Dua wanita pekerja penyulingan tengah mengeluarkan bahan baku dari karung, karena sulit bahan baku usaha ini kini berhenti (Foto: Zaenal Muttaqin)
PanturaNews (Brebes) - Pengusaha penyulingan minyak nilam di Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sudah dua bulan ini terpaksa menghentikan usahanya. Pasalnya, bahan baku utamanya yaitu daun dilem sulit didapat.
"Dua bulan lebih usaha penyulingan kami tidak beroperasi, karyawan juga dihentikan karena tidak ada bahan baku," kata Ujang Muhaimin, pemilik penyulingan nilam dari Desa Terlaya, Bantarkawung, Jumat 04 Nopember 2011 siang.
Menurutnya, daun dilem sulit didapat sejak bulan Agustus dan pada September hingga kini sama sekali tidak bisa diperoleh. Hal itu karena musim kemarau dan dilem tidak bisa dibudidayakan. "Pohon dilem tidak bisa tumbuh karena kemarau," ujar Ujang.
Dikatakan, petani dilem saat ini baru mulai menanam dilem seiring dengan memasuki musim hujan. Selanjutnya tiga sampai enam bulan mendatang dilem yang ditanam petani itu baru bisa dipanen. "Paling cepat Februari tahun depan kami baru bisa mulai melakukan penyulingan," ucapnya.
Sejak mengalami kesulitan bahan baku, sempat beralih pada penyulingan daun cengkeh. Tapi itu tak lama karena seiring pergantian musim pohon cengkeh kini mulai trubus dan sulit juga mendapatkan daun cengkeh yang rontok. "Kalau daun cengkeh itu diambil dari daun yang rontok," tutur Ujang.
Meski kesulitan bahan baku, saat ini harga minyak nilam masih tergolong rendah, hanya Rp 435 ribu per kilogram. Harga sebesar itu cukup menguntungkan, karena rata-rata bisa memproduksi 20 kilogram setiap harinya.
"Setiap hari penyulingan kami yang memperkerjakan enam orang bisa memproduksi rata-rata 20 kilogram, tapi sekarang berhenti total karena tidak ada bahan baku tadi," pungkasnya.