Selasa, 22/11/2011, 18:36:00
Dinding Ambrol, Pekerjaan Polder Tidak Sesuai Desain
JAY-Riyanto Jayeng

Ilustrasi

PanturaNews (Tegal) - Proyek pembangunan Polder di Dukuh Bayeman, Kelurahan Kaligangsa, Margadana, Kota Tegal, Jawa Tengah, yang dikerjakan oleh PT Duta Mas Indah, Semarang dengan menggunakan dana APBD Kota Tegal sebesar Rp 6 Milyar lebih, dinilai ada beberapa bagian pekerjaan yang penggarapannya menyimpang dari desain.

Demikian disampaikan Anggota Komisi III DPRD Kota Tegal, Abdullah Sungkar SE ST, pasca melakukan pengamatan dalam tinjauan lokasi bersama anggota Komisi III dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Selasa 22 November 2011.

“Dari hasil pengamatan di Polder Dukuh Bayeman, nampak ada pekerjaan yang tidak sesuai desain dan tidak ada data sondir atau laboratorium tanah. Pertanyaannya adalah apakah perhitungan konstruksi antara lain dimensi, geser, guling, dan permeabilitas tanah dilakukan dengan asumsi atau hasil laboratorium tanah?,” kata Sungkar.

Menurut Sungkar, konstruksi gravity wall sangat tergantung pada berat sendiri dan daya dukung tanah, serta konstruksi jepit pada struktur pondasinya. Kelangsingan dinding penahan tanah apakah sudah memperhitungkan tekanan tanah lateral, air dan uplift dan material yang dipergunakan.

"Kami rasa ada breberapa hal yang harus dijawab rekanan maupun DPU, yakni soal berat alat pemindahan tanah mekanik sudah dimasukkan dalam perhitungan konstruksi. Iitulah pertanyaan yang perlu dijawab, imbas retaknya dinding kolam retensi beberapa waktu lalu harus dijadikan entry point untuk review desain polder. Kami juga minta, agar DPU menghadirkan pihak ketiga dari perguruan tinggi untuk mengevaluasi kerja konsultan perencana dan rekanan," papar Sungkar.

Hal senada disampaikan Ketua Komisi III DPRD Kota Tegal, Drs HM Nursholeh MMPd. Menurut Nursholeh, pekerjaan PT Duta Mas Indah Semarang, selaku penggarap proyek Polder dinilai sangat mengecewakan sekali. Karena kualitas bangunan jadi pertanyaan besar. Pihaknya minta pembongkaran bukan hanya dilakukan pada titik dinding yang retak, tapi dinding yang miring juga harus ikut dibongkar. Karena ini proyek monumental, sehingga harus dikerjakan serius.

"Kami rasa retaknya dinding kolam retensi Polder harus jadi catatan DPU, agar dalam melaksanakan proyek monumental yang menghabiskan anggaran total Rp 6 miliar lebih jangan setengah-setengah. Tapi harus maksimal, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya," papar Nursholeh.

Kepala DPU Ir Gito Mursriyono, didampingi Kasie Pengairan DPU Teguh Widodo, mengatakan, pihaknya sudah menindak lanjuti saran konsultan perencana, atas evaluasi retak dan ambrolnya dinding kolam retensi Polder Dukuh Bayeman yang menghabiskan anggaran  Rp 3.426.808.000. Yakni, terkait kualitas mutu bahan utamanya pasir yang kurang bagus dan diminta ditindak lanjuti melalui uji mutu kualitas bahan melalui laboratorium.

"Karena sample material sudah kami kirim, sehingga tinggal menunggu hasilnya. Karena saran konsultan perencana, dinding kolam retensi yang retak harus dibongkar total. Maka kami juga minta rekanan untuk membongkar, selanjutnya  polder harus dibongkar dibawah pondasi dipasang crucuk. Hal ini karena, kondisi tanah jelek," kata Gito.

Menurut Gito, karena sudah ada evaluasi dari konsultan perencana, maka secara prinsip semua catatan dan sarannya harus dilaksanakan rekanan. Hal ini mengingat proyel polder bukan proyek biasa, tapi akan difungsikan selamanya. Sehingga kualitas proyek, harus benar-benar dijadikan catatan dan perhatian serius.

"Kami tak akan main-main, sehingga selain saran dan catatan konsultan perencana. Hasil uji lobaratorium harus dilaksanakan rekanan, dan kami akan memperketat pengawasannya," tuturnya.

Site Manager PT Duta Mas Indah Semarang, Ir Rochmandon, mengungkapkan, sebagai rekanan pihaknya akan melaksanakan semua catatan dan evaluasi konsultan perencana, sebagaimana disampaikan pengguna anggaran maupun Pejabat Pembuat Komitmen (PPKOM). Kesalahan yang mengajibatkan d inding polder retak, murni karena saat dilakukan pemadatan hujan deras dan alat berat terlalu dekat dengan dinding kolam retensi. Namun secara kualitas, pihaknya jamin sesuai dengan bestek maupun spesifikasi yang telah ditetapkan.

"Walupun ada keretakan dinding kolam retensi, tapi kami optimis pekerjaan bisa selesai tepat waktu. Yakni, maksimal tanggal 16 Desember 2011. Karena realisasi fisik sudah 70 persen lebih, ditambah barang-barang pabrikan, seperti pompa air, genset sudah siap dilokasi proyek. Soal kualitas bangunan kami jamin, bahkan semua cor kami menggunakan Teguh Raksa Jaya (TRJ) yang kualitasnya telah diuji. Memang penggunaan pasir, kami mencampur pasir Cirebon dan pasir lokal," tandas Rochmandon.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita