MANTAN Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said pernah menulis tiga puisi Tegalan ini pada 2016. Menurut Sudirman Said, puisi-puisi tersebut ditulis di banyak tempat. Menariknya, meskipun lahir satu dasawarsa lalu, napas yang dibawanya terasa masih dekat dengan keadaan Indonesia hari ini.
Harga berbagai kebutuhan masyarakat naik, beban pajak semakin terasa, sementara pemasukan sebagian masyarakat bawah kembang-kempis. Wong cilik kudu ngatur urip kanthi luwih ketat: kebutuhan pokok kudu dituku, biaya pendidikan kudu dipikirna, transportasi kudu dibayar, tagihan kudu dilunasi. Ketika penghasilan tidak naik sebanding dengan biaya hidup, tekanan ekonomi akhirnya bukan lagi sekadar angka dalam laporan, tetapi menjadi pengalaman sehari-hari.
Di tengah keadaan seperti itu, tiga puisi ini seperti tiga cermin. Puisi pertama berbicara tentang orientasi hidup: apakah manusia cuma sibuk membanggakan masa lalu atau berusaha menciptakan masa depan yang berguna bagi orang lain. Puisi kedua mempertanyakan ukuran kebesaran manusia. Sedangkan puisi ketiga mengingatkan bahwa perjuangan hidup memang membutuhkan keberanian untuk lecet dan babak belur.
SING DUWÉ MASA KEPUNGKUR
Gawéané Sudirman Said
Sing duwé masa kepungkur
seneng ngagungna asal-usulé
Sing duwé masa depan
ora mung mikirna awaké déwék,
tapi ngupaya
bén bisa migunani
kanggo wong
kerep ora mandeng sapa uwongé
saka ngendi asal-usulé.
2016
Puisi pertama langsung membenturkan dua orientasi kehidupan: masa kepungkur dan masa depan.
“Sing duwé masa kepungkur” digambarkan sebagai orang yang senang membanggakan asal-usul. Di sini bukan berarti masa lalu tidak penting. Asal-usul, sejarah, keluarga, daerah, pendidikan, jabatan, bahkan prestasi masa lalu tetap memiliki nilai. Masalah muncul ketika kebanggaan terhadap masa lalu berhenti menjadi modal untuk melangkah dan malah berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Sebaliknya, orang yang benar-benar memiliki masa depan tidak berhenti pada pertanyaan, “Sapa aku?” Ia bergerak menuju pertanyaan yang lebih penting: “Apa sing bisa tak lakoni supaya uripku migunani kanggo wong liya?” Di situlah puisi ini menjadi sangat relevan dengan keadaan masyarakat sekarang.
Ketika kebutuhan hidup semakin mahal, masyarakat tidak membutuhkan orang yang hanya pandai menceritakan kebesaran masa lalu. Masyarakat membutuhkan gagasan, kebijakan, pekerjaan, pelayanan, dan keberpihakan yang bisa membuat kehidupan menjadi sedikit lebih ringan.
Wong cilik tidak terlalu membutuhkan cerita bahwa sebuah bangsa pernah besar. Wong cilik membutuhkan kesempatan supaya bisa hidup dengan layak.
Ia membutuhkan harga kebutuhan pokok yang masuk akal. Ia membutuhkan pekerjaan yang memberikan penghasilan cukup. Ia membutuhkan pendidikan yang tidak semakin menjauh karena biaya. Ia membutuhkan pelayanan publik yang tidak membuatnya merasa sebagai beban negara. Ia membutuhkan sistem perpajakan yang terasa adil, bukan sekadar semakin banyak kewajiban yang harus ditanggung.

Karena itu, ukuran masa depan bukan hanya seberapa tinggi seseorang menduduki jabatan, seberapa panjang daftar gelarnya, atau seberapa kuat ia menunjukkan asal-usulnya. Ukuran masa depan adalah seberapa besar keberadaannya memberikan manfaat. Kalimat “bén bisa migunani kanggo wong” menjadi pusat moral puisi ini.
Migunani berarti berguna. Tetapi kegunaan yang dimaksud bukan kegunaan untuk kelompok sendiri saja. Baris berikutnya memperluas cakrawala: “kerep ora mandeng sapa uwongé saka ngendi asal-usulé.”
Artinya, manfaat tidak boleh dibatasi oleh identitas. Kalau seseorang hanya membantu orang yang satu kelompok, satu keluarga, satu jaringan, satu daerah, atau satu kepentingan, maka manfaatnya masih sempit. Puisi ini justru menawarkan pandangan yang lebih luas: manusia masa depan adalah manusia yang mampu melihat manusia lain sebagai manusia, bukan sebagai label.
Dalam keadaan negara yang sedang menghadapi tekanan biaya hidup, gagasan ini menjadi penting. Sebab kebijakan publik pada akhirnya harus kembali kepada manusia. Angka pertumbuhan ekonomi, penerimaan pajak, investasi, pembangunan, dan berbagai indikator makro memang penting. Tetapi di balik angka itu ada ibu yang menghitung uang belanja, buruh yang menunggu upah, pedagang kecil yang dagangannya belum tentu laku, petani yang menghadapi biaya produksi, dan pekerja informal yang penghasilannya tidak selalu pasti.
Puisi ini seolah bertanya: untuk siapa semua kemajuan itu? Pada puisi kedua datang dengan pertanyaan yang lebih menusuk.
PAN DADI WONG GEDÉ APA BIASA BAÉ?
Gawéané Sudirman Said
Wong gedé
sing diomong gagasan.
Wong biasa
sing diomong awaké déwék.
Tapi wong cilik ati
senengé malah ngrembug
kekurangané wong liya.
2016
Judulnya sendiri sudah menggelitik: “Pan dadi Wong Gedé Apa Biasa Baé?” Namun “wong gedé” dalam puisi ini ternyata bukan perkara jabatan, kekayaan, rumah mewah, kendaraan, atau banyaknya orang yang tunduk.
“Wong gedé, sing diomong gagasan.”
Ini sebuah definisi kebesaran yang sederhana sekaligus radikal. Orang besar adalah orang yang pembicaraannya melampaui dirinya sendiri. Ia berbicara tentang gagasan. Ia memikirkan sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan pribadi.
Sementara “wong biasa, sing diomong awaké déwék.” artinya: Orang biasa berbicara tentang dirinya sendiri.
Di sini puisi mulai berubah menjadi kritik terhadap budaya ego. Ketika keadaan masyarakat sedang berat, energi sosial seharusnya diarahkan untuk mencari jalan keluar. Tetapi sering kali ruang publik justru dipenuhi pertengkaran tentang siapa yang paling hebat, siapa yang paling berjasa, siapa yang paling benar, siapa yang paling pantas mendapat pujian.
Lebih tajam lagi, puisi menutup dengan:
“Tapi wong cilik ati
senengé malah ngrembug
kekurangané wong liya.”
Yang kecil hatinya justru senang membicarakan kekurangan orang lain. Itulah ironi yang masih sering kita temui.
Masyarakat sedang menghadapi tekanan ekonomi, tetapi perdebatan publik kadang justru sibuk menguliti kehidupan orang lain. Ketika kebutuhan sehari-hari semakin mahal dan pendapatan wong cilik kembang-kempis, energi masyarakat semestinya digunakan untuk mencari gagasan bagaimana memperbaiki keadaan. Tetapi jika ruang sosial dipenuhi saling mencela, saling menjatuhkan, dan saling mencari kesalahan, persoalan pokok malah kabur.
Puisi ini dengan demikian tidak hanya berbicara tentang individu. Ia juga dapat dibaca sebagai kritik terhadap kehidupan berbangsa.
Sebuah bangsa tidak menjadi besar karena rakyatnya paling ramai berdebat. Bangsa menjadi besar ketika perdebatan menghasilkan gagasan. Yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar banyak orang yang pandai bicara, tetapi banyak orang yang mampu menawarkan jalan keluar.
Bagaimana membuat masyarakat bawah tidak terus-menerus berada dalam posisi “bertahan hidup”? Bagaimana membuat kenaikan harga tidak selalu lebih cepat daripada kenaikan pendapatan?
Bagaimana pajak dapat dipahami sebagai kewajiban bersama tanpa membuat kelompok masyarakat yang ekonominya rapuh merasa semakin tertekan? Bagaimana pembangunan dapat menghasilkan manfaat yang benar-benar terasa sampai lapisan paling bawah?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah “gagasan” dalam pengertian puisi Sudirman Said.
Maka kebesaran seseorang tidak semestinya diukur dari seberapa sering namanya disebut, melainkan dari seberapa jauh pikirannya mampu menjawab persoalan masyarakat.
Kalau puisi pertama berbicara tentang manusia yang harus berguna, puisi kedua berbicara tentang manusia yang harus memiliki gagasan. Puisi ketiga berbicara tentang keberanian menghadapi pertarungan.
SIAP LÉCÉT
Gawéané Sudirman Said
Terusna
mlaku lempeng
Jagad raya
tinuju temata
apa anané
lan blag-blagan
Mung
kudu mangkina tabah
apa anané
siap lécét
lan babak belur
merga pertarungan
2016
“Terusna. Mlaku lempeng.” Terus berjalan. Tetap berjalan lurus. Dua kata itu terasa seperti perintah sekaligus nasihat.
Tetapi jalan lurus tidak selalu berarti jalan yang mudah. Justru puisi ini kemudian mengakui kenyataan bahwa dalam pertarungan seseorang bisa “lécet” bahkan “babak belur”.
Ini bukan puisi yang menawarkan optimisme palsu. Ia tidak mengatakan bahwa hidup akan selalu baik-baik saja. Ia justru mengakui bahwa ada pertarungan, ada luka, ada risiko, ada kelelahan.
Dan keadaan masyarakat sekarang membuat bagian ini terasa semakin dekat. Wong cilik yang berusaha mempertahankan hidup juga sedang berada dalam pertarungan. Pedagang kecil bertarung dengan daya beli. Pekerja bertarung dengan kebutuhan hidup. Orang tua bertarung dengan biaya pendidikan anak. Keluarga bertarung dengan tagihan. Pengusaha kecil bertarung dengan biaya produksi, pajak, persaingan, dan pasar yang tidak selalu ramah.
Mereka mungkin tidak menyebutnya “pertarungan”, tetapi setiap hari mereka menjalaninya.
Karena itu, “siap lécét lan babak belur” dapat dibaca bukan sebagai ajakan agar masyarakat menerima penderitaan begitu saja. Justru sebaliknya, ia dapat menjadi simbol ketabahan menghadapi kenyataan sembari tetap mempertahankan arah.
Yang penting adalah “mlaku lempeng”. Sebab seseorang bisa saja babak belur dalam perjuangan, tetapi jangan sampai kehilangan arah.
Di sinilah tiga puisi karya Rektor Universitas Harkat Negeri ini seperti tersambung menjadi satu gagasan besar. Puisi pertama mengatakan: jangan cuma bangga dengan masa lalu, tetapi pikirkan masa depan dan jadilah manusia yang berguna.
Puisi kedua mengatakan: jangan menjadikan diri sendiri sebagai pusat pembicaraan; orang besar berbicara tentang gagasan. Puisi ketiga mengatakan: setelah memiliki arah dan gagasan, teruslah berjalan, karena perjuangan memang bisa membuat seseorang lecet dan babak belur.
Jika ketiganya dibaca dalam konteks Indonesia hari ini, ketiganya seperti mengajukan satu pertanyaan besar kepada siapa saja yang memiliki kewenangan: ketika rakyat sedang tertekan oleh biaya hidup, apakah kebijakan yang dibuat benar-benar lahir dari gagasan untuk membuat kehidupan masyarakat lebih baik?
Sebab rakyat pada akhirnya tidak hidup dari pidato. Rakyat hidup dari penghasilan. Rakyat tidak makan dari angka pertumbuhan. Rakyat makan dari uang yang ada di dompet. Rakyat tidak membayar kebutuhan hidup dengan kebanggaan atas masa lalu. Dan rakyat membayarnya dengan pendapatan hari ini.
Karena itu, ketika harga barang naik dan beban pajak terasa semakin berat, persoalannya bukan semata-mata apakah kenaikan itu secara administratif dapat dijelaskan. Persoalan yang lebih dalam adalah apakah daya tahan masyarakat juga diperhitungkan.
Jangan sampai negara terlalu sibuk menghitung berapa yang bisa dipungut, tetapi lupa menghitung berapa yang masih mampu ditanggung masyarakat. Jangan sampai rakyat diminta terus “siap lecét”, sementara mereka yang membuat keputusan tidak merasakan lecet yang sama.
Di sinilah tiga puisi Sudirman Said ini menemukan relevansinya. Puisi-puisi tersebut ditulis pada 2016, tetapi tidak berhenti sebagai dokumen masa lalu. Ia seperti ditulis ulang oleh keadaan setiap kali masyarakat menghadapi tekanan. Sebab persoalan manusia tidak berubah hanya karena tahun berganti.
Yang berubah adalah bentuk tekanannya. Dan mungkin justru karena itulah puisi mempunyai umur lebih panjang daripada berita. Berita memberitakan apa yang terjadi hari ini. Puisi sering kali mengajak manusia bertanya mengapa hal itu terjadi dan ke mana manusia hendak membawa kehidupannya.
Tiga puisi ini akhirnya bukan hanya tentang masa kepungkur, wong gedé, atau lecét. Ia tentang tanggung jawab. Masa lalu seharusnya menjadi pijakan, bukan tempat untuk terus membusungkan dada.
Kebesaran seharusnya lahir dari gagasan, bukan dari kebisingan tentang diri sendiri. Dan perjuangan seharusnya membuat manusia tabah tanpa kehilangan keberanian untuk memperbaiki keadaan.
Pada akhirnya, ketika masyarakat bawah sedang kembang-kempis mencari ruang bernapas, bangsa ini tidak terlalu membutuhkan orang yang sibuk bertanya, “Sapa sing paling gedé?”
Yang lebih dibutuhkan adalah orang yang berani bertanya: “Apa sing bisa tak lakoni supaya wong liya ora tambah kepepet?”
Mungkin di situlah ukuran kebesaran yang sesungguhnya. Sebab sejarah tidak hanya akan mengingat siapa yang pernah memiliki kekuasaan. Sejarah juga akan mencatat siapa yang ketika memiliki kesempatan, memilih menjadi manusia yang migunani.
Dan bagi masyarakat yang sedang lecet, bahkan babak belur menghadapi kehidupan, harapan paling penting bukanlah janji bahwa pertarungan akan segera selesai.
Harapan paling penting adalah adanya gagasan, kebijakan, dan keberanian yang membuat mereka percaya bahwa setelah berjalan jauh, kehidupan memang sedang menuju tempat yang lebih baik.
Itulah sebabnya tiga puisi Tegalan ini masih pantas dibaca hari ini: bukan karena ia ditulis pada 2016, tetapi karena pertanyaan yang dibawanya belum selesai dijawab.
Wartawan PanturaNews dilengkapi indentitas yang tertera pada box redaksi, jika terjadi pemungutan uang dalam peliputan berita. Hubungi Kantor Redaksi:Jl. Ayam No 29 Randugunting Kota Tegal atau E-mail:redaksi@panturanews.com atau HP:081575522283