Portal yang berfungsi otomatis membahayakan pengunjung rumah sakit. (Foto: Firga)
PanturaNews (Pekalongan) - Portal di gerbang Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kraton, yang membuka dan menutup secara otomatis dinilai membahayakan. Tak Cuma pasien atau pengunjung, sejumlah dokter yang bertugas di rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Pekalongan tapi berlokasi di wilayah Kota Pekalongan itu pun, merasa tak nyaman dengan cara kerja portal yang otomatis.
“Ada yang tak beres dengan sensornya. Belum lagi seluruh badan melewati portal, palangnya sudah keburu menutup. Akibatnya benda keras itu menimpa kepala. Untung saya tadi pakai helm kalau ndak benjut kepala saya,” ujar Wisnu, warga Wiradesa.
Kejadian serupa juga dialami pejalan kaki. Portal “agresif” itu tiba-tiba turun saat pejalan kaki tepat di bawahnya. Akibatnya tiga orang pembesuk itu meliuk berupaya menghindar. “Kalau pas apes kaca mobil bisa pecah. Siapa yang tanggung jawab,” tambah Wisnu.
Para penarik becak yang tiap hari mangkal di luar gerbang, mengaku nyaris tiap saat melihat “kegaduhan” akibat portal yang turun tanpa permisi. “Kalau motor seringkali yang jadi korban pemboncengnya,” ujar Durahman, penarik becak yang tiap hari mangkal di RSU dan dibenarkan oleh rekan rekannya.
Direktur RSUD Kraton, Dr Sutanto dihubungi tak berada di tempat. Sementara pihak Bidang Sarana dan Prasarana RSU setempat, menyatakan portal dipasang oleh pengurus Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Manunggal yang memborong lahan parkir di RSUD.
Ketua KPRI Manunggal, Yusdi Febrianto saat dihubungi membenarkan hal tersebut. Namun ia menyatakan tak tahu persis teknis sensor portal. “Portal dan pengelolaan lahan parkir atas saran dari DPRD,” ujar Yusdi, sembasri menambahkan pemasangan portal dilakukan oleh pihak ketiga.
Selain itu, sistem parkir yang wajib bayar tiap kali masuk juga dikeluhkan, karena tak jarang pemilik motor atau mobil harus membayar berkali-kali padahal dalam sehari harus bolak-balik ke rumah sakit. “Masa sih tiap kali keluar beli obat masuknya harus bayar lagi,” keluh Bambang yang anaknya dioperasi. Sehari untuk parkir saja ia harus keluar Rp 10.000.
Menanggapi keluhan itu, Yusdi membenarkan jika karcis parkir berlaku untuk sekali. “Untuk mereka yang terpaksa bolak-balik ke RSU, asal tak lebih lima menit meninggalkan areal parkir bisa bayar sekali,” ujar Yudi sekenanya.
Sementara dalam praktiknya, pengelolaan parkir di halaman RSU Kraton sendiri tampak sangat semrawut. Motor mobil terparkir seenaknya, sehingga menyulitkan pasien maupun keluarga untuk bergerak ke poliklinik. Begitupun pemilik motor yang terparkir di bagian “dalam” harus berusaha sendiri menyingkirkan motor lain yang menghalangi jalan keluar.
Hal ini karena petugas parkir yang ada enggan mengatur, merapikan dan membantu. Sejak dikelola koperasi para juru parkir hanya mendapat upah dari koperasi. Padahal dulu mereka yang mengelola, sehingga bisa mengatur lebih baik karena penghasilan para juru parkir juga lebih baik dibanding sekarang.
“Sekarang badan lelah tapi gak dapat apa-apa,” ujar seorang juru parkir yang direkrut oleh KPRI Manunggal.