Minggu, 19/02/2012, 03:59:41
Damayanti: Bibit Padi MSP Lebih Tahan Serangan Hama
JAY-Riyanto Jayeng

Damayanti Wisnu Putranti (kiri, kaos putih) saat melakukan tandur padi bareng petani di Desa Luwijawa, Kecamatan Jatinegara (Foto: Riyanto Jayeng)

PanturaNews (Tegal) - Anggota Departemen Pertanian dan Perikanan, Kelautan DPP PDI Perjuangan, Damayanti Wisnu Putranti SIP, Minggu 19 Pebruari 2012, mengajak puluhan petani di Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, untuk menanam bibit padi varietas unggul jenis MSP.

Pasalnya, bibit padi MSP merupakan jenis bibit varietas unggul local, yang memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan varietas lokal lainnya.

Program sosialisasi bibit padi MSP yang dikemas dalam dialog dengan tema Tandur bareng bersama Damayanti di Desa Luwijawa, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, mendapat respon positif dari kaum petani. Sekitar 66 Kelompok Tani yang tergabung dalam 17 Gapoktan se-Kecamatan Jatinegara, hadir dalam acara tersebut untuk mendengar penjelasan mengenai bibit padi MSP.

Damayanti yang sekaligus bertindak sebagai orang tua asuh bagi para petani di Daerah Pemilihan Jateng IX mengungkapkan, MSP yang memiliki kepanjangan Mari Sejahterakan Petani, merupakan bibit padi yang lebih tahan dari serangan hama dibandingkan benih varietas lain.

“Bibit padi MSP benar-benar sangat diidolakan para petani, karena selain lebih tahan dari serangan hama, juga mampu menghasilkan gabah yang sangat melimpah. Terbukti, panen perdana di Kecamatan Jatinegara kemarin, mampu menghasilkan 6,2 ton per hektar. Setelah melihat bukti hasil panen kemarin, kini para petani mulai tertarik dan beramai-ramai ingin menggunakan bibit padi MSP untuk masa tanam selanjutnya,” kata Damayanti,

Lebih jauh Damayanti menjelaskan, pengenalan dan penerapan bibit padi MSP kepada petani itu merupakan salah satu kegiatan DPP PDI Perjuangan dalam program penguatan ketahanan pangan bagi seluruh rakyat indonesia. Melalui program itu pula, DPP PDI Perjuangan berkenan memberikan bibit padi MSP secara cuma-cuma berikut obat-obatan pertanian yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan petani berdasarkan luas lahan yang akan ditanami.

“Sasaran kami adalah masyarakat petani indonesia yang berpredikat sebagai petani gurem dan hanya memiliki lahan terbatas. Kami ingin sekali memberikan yang terbaik, termudah dan termurah bagi kaum petani agar dapat meningkatkan kesejahteraan. Kami juga mengawal dari mulai tebar benih hingga penanaman awal. Semuanya kami lakukan agar petani tidak ketergantungan terhadap tengkulak atau sejenisnya yang hanya memberatkan beban hidup petani,” ungkap Damayanti.

Sementara, Ketua Kelompok Tani Bagus Mesan, Desa Luwijawa, Kecamatan Jatinegara, Ruslani mengatakan, saat ini dirinya baru akan mencoba menanam padi di atas lahan seluas seperempat Bau dengan menggunakan bibit padi MSP bantuan dari DPP PDI Perjuangan melalui Damayanti.

“Saya mendapat bantuan 5 Kg bibit padi MSP dan setelah kami tebar 19 hari lalu, kini baru mulai akan ditanam. Sebelumnya, untuk mengisi lahan seluas seperempat Bau ini, saya Tanami bibit padi biasa yang berjumlah 15 Kg. Biasanya, dengan bibit padi 15 Kg, akan panen gabah dengan berat 8-9 Kwintal, itu dalam keadaan normal. Nanti kita lihat bersama bagaimana hasil pananen dengan bibit padi MSP ini,” kata Ruslani.

Sedangkan Ketua Kelompok Tani Tumbuh Bersama Desa Taman Sari, Kecamatan Jatinegara, Nur Effendi yang sudah menggunakan bibit padi MSP untuk lahan sawahnya mengatakan, keunggulan bibit padi MSP adalah mampu menghasilkan hasil yang melimpah dengan pola tanam, tindakan dan luas lahan yang minimalis. Menurutnya, pada padi bibit MSP mampu memproduksi gabah per tangkai (runggai) hingga 600 bulir, sedangkan pada varietas lain hanya sampai 150 bulir.

Selain itu, bibit padi MSP hanya membutuhkan waktu singkat dan media yang minimalis untuk tumbuh. Pada saat penanaman pun berbeda dengan padi lainnya. Untuk pemilik sawah seluas 1 hektar diberikan bantuan bibit padi MSP sebanyak 18 Kg. Ketika panen, DPP PDI Perjuangan pun berkenan untuk membeli hasil panenan dengan harga standar.

“Saya sendiri memiliki ½ hektar sawah, hanya membutuhkan bibit padi 9 Kg dan mampu menghasilkan panen 3 ton 35 Kg. Sebelum bergabung dalam kelompok pengguna MSP, saya harus membeli 7 kantong atau 35 Kg bibit padi varietas lain dengan harga per kantong Rp 30 ribu. Itupun hanya mampu menghasilkan padi 2,4 ton,” ujarnya.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita