Ilustrasi
PanturaNews (Brebes) - Sudah satu minggu ini pupuk bersubsidi sulit didapatkan di Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Hal itu membuat petani resah, karena tidak bisa memupuk tanamannya.
"Sudah satu minggu ini saya sulit mendapatkan pupuk urea bersubsidi, di toko-toko pengecer kosong," kata Budi (50), petani dari Kecamatan Sirampog, kepada PanturaNews, Jumat 06 Januari 2012 siang.
Petani kawatir tanaman padinya tidak bisa tumbuh normal atau bahkan gagal panen karena terlambat dipupuk. Jika hal itu benar-benar terjadi petani akan mengalami kerugian. "Usia tanaman sudah dua minggu, sudah saatnya dipupuk kalau tidak pertumbuhannya tidak akan bagus," kata Slamet (55), petani yang lainnya.
Menurut pengecer resmi pupuk bersubusidi, Cholison, kelangkaan pupuk karena masa peralihan dari pupuk Kujang ke pupuk Pusri. Kiriman pupuk dari distributor yang sebelumnya lancar kini juga tersendat.
"Mungkin karena masa peralihan, sampai sekarang saya belum dapat kiriman dari distributor," tuturnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh pengecer di Kecamatan Bumiayu, Bumnyamin. Selain belum ada pasokan dari distributor, informasinya harga pupuk bersubsidi harganya juga naik. Harga pupuk urea bersubsidi yang semula Rp 160 ribu per kwintalnya itu naik menjadi sekitar Rp 180 ribu per kwintalnya.
"Kami sudah dapat informasi akan ada kenaikan harga sekitar Rp 200 per kilogramnya, atau yang semula Rp 160 per kwintal nanti bisa lebih dari Rp 180 ribu per kwintalnya," terangnya.
Adanya kenaikan harga ini belum disosialisasikan ke petani, sehingga banyak petani yang keberatan. Adanya keberatan dari petani ini juga membuat pengecer belum berani memesan pupuk ke distributor.
"Petani banyak yang keberatan adanya kenaikan yang membuat pengecer masih mikir-mikir menstok pupuk," pungkas Bunyamin.