Ilustrasi
PanturaNews (Tegal) - Aktifitas sekelompok waria (wanita-pria) yang menjajakan seks liar setiap malam di Utara Stasiun Kereta Api (KA) Jalan Kolonel Sudiarto, Kota Tegal, Jawa Tengah kian meresahkan warga. Ulahnya yang berdiri di sepanjang jalan sembari melambaikan tangan dan menawari seks oral maupun anal kepada setiap pengguna jalan, membuat sebagian warga sekitar geram.
Salah seorang warga Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Rudiyanto (37) mengaku geram dengan keberadaan para waria tersebut. Setiap dirinya melintas di Kolonel Sudiarto, selalu dihadang para waria yang masih belia dengan dandanan menor dan berpakain seronok.
“Mereka selalu berjajar di pinggir jalan dan mencari mangsa lelaki hidung belang untuk diajak kencan kilat. Kadang kencan kilat itu mereka lakukan di komplek pemakaman keramat Panggung, atau di pinggir jalan yang tidak tersorot lampu penengan jalan. Ulah mereka benar-benar menyebalkan dan bisa merusak moralitas,” tutur Rudi.
Dari pengamatan PanturaNews di lapangan, sejumlah waria yang mangkal di Jalan Kolonel Sudiarto rata-rata masih berusia antara 19 sampai 22 tahun. Dari penuturan salah seorang waria yang berhasil diwawancarai, Kamis 25 Februari 2010 malam, sebut saja Betty (38) asal Kelurahan Pasar Batang, Kabupaten Brebes, kegiatannya menjadi penjaja seks yang mangkal di komplek stasiun KA itu sudah dilakukan selama 8 tahunan.
“Saya sudah 8 tahun menjadi penajaja seks di sini. Pendapatan kami lumayan, dari hasil hubungan seks yang dilakukan secara oral maupun anal bersama lelaki hidung belang, bisa mencapai Rp 200 sampai Rp 300 ribu semalam. Kalau sudah larut malam ya saya pulang ke rumah di Brebes naik angkutan umum,” jelas Betty.
Menurut Betty, dalam kurun setahun terakhir, di lokasi tempatnya mangkal sudah banyak dipenuhi waria baru yang berasal dari Pemalang dan kota lainnya. Ada juga waria dari komunitas waria di Desa Balamoa, Kabupaten Tegal. Dikatakan, meski banyak saingan dalam mencari mangsa hidung belang, namun mereka tetap mengakui bahwa tiap-tiap waria mempunyai pangsa pasarnya sendiri-sendiri.
“Jadi setiap kami itu ada pelanggannya sendiri-sendiri. Kalau aku lebih suka melayani lelaki yang sudah bapak-bapak dari pada anak-anak remaja ABG. Alasannya ya suka saja. Kalau waria yang baru dan masih muda-muda itu kan lebih suka menggoda anak-anak lelaki remaja yang masih ABG, yang dalam istilah kami disebut brondong. Biasanya kalau kepada ABG mereka tidak pasang tarif, tapi kalau kepada yang sudah tua, tarifnya dari Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu,” uangkap Betty.
Menyikapi hal itu, Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Tegal, H Sumito SIP beberapa waktu lalu mengatakan, dinasnya akan melakukan razia pekat yang digelar secara rutin 10 kali dalam setahun.
“Kami peduli dengan semua keluhan warga termasuk keberadan waria penjaja seks liar yang dinilai sebagai penyakit masyarakat. Untuk itu kami berkoordinasi dengan semua komponen dari polisi, LSM, Lanal, Dnpom, menggelar razia rutin secara berkala. Kami mendukung Tegal Kota Sehat 2010, maka komitmen itu yang menggerakan hati kami untuk meminimalisir keberadaan sampah-sampah moral,” katanya.