Dewi Aryani menyerahkan bantuan bibit pohon dan benih padi MSP kepada para petani (Foto: Gaharu)
PanturaNews (Tegal) - Para petani harus mampu memproduksi pupuk organik cair sendiri, jika ingin lebih meningkatkan kwalitas dan kwantitas hasil pertaniannya saat tiba musim panen. Selain berhemat dalam cost produksi, pembuatan pupuk organik cair sendiri, juga dapat menciptakan kemandirian petani. Sehingga para petani tidak lagi bergantung kepada pupuk organik pabrikan yang harga jualnya melambung.
Hal itu ditegaskan Anggota Komisi VII DPR-RI Fraksi PDI Perjuangan, DR. Dewi Aryani, M.Si yang didampingi anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Tegal, Sugono Adinagoro, dihadapan 100 petani yang mewakili kelompok tani dari daerah pemilihan (Dapil) 6 (Kecamatan Margasari, Balapulang dan Pager Barang) Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, dalam kegiatan Deseminasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Gedung Paseduluran, komplek Kantor Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, Selasa 07 Mei 2013 siang.
Kegiatan yang mengusung tema Optimalisasi Pemanfaatan Iptek Untuk Pengembangan Potensi Daerah itu, merupakan bagian dari agenda reses masa persidangan III DPR RI. Dalam kegiatan tersebut, Dewi Aryani sengaja menggandeng Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk langsung memberikan pelatihan kepada para petani mengenai tata cara pembuatan pupuk organik cair yang ramah bagi lingkungan.
“Petani harus bisa membuat pupuk organik hayati sendiri. Petani mandiri adalah petani yang kreatif dan inovatif mampu menciptakan formulasi pupuk organik sendiri guna meningkatkan hasil pertaniannya. Dengan pupuk organik hayati ini, panen padi dapat meningkat dari 6 ton menjadi 12 ton per hektar. Pupuk organik ini juga ramah lingkungan karena diformulasi dari bahan-bahan mikroba lokal yang mudah mengurai unsur hara di dalam tanah,” terang Dewi Aryani yang juga Duta UI untuk Reformasi Birokrasi Indonesia ini.
Sementara Sekretaris Utama LIPI, Prof. Dr. Enny Sudarmonowati, mengatakan pembangunan ekonomi kerakyatan harus diimbangi dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dorongan kemampuan menguasai IPTEK, sangat diperlukan untuk melatih para petani dalam mewujudkan keberhasilan bercocok tanam yang menopang ketahanan pangan bangsa.
“Kami berharap, ilmu pengetahuan dan teknologi pembuatan pupuk organik hayati yang ditransformasikan kepada perwakilan para petani di tiga wilayah Kecamatan ini, dapat ditularkan ke petani-petani lain. Sangat perlu diingat bahwa penggunaan pupuk organik lebih menguntungkan daripada penggunaan pupuk yang mengandung zat kimia,” ujarnya.
Menyikapi hal itu, Bidang Penyuluh Badan Pengelolaan Penyuluhan Pertanian Peternakan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Tegal, Ir Tukino, sangat apresiatif terhadap pemberian pelatihan Iptek mengenai pembuatan pupuk organik hayati tersebut.
Menurut Tukino yang hadir mewakili Bupati Tegal itu juga mengatakan, kegiatan itu sangat selaras dengan tujuan Pemkab Tegal yang saat ini sedang mengawal peningkatan hasil pertanian, agar surplus beras nasional mencapai 10 juta ton di tahun 2014 mendatang.
Tukino sangat sepakat dengan penggunaan pupuk organik hayati untuk pertumbuhan padi dan tanaman lain. Pasalnya, kata Tukino, pupuk organik hayati benar-benar sangat ramah dengan lingkungan. Dengan cost produksi yang relative rendah, para petani tetap dapat meningkatkan kwalitas dan kwantitas hasil pertaniannya.
“Pupuk organik itu dapat mengembalikan struktur tanah agar tetap menjadi tanah yang subur, meskipun berkali-kali dicocok tanam. Unsur hara penyuplai vitamin tumbuhan tidak akan musnah, karena pupuk organik justru mampu mengembalikannya kepada posisi semula. Harapan kami, deseminasi dari LIPI ini bisa ditindak lanjuti di tahun berikutnya kepada kelompok tani di lain kecamatan. Dan pada akhirnya, seluruh petani di Kabupaten Tegal dapat memproduksi pupuk organik hayati sendiri,” tegasnya.
Pada kesempatan pelatihan itu, Dewi Aryani menyerahkan bantuan bibit pohon dan benih padi Mari Sejahterakan Petani (MSP) kepada perwakilan petani.