Jumat, 17/10/2014, 06:16:10
Beragam Mitos dan Budaya Ibu Hamil di Brebes
-Laporan Takwo Heriyanto

Ilustrasi

PanturaNews (Brebes) - Kehamilan adalah peristiwa penting bagi setiap wanita. Selain itu, kehamilan merupakan fenomena ajaib karena ada kehidupan baru yang berkembang dalam perut seorang ibu. Namun, dibalik itu ternyata ada sebuah mitos dan budaya umum mengenai ibu hamil kelahiran bayi.

Seperti yang disampaikan Perwakilan Unicef dari Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (Jateng), H. Bahrul Ulum melalui jejaring sosialnya, di Grup Facebook Celoteh Brebes Membangun (CBM), Jumat 17 Oktober 2014.

Bahrul Ulum yang rutin mengawal Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan Pemkab Brebes, melakukan sosialisasi tentang kesehatan ibu dan anak serta 1000 hari pertama kehidupan manusia di berbagai desa mengatakan, ada beragam mitos dan budaya unik ibu hamil dan kelahiran bayi yang masih umum terjadi di daerah berpenduduk terpadat nomor dua di Jateng setelah Cilacap ini.

Diantaranya adalah tebus weteng. Dia mengatakan, tebus weteng atau mitoni atau dengan istilah lain kebuk merupakan ucapan permohonan lewat doa yang dipanjatkan agar kelak sang jabang bayi dilahirkan mjd anak yang berakhlaqul karimah, berguna bagi agama, keluarga, nusa dan bangsa.

Kemudian, mengapa saat ibu hamil orang tua dulu mengatakan kalau ibu hamil tidak memperbolehkan makan ikan, membunuh hewan dll. Padahal, faktanya secara medis ibu hamil harus mengkonsumsi kandungan hewani, protein, karbohidrat dan sayur mayur agar kondisi ibu hamil senantiasa sehat dan tidak anemia/kurang darah, sekaligus untuk kesehatan calon bayi yang akan terlahir nantinya.

Namun, ada pula dari para pembaca/anggota grup FB CBM yang menyebutkan mitos dan budaya tingkeban (tujuh bulanan), seperti yang disampaikan Ning Murdingsih. Menurutnya, jika mitos dan budaya adat jawa yang sudah turun temurun tidak dilakukan, maka mitosnya jabang bayinya kelak lahir akan mengalami cacat.

"Kemudian, mengapa waktu hamil aku disuruh ngiket peniti dan guntungan kuku yaakh. Itu peniti juga di sisipi jahe, kunyit, kencur. Pokokke waktu itu nurut," ucapnya.

Pembaca Grup CBM lainnya juga berkomontar, saat mitoni (tujuh bulanan), ibu hamilnya harus membuang telor kemudian lari-lari kecil. "Itu maknanya apa?," kata PG yang bernama asli Umar ini. Bahkan, lanjut Umar, ada salah satu Desa di Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, dimana warganya, khusunya kaum ibu lebih percaya dengan dukun ketimbang bidan. Lebih ekstrimnya lagi bayi yang baru lahir usia satu hari sudah diberi makan nasi layaknya orang dewasa.

"Kalau tidak salah di Desa Randusari. Di desa itu juga nyaris tidak ada fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK). Kebanyakan warga disitu kalau buang air besar juga di area persawahan, semak-semak hingga selokan (got/parit). Cobalah datangi/survei ke lokasi, sekalian nanti diberi bantuan fasilitas MCK," katanya kepada pengelola grup FB CBM, Bahrul Ulum.

"Informasi yang bagus. Saya suka itu," sebut salah satu Pendamping PKH, Cak Adi. "Desa Randusari. Oke, nanti direkom," jawab Bahrul Ulum.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita