Mencari rebon
PanturaNews (Tegal) - Harga jual udang kecil atau yang dikenal dengan rebon, salah satu bahan baku pembuat terasi di pasar ikan kawasan pelabuhan Suradadi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah anjlok. Akibatnya, sejumlah nelayan pencari rebon sangat kesulitan menutup modal.
Anjloknya harga jual tangkapan rebon itu ditengarai karena melimpahnya hasil tangkapan rebon yang dilakukan oleh hampir seluruh nelayan. Hal itu dikatakan salah seorang nelayan pencari rebon, Sokhibin (53) warga RT 03 RW 02 Desa Suradadi, Minggu 12 Juni 2011.
Sokhibin mengatakan, harga rebon setiap satu segon atau sekira 15 kilogram, hanya Rp 45 ribu. Setiap melaut, dirinya mampu menghasilkan rebon maksimal dua segon. Lantas jika dijumlah, maka hasil tangkapannya hanya Rp 90 ribu. Sementara untuk modal melaut, nelayan rebon ini mengaku menghabiskan uang untuk oprasional antara Rp 80 ribu - Rp 100 ribu. Jumlah itu, sudah termasuk solar dan makan siangnya selama di laut. Sedangkan harga sebelumnya, mencapai Rp 70 ribu persegon. Penurunan mencapai sekira 60 persen.
"Berangkat melaut jam lima pagi, dan pulangnya jam satu siang. Pendapatan kami sangat minim sekali," ujarnya.
Untungnya, lanjut Sokhibin, dirinya mendapat hasil tangkapan jenis ikan laut lainnya. Seperti cumi-cumi, ikan kecil, dan sebagainya meski jumlahnya sedikit. Jika dirata-rata setiap harinya, bapak dari tiga anak ini, hanya memperoleh uang sebanyak Rp 25 ribu – Rp 50 ribu dari hasil tangkapan keseluruhannya. Jumlah itu digunakan untuk keperluan kehidupan keluarganya, baik uang jajan maupun sekolah anak-anaknya.
“Selama harga rebon masih belum stabil, saya hanya mengandalkan dari hasil tangkap ikan lainnya,” pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, salah seorang Tengkulak Rebon, Tariyah (55) mengemukakan, harga rebon masih bisa turun lagi jika musim hujan tidak berhenti. Harga bisa mencapai Rp 35 ribu persegon.
“Musim rebon di tahun ini termasuk lama. Biasanya musim rebon hanya di bulan pertama sampai ketiga,” katanya.
Harga rebon akan berubah setelah diolah menjadi terasi. Menurutnya, harga bakal lebih tinggi lagi. Yakni, setiap satu kilogramnya mencapai Rp 15 ribu – Rp 20 ribu. “Tergantung jenis trasinya. Kalau bagus, bisa mahal,” imbuhnya.