Sekitar 500 pelajar dan pemuda lintas agama mengikuti perkemahan lintas agama. (Foto: Kuntoro)
PanturaNews (Brebes) - Kerukunan antar umat beragama perlu terus dirajut dengan jalan pembinaan yang lebih intensif, mengingat rongga-rongga keretakan umat makin menganga. Bahkan, perpecahan itu justru lebih dominan datang dari intern agama.
“Perpecahan antar umat beragama tidak parah, tetapi justru datang dari intern agama yang sering terjadi benturan,” ujar Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes, Drs H Mughni Labib MSi dalam jumpa pers usai pembukaan perkemahan pelajar dan remaja lintas agama di
Kompleks Islamic Center Brebes, Sabtu 2 Juli 2011.
Upaya merajut kembali simpul-simpul kerukunan, lanjutnya, dapat dilakukan melalui kemah pelajar dan remaja antar agama ini. Semua agama yang ada perlu mendapatkan pengayoman yang sama, sehingga tercipta Bhineka Tunggal Ika. “Makin rukun, makin kondusif yang tentunya menjadi harapan semua umat. Harapan rakyat, bangsa Indonesia,” tutur Mughni.
Hal senada diungkapkan Ketua Badan Kerja Sama Gereja-geraja (BKSG) Kabupaten Brebes, Pdt Henry Butarbutar STh M Min, yang memandang perlunya menjalin kerja sama antar umat beragama. Dan ini perlu dilakukan sejak dini sebagai akar pondasi masa depan.
“Pondasi yang kuat untuk kerukunan perlu di bangun sejak dini. Ya lewat perkemahan pelajar dan remaja saat inilah,” ujar Henry dengan logat Batak.
Kemah pluralisme antar pelajar dan remaja lintas agama, dibuka Gubernur Jawa Tengah yang diwakili Kepala Sub Bidang Ketahanan Seni dan Budaya, Agama dan Kemasyarakatan Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Provinsi Jawa Tengah, Dra Siti Fatimah Murniati MM.
Gubernur berpesan agar kita tidak terpengaruh hasutan teror. Juga untuk mewaspadai fanatisme buta, seks bebas dan bahaya Narkoba. Yang perlu lebih dikedepankan adalah menjunjung tinggi nilai sisi kemanusiaan, dengan menciptakan harmonisasi sosial yang toleran.
Pembukaan ditandai dengan menekan tombol sirine yang dihubungkan dengan mesin pembuka replika bola dunia dan sarang burung emprit. Ratusan burung emprit pun terlepas, sebagai simbol kebebasan berkreasi dalam kehidupan beragama di muka bumi.
Pembukaan juga dimeriahkan dengan penampilan seni tradisional kuntulan dari Desa Kebogadung Kecamatan Jatibarang Brebes, Calung dari MA Negeri Brebes 01 dan Barongsai.
Ketua Panitia Perkemahan, Akrom Jangka Daosat MSi dalam laporannya mengatakan, Kemah pluralisme diikuti sekitar 500 pelajar dan pemuda lintas agama se Kabupaten Brebes. Kemah digelar sebagai upaya merajut kebersamaan yang melibatkan seluruh pelajar dan pemuda lintas agama. Sebanyak 60 tenda perutusan dari 17 kecamatan dan 5 utusan lintas agama hadir dalam kesempatan tersebut. Yakni utusan Islam, Kristen, Katolik dan Budha. “Ternyata utusan dari agama Hindu tidak bisa hadir,” katanya.
Akrom menambahkan, melalui perkemahan ini diharapkan bisa tercipta interaksi aktiv dan toleransi yang tinggi diantara mereka. Sehingga Indonesia yang berbhineka tunggal ika, masing-masing individu tidak lagi mempertahankan ego pribadi tanpa melihat dunia heterogen yang
plural.
Perkemahan besar yang baru pertama kali di gelar di Indonesia ini melibatkan jajaran FKUB, Kantor Kesbangpolinmas, Kantor Kementerian Agama, Pramuka Kwartir Cabang 11.29 Brebes, SAR Kabupaten dan PMI Brebes.