Kamis, 11/09/2014, 03:54:12
Dentuman Terus Terdengar Dari Puncak Gunung Slamet
-Laporan Zaenal Muttaqin

Puncuk Gunung Slamet menyemburkan asap kehitaman beberapa waktu yang lalu (Foto: Dok/ Zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Brebes) - Aktivitas Gunung Slamet makin menunjukkan peningkatan, lebih dari enam kali dentuman terdengar pada Kamis 11 September 2014 mulai pukul 11.00 WIB hingga sore hari. Bahkan peningkatan aktivitas itu terjadi pada hari sebelumnya dengan ketinggian lava mencapai 700 meter dari puncak kawah. Sebelumnya, ketinggian lontaran lava Gunung Slamet maksimal hanya sekitar 500 meter.

"Kemarin terdengar dentuman hingga malam hari, tadi sekitar pukul 11.00 WIB kembali terdengar lagi hingga sore ini lebih dari enam kali," kata Iwan Budi S, Kepala Desa Dawuhan, Kecamatan Sirampog, Jawa Tengah yang desanya berada di lereng Gunung Slamet.

Menurutnya, selain terdengar suara dentuman dari puncak gunung juga nampak ada semburan asap disertai abu dan kerikil. Semburan abu sempat mencapai kawasan pemukiman warga yang berjarak delapan kilometer dari puncak gunung. "Semalam abu sampai ke desa tapi siang ini sepertinya abu mengarah ke utara," ujar Iwan.

Dikatakan, meski kondisi Gunung Slamet menunjukkan aktivitas yang tinggi warga di sekitar nampak tenang, bahkan tidak sedikit yang selalu menonton semburan dari puncak gunung. Aktivitas warga juga tetap berjalan seperti biasa, tetap bekerja di ladang atau aktivats ekonomi lainnya.

"Warga tidak terpengaruh dan tetap aktiviatas seperti biasa bahkan seakan senang kalau dapat secara langsung melihat semburan dari puncak gunung," ungkap Iwan.

Meski begitu, Pemerintah Desa Dawuhan dan Desa Batursari serta Igirklanceng yang letaknya sama-sama di lereng Gunung Slamet selalu mengingatkan warga untuk waspada dan tidak menganggap remeh dengan aktivitas Gunung Slamet. Selama ini gunung tertinggi di Jawa Tengah ini aman meski ada peningkatan aktivitas, tapi tetap harus waspada.

"Sore ini kami bersama kepala desa lainnya juga dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bsrebes melakukan rapat koordinasi untuk menyikapi kondisi Gunung Slamet," kata Iwan.

Rakor membahas langkah-langkah yang akan ditempuh jika kondisi makin buruk, termasuk juga mengumpulkan para sopir kendaraan agar siap jika sewaktu-waktu dilibatkan untuk evakuasi warga.

Sementara itu diperoleh informasi, Gunung Slamet melontarkan lava pijar 137 kali selama 12 jam sejak Rabu 10 September 2014 pukul 18.00, hingga Kamis 11 September 2014 pukul 06.00. Ketinggian lava mencapai 700 meter dari puncak kawah. Sebelumnya, ketinggian lontaran lava Gunung Slamet maksimal hanya sekitar 500 meter.

Kendati demikian, status gunung tertinggi di Jawa Tengah itu masih siaga atau dua level di atas normal. Ketua Pos Pengamatan Gunung Slamet Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Sudrajat, mengatakan, dari pantauan pada Rabu pukul 18.00 sampai 00.00, lontaran lava pijar tercatat sebanyak 58 kali dengan ketinggian 100-600 meter.

"Pada Kamis pukul 00.00 sampai 06.00, lontaran lava pijar sebanyak 79 kali dengan ketinggian sekitar 100-700 meter," kata Sudrajat pada Kamis pagi.

Masih tingginya aktivitas vulkanis gunung berketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu juga tercatat dari banyaknya sinar api. Mengenai banyaknya informasi ihwal mulai turunnya hewan-hewan dari hutan di lereng Gunung Slamet hingga mencapai wilayah perkebunan warga, Sudrajat mengaku belum dapat memastikan kebenarannya.

"Kami dapat banyak kabar dari warga. Tapi hal itu tidak masuk dalam laporan pantauan aktivitas vulkanis kami," kata Sudrajat kepada wartawan.

Pergerakan hewan dari hutan merupakan salah satu kearifan lokal warga lereng Gunung Slamet untuk menakar kadar bahaya. Tetap dengan belum adanya hewan turun sampai permukiman, berarti aktivitas Gunung Slamet masih aman.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita