Ilustrasi
PanturaNews (Brebes) - Meski memiliki resiko kerja yang sangat tinggi, namun kesadaran nelayan untuk mengasuransikan jiwanya masih sangat rendah. Bahkan dari jumlah nelayan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang mencapai 10 ribu jiwa, saat ini hanya sekitar 100 orang yang mengasuransikan jiwanya.
Namun demikian, hal itu tidak mutlak kesalahan para nelayan. Pasalnya, penghasilan yang terlalu minim membuat mereka enggan untuk mengikuti asuransi keselamatan kerja.
Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Brebes, Rudi Hartono, Jumat 01 Juli 2011 mengatakan, meski jumlah nelayan di wilayah Brebes tergolong cukup banyak, namun kesadaraan untuk mengikuti asuransi di lembaga asuransi yang ada masih tergolong sangat rendah. Hal itu bisa dibuktikan dari perbandingan jumlah nelayan yang mengikuti program asuransi dengan jumlah nelayan yang ada.
"Dari data yang ada, hanya sekitar 100 nelayan yang mengasuransikan jiwanya. Padahal jumlah
nelayan di Kabupaten Brebes mencapai 10 ribu orang. Artinya yang mengikuti asuransi hanya sekitar satu persen," jelasnya.
Rudi mengatakan, selain rendahnya pendapatan yang dimiliki oleh para nelayan, kepedulian para pemilik kapal untuk mengasuransikan para anak buah kapal juga sangat rendah. Padahal selama ini, para pemilik kapal merupakan orang yang paling banyak diuntungkan dari hasil tangkap ikan.
Ia mengaku, dari program asuransi yang sudah ada, para nelayan hanya dikenai premi sekitar Rp
10.000 tiap bulannya. Dari jumlah premi tersebut, nantinya para nelayan akan bisa mendapatkan jaminan sosial selama bekerja.
"Bahkan bagi mereka yang mengalami kecelakaan, bisa mendapatkan klaim asuransi mencapai Rp 40 juta," jelasnya.
Untuk itu, sebagai pengurus HNSI Kabupaten Brebes, dirinya menghimbau kepada para nelayan dan pemilik kapal untuk bisa mengasuransikan jiwanya melalui lembaga-lembaga asuransi yang ada.