Senin, 07/01/2013, 06:51:09
Tiap Hujan, Ruang Kelas SD Pandasari Selalu Kebanjiran
-Laporan Zaenal Muttaqin

Meski kondisi ruang kelas kotor oleh lumpur, siswa SD Pandasari 01 tetap belajar (Foto: Zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Brebes) - Kondisi ruang belajar SD Pandasari 01 Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sangat menghawatirkan. Pasalnya, setiap kali hujan ruang belajar selalu banjir setinggi 10 sampai 15 centimeter dan meninggalkan lumpur.

"Tiap hujan selalu banjir dan menggalkan lumpur yang membuat ruang kelas kotor oleh lumpur," kata Kepala SD Pandansari 01, Tasir SPd kepada PanturaNews.Com, Senin 07 Januari 2013.

Menurutnya, kondisi teresebut sangat mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM), tiap kali hujan akan banjir yang mengakibatkan halaman dan ruang kelas kotor. Sehingga harus membersihkannya tiap pagi sebelum memulai KBM. "Banjir yang meninggalkan lumpur ini selalu terjadi sejak belasan tahun lalu," ungkap Tasir.

Dikatakan, ruang kelas yang menjadi langganan banjir dan kelumpuran terdiri atas ruang kelas 1,2,3 dan ruang Perpustakaan serta kantor. Akibat sering kebanjiran itu juga mengakibatkan bangunan yang usianya cukuo tua itu menjadi rapuh.

"Mebeler di ruang kelas dan kantor juga cepet rusak karena sering terendam air," ujar Tasir.

Kondisi itu terjadi karena letak bangunan sekolah berdiri di atas tanah yang lebih rendah dari sekitarnya, bahkan berada di daerah cegokan. Tiap kali hujan air dari berbagai penjuru mengalir ke halaman sekolah dan mengakibatkan banjir.

"Upaya membendung air dengan membuat tanggul juga tidak berarti selalu jebol dan air masuk ke lokasi SD," tutur Tasir.

Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Paguyangan, Budi Utomo MPd membenarkan kondisi tersebut. Manurutnya, satu-satunya jalan untuk mengatasi persoalan banjir dan lumpur di SD Pandansari 01 hanya dengan relokasi.

"Cara yang tepat dengan memindahkan lokasi atau relokasi ke tempat yang lebih tinggi," katanya.

Dikatakan, upaya relokasi sedang diupayakan tapi terkendala pada pengadaan tanah. Untuk relokasi dibutuhkan tanah seluas sekitar saru hektar dan itu sulit diperoleh selain harganya mahal dan jarang ada tanah akan dijual juga keterbatasan dana. "Sudah diupayakan untuk relokasi tapi sulit mendapatkan tanahnya," ungkas Budi.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita