Kamis, 07/11/2019, 23:11:04
Jihad atau Jahat?
Oleh: H. Tambari Gustam

Memaknai kata Jihad seperti yang dungkapkan dalam kitab Fiqh Islam karangan H. sulaiman Rasjid pada bab Jihad (Peperangan), diuraikan bahwa makna Jihad adalah peperangan terhadap kafir yang dipandang musuh, untuk membela agama Allah (Li i'Lai Kalimatillah).

Dengan tujuan perang membela, memelihara, dan menjung tinggi agama Allah, Islam mengijinkan perang dengan menentukan sebab-sebab, dan maksud yang dituju dari peperangan itu.  Yaitu untuk menolak kezaliman, menghormati tempat-tempat ibadah,  menjamin kemerdekaan bertanah air, menghilangkan fitnah, dan menjamin kebebasan setiap orang memeluk dan menjalankan agama.

Bukan berperang karena dendam, atau akan merampas harta orang lain. Apalagi maju berperang, agar dianggap pemberani dan tangguh. Bukan itu, tapi berperang demi Agama Allah menjadi tinggi, terpelihara dari segala gangguan.

Seperti yang diamanati dalam Al Baqoroh 193; "Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi, dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata mata pada Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang orang zalim. 

Jadi makna Jihad adalah berperang terhadap orang-orang kafir yang menyerang kita,  tapi jika mereka berhenti, bahkan tidak menyerang kita, maka berhentilah jangan memusuhi non muslim.

Bahkan Alquran dalam Surat Al Baqoroh: 193 memerintahkan; "Dan bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka, dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah).

Jadi di jaman Rosululloh diusir bahkan dikejar-kejar kaum kafir Quraisy, untuk dibunuh, akhirnya Rosululloh beserta sahabatnya hijrah ke Medinah.

Surat Albaqoroh yang memerintahkan untuk berperang dan membunuh, lebih cenderung pada asbabun nuzul (asal usul ayat tersebut turun. Bukan makna jihad di jaman sekarang).

Maka jika di jaman yang serba digital era sekarang ini, lalu masih ada orang mimpi tentang perjuangan Islam dengan mengangkat pedang minta berjihad dengan perang,  adalah sangat keliru. Itulah sebabnya para Da'i dan Ulama harus lebih mengajak umat untuk berdakwa dengan kesantunan, bukan menyebar ayat jihad yang keliru memaknai.

Dalam kontek kekinian, di era digital, jihad kita bukan melawan kaum kafir seperti di jaman Rosululloh, tapi jihad kita adalah memerangi kemiskinan.

Bagaimana pemberdayaan umat agar bisa mandiri secara ekonomi, memberi akses dan kemudahan bagi ekonomi kerakyatan, ases dan pelatihan kerja,  semisal pengembangan usaha ikan yang di filet.

Pelatihan dan ketrampilan seperti yang dijalankan oleh Ustaz Ali Faozi, adik kandung Imam Amrozi mantan teroris bom Bali. Ali Fauzi sekarang menjadi Ketua Yayasan Lingkar Perdamaian di Lamongan, Jawa Timur.

Dalam aktifitasnya, Ali Fauzi menampung para mantan napi teroris yang sudah keluar dari Penjara. Karena Ide memberi pelatihan bagi mantan teroris, untuk lebih berdaya guna secara ekonomi dan berjihad yang nyata, yaitu jihad melawan kemiskinan.

Beda dengan kasus yang sempat menghebohkan, yaitu penusukan terhadap Mantan Menkopolhukam Jendral  purnawirawan Wiranto. Si pelaku jelas berharap agar dirinya ditembak mati saat tertangkap petugas. Namun Allah SWT menghendaki lain, justru karena kasus Wiranto tersebut, akhirnya petugas berhasil menangkap orang-orang yang dicurigai sebagai kelompok teroris.

Jihad yang dilakukan oleh si penusuk, bukan jihad yang dianjurkan oleh Agama Islam, karena si pelaku bukan dalam kapasitas sedang diperangi,  tapi justru si pelaku di tuding sebagai tindakan orang jahat, bukan Jihad.

(Tambari Gustam adalah tokoh masyarakat nelayan, seniman dan budayawan. Tinggal di Muarareja, Kota Tegal, Jawa Tengah. Tambari Gustam menjadi peserta study banding toleransi kehidupan sosial dan wawasan kebangsaan ke Maroko dan Spanyol)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita