Rabu, 26/10/2011, 09:25:19
Iklim Tak Menentu, Petani Harus Rubah Pola Tanam
ZM-Zaenal Muttaqin

Peserta SLI Kecamatan Tonjong foto bersama di Balai Desa Linggapura (Foto: Zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Brebes) - Perubahan iklim atau pemanasan global memberi dampak serius bagi sektor pertanian. Para petani mengalami kerugian, mulai dari kurangnya hasil panen hingga kegagalan panen. Menyikapi hal ini, petani dianjurkan untuk merubah pola tanam.

Demikian diungkapkan oleh Kordinator Program Pertanian Kecamatan Tonjong, Brebes, Jawa Tengah, Sarjiyono, saat memberi pengarahan pada peserta Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang digelar di Balai Desa Linggapura.

"Pemanasan global ini telah merugikan petani, karenanya harus disikapi dengan perubahan pola tanam," kata Sarjiyono, Kamis 27 Oktober 2011 pagi.

Pemanasan global yang diakibatkan oleh penggunaan gas karbon, banyaknya rumah kaca dan kebakaran hutan serta lainnya menjadikan iklim tidak menentu. Terjadi peningkatan suhu, radiasi dan musim yang tidak lagi teratur, sehingga berdampak pada pertanian, dan menyebabkan banyaknya peristiwa bencana alam.

"Kerugian bagi petani sangat jelas, cocok tanam semakin sulit dengan perubahan iklim yang tidak menentu itu," ujar Sarjiyono.

Menyikapi itu, peserta SLI yang berjumlah 25 orang yang semuanya petani itu diminta untuk melakukan pola tanam yang benar dan menggunakan bibit tanaman varitas unggul. Untuk pola tanam sebaiknya petani mengikuti pola dua kali tanam padi dan sekali palawija. "Pola padi-padi dan sekali palawija lebih tepat untuk menghindari kerugian akibat perubahan iklim yang tidak menentu," ucap Sarjiyono.

Kegiatan SLI merupakan progam Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Brebes yang bertujuan untuk pemberdayaan petani. Pemberdayaan dengan meningkatkan pengetahun itu nantinya diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraannya. "Ini program dari dinas, tutornya juga dari dinas dan pesertanya dari perwakilan kelompok tani yang ada di Kecamatan Tonjong," ungkap Sarjiyono.

Sementara itu, Camat Tonjong, Drs Hudiyono MSi menyambut baik adanya kegiatan SLI yang dilaksanakan setiap hari Rabu dengan 12 kali pertemuan itu. Diharapkan peserta bisa menyerap pengetahuan yang diajarkan oleh tutornya dan menerapkannya. "Agar petani meningkat kesejahteraanya, pengetahuan dari SLI itu hendaknya dipakai dalam bercocok tanam," katanya.

Selain itu, petani diminta juga untuk selalu menjaga kelestarian alam. Dalam penggunaan air untuk irigasi juga tetap menjaga kebersamaan terutama di musim kemarau. "Petani harus arif dan bijak dalam penggunaan air terutama musim kemarau, kebersamaan dan kerukunan harus dijaga," tandas Hudiyono.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita