Ilustrasi
PanturaNews (Tegal) - Bank Indonesia (BI) kantor perwakilan Tegal akan mengusung makanan tradisional nasi Ponggol, sebagai ikon dalam acara launching Gerakan Ekonomi Syariah (Gres) yang ditandai dengan jalan sehat pada Minggu 17 November 2013 di Balaikota Tegal.
Demikian disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Bandoe Widiarto, saat jumpa pers persiapan launching Gres, Jumat 15 November 2013.
Menurut Bandoe, Ponggol merupakan makanan khas warga Tegal yang sudah sangat merakyat. Ponggol yang merupakan nasi dalam kemasan daun pisang dengan lauk dominan tempe dan telur itu, adalah salah satu wujud produk Usaha Kecil Masyarakat Tegal dan sekitarnya.
“Kami telah memesan 1000 lebih ponggol untuk pengganti snack dalam acara jalan sehat nanti,” kata Bandoe.
Lebih jauh Bandoe mengatakan, pengusaha atau penjual Ponggol adalah wujud usaha kecil menengah yang patut mendapat perhatian serius dari program Gres. Mengenai Ponggol tersebut, pihaknya akan membuat informasi khusus untuk dilaporkan ke pusat.
Bandoe mengungkapkan, saat ini pangsa pasar perbankan syariah secara nasional terhadap perbankan baru mencapai 4,9 %. Namun demikian data BI pada Agustus 2013 menyebutkan, pertumbuhan perbankan syariah secara nasional selama 5 tahun terakhir, mencapai 41,6% dengan nilai asset Rp 228,86 Triliun dengan jumlah nasabah 18,02 juta orang.
Sedangkan di eks Karisidenan Pekalongan, untuk market share perbankan syariah se-eks karisidenan Pekalongan terhadap total perbankan yang ada pada periode September 2013 mempunyai asset sebesar 7,44 %, DPK sebesar 2,13 % dan pembiayaan sebesar 4,25 %. Untuk market share perbankan syariah di Kota Tegal terhadap perbankan di Kota Tegal
sebesar 8,61 %, DPK 5,60 % dan pembiayaan 9,09 %.
“Untuk itu melalui acara dan kegiatan Gres ini, kami mentargetkan agar semangat ekonomi syariah lebih digelorakan lagi, sehingga untuk market share se-eks karisidenan Pekalongan bisa melebihi dari 7 % atau minimal mencapai 10 %,” katanya.
Bandoe mengungkapkan, asset perbankan syariah di bulan September 2013 untuk Kota Tegal mencapai Rp 869,35 Miliar atau 49,53 % terhadap asset perbangkan syariah se-eks karisidenan pekalongan. Sementara pembiayaan mencapai Rp 822,65 Miliar atau 54,17 & terhadap pembiayaan perbankan syariah se-eks karisidenan Pekalongan dan DPK yang berhasil dihimpun sebesar Rp 361,19 miliar atau 32,66 % terhadap DPK perbankan
syariah se-eks karisidenan Pekalongan.
“Pertumbuhan indikator perbankan syariah di Kota Tegal meningkat siginifikan yaitu asset sebesar 51,01% (yoy), DPK 90,01 % (yoy) dan pembiayaan sebesar 50,57 % (yoy). Di eks karisidenan Pekalongan snediri saat ini terdapat 6 unit Bank syariah dan 4 Unit Usaha Syariah,” tegasnya.