dalam sosialisasinya di pedesan yang mayoritas penduduknya berbahasa Sunda ini, Sartono mengatakan, pemberian air putih pada bayi dibawah usia 6 bulan akan berdampak kurang baik bagi kondisi kesehatannya. Salah satu pengaruh buruk yang ringan terhadap pemberian air putih pada bayi dibawah usia enam bulan adalah mengurangi asupan Air Susu Ibu (ASI) atau susu formula, sehingga berdampak pada kenaikan berat badan bayi.

Bahkan, kondisi yang lebih berat mungkin saja terjadi pada bayi, yaitu keracunan air atau intoksikasi air yang mengakibatkan bayi menjadi kejang atau koma. "Salah satu alasan tidak diperbolehkan pemberian air putih pada bayi dibawah usia 6 bulan adalah sistem tubuh bayi yang belum matang, hingga kekebalan tubuh dikhawatirkan belum dapat menerima asupan yang terlalu banyak termasuk air putih," ujarnya.

Menurut dia, agar bayi selalu dalam kondisi sehat, harus diberi ASI ekslusif sampai 6 bulan. "Karena itu, jangan kebiasaan diberi pisang, madu, apalagi air putih saat bayi masih berusia 0-6 bulan, karena kurang baik akibatnya," jelasnya.

Serah (26), salah satu peserta penerima PKH, yang saat ini sedang hamil 8 bulan anak yang kedua ini mengaku masih ada beragam budaya atau mitos yang sering dilakukan oleh kaum ibu hamil di desanya. Diantaranya seperti, tidak bolah makan nanas, karena kalau melahirkan perutnya gatal dan keguguran, kemudian tidak bolah makan salak karena khawatir kalau melahirkan bayinya keluarnya seret.

Begitu juga tidak boleh makan buah duren dan tape, karena khawatir perutnya panas, juga tidak boleh makan ketimun, karena nanti bayinya gemuk di dalam kandungan. Ada lagi tidak tidak bolah makan udang, karena nanti anaknya bungkuk.

"Tapi, alhamdulilah sampai saat ini, saya melahirkan bayi masih normal-normal saja. Mitos yang disebutkan itu, Insya Allah berangsur-angsur juga mulai luntur. Usul saya sih, bu bidan atau petugas kesehatan puskesmas untuk selalu menerangkan informasi kesehatan dengan baik dan benar. Terutama mitos yang ada untuk tidak dijadikan sebagai pegangan hidup sehari-hari saat sedang hamil," papar peserta yang sudah empat kali mengikuti sosialisasi tersebut.

Sementara, di akhir pertemuan kegiatan ini, peserta penerima PKH yang berjumlah 24 orang ini berjanji sambil mengucapkan komitmen bersama untuk melaksanakan pesan pendamping PKH yang telah disosialisasikan tersebut.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita